RoryHidayat">http://www.dreambingo.co.uk/RoryHidayat">

Cari Blog Ini.......

Mengenai Saya

Foto saya
Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
I just ordinary boy, but I,m extraordinary boy

Total Tayangan Laman

Rory Hidayat

Rory Hidayat
yang punya blog ni...yang Nulis...

Pengikut

Sabtu, 27 November 2010

Mengapa Gunung Merapi Meletus Sekuat Itu?


Letusan Eksplosive Merapi dalam 100 tahun terakhir

Wedhus gembel dalam bahasa latin ditulis nuees ardentes....adalah guguran lava pijar disertai awan panas yang meluncur menuruni lereng gunungapi. Kebanyakan frekuensi nuees ardentes (wedhus gembel) jarang tererupsi, tetapi Gunungapi paling aktif di dunia, Gn. Merapi di perbatasan Magelang-Yogya secara teratur menunjukkan frekuensi wedhus gembel yang cukup sering. Ledakan wedhus gembel biasanya kurang eksplosif dan kurang berbahaya, karena jangkauannya yang tidak terlalu jauh.



Gambar 1. Letusan tipe merapi dengan wedhus gembel sebagai pencirinya, klik untuk perbesar

Wedhus gembel terus dilepaskan dari bawah kubah lava (lava dome) yang terbentuk di puncak Merapi. Kubah lava terbentuk akibat adanya proses pembekuan yang cepat dari magma yang naik ke kepundan atau puncak gunungapi. Kubah tersebut makin membesar seperti membengkak. 'Tonjolan' kubah di atas sisi barat gunung Merapi seperti menyumbat, lalu kulit kubah lava bagian terluar runtuh dan hancur menuruni lereng, yang menyebabkan tekanan pada relief lereng diikuti pelepasan wedhus gembel yang tiba-tiba. Posisi topografi kubah Merapi menentukan frekuensi letusan wedhus gembel. Jika kubah itu bertahan, mungkin akan tumbuh lebih besar dan hanya akan dapat dihancurkan oleh tekanan yang lebih kuat dari dapur magma, tetapi biasanya tipe Merapi memiliki tekanan yang kecil jika dibandingkan dengan erupsi nuees ardentes tipe Pelean. Letusan pada tahun 2006 lalu memiliki kecenderungan tipe Pelean dengan jarak luncuran wedhus gembel mencapai belasan kilometer.


Gambar 2. Letusan tipe Pelean yang memiliki energi lebih kuat dari tipe Merapi juga bisa menghasilkan luncuran wedhus gembel, klik untuk perbesar

Namun tampaknya letusan Gunung Merapi pada tanggal 3 – 4 November 2010 menunjukkan perubahan ke arah tipe letusan Pelean, tetapi sedikit lebih eksplosif dari tipe Pelean, ditandai dengan ketinggian erupsi vertikal yang mencapai 4 km, sementara jangkauannuees ardentes yang menuruni lereng Merapi mencapai radius 15 - 20 km dengan kecepatan luncuran mencapai 200 km/jam (setara kecepatan mobil Formula-1). Sementara abu volkanik yang terbawa angin mencapai radius ratusan kilometer (mencapai Jawa Barat di Tasikmalaya, Ciamis, Garut, sebagian Bandung, sebagian Bogor, Bekasi sementara di Jawa Tengah mencapai Klaten, Purworejo, Banyumas, Boyolali). Letusan yang eksplosif dan kuat sebenarnya bukan karakter sebuah gunungapi tipe Merapi, letusan kuat dan eksplosif seperti pada tanggal 3 - 4 November 2010 bisa saja menghancurkan kubah lava yang ada. Jika benar, hancurnya kubah lava semoga dapat mengurangi hambatan tekanan akibat akumulasi gas magma di perut Merapi, dengan demikian energi erupsi menjadi berkurang.....wallahualam


Berikut beberapa klasifikasi tipe letusan gunungapi di dunia:


Gambar 3. Tipe-tipe letusan gunungapi di dunia, klik untuk perbesar



Foto 1: wedhus gembel menuruni lereng Merapi, seperti karakternya, klik untuk perbesar (foto detik.net)



Foto 2: Letusan/erupsi eksplosif Merapi yang membentuk kolom vertikal setinggi >4 km dalam 100 tahun terakhir pada tanggal 4 November 2010, klik untuk perbesar (foto diambil dari Klaten oleh James Wray)

Referensi: http://library.thinkquest.org/C0112681/Eng/Normal/Eruption/Eruption_Styles/Pelean.htm

Info lebih lanjut dari beberapa pakar senior bisa disimak di:

http://www.detiknews.com/read/2010/11/08/160358/1489557/159/dr-andang-bachtiar-merapi-ada-faktor-penunjaman-lempeng-samudera?nd991107159

dan:

http://www.detiknews.com/read/2010/11/05/221229/1487840/158/dr-eko-teguh-kandungan-gas-penyebab-tipe-letusan-merapi-berubah

Geological Application on Petroleum Exploration


Sektor Hulu Dunia MIGAS

Tiga (3) Kesalahan Umum Geologist dalam Evaluasi Source Rock

Seorang geologist sering melakukan evaluasi source rock sebagai bagian dari rangkaian kegiatan eksplorasi migas. Namun sering dari mereka para geologist - terutama junior geologist - memiliki pemahaman yang kurang tepat dalam evaluasi dan interpretasi analisa source rock.

3 kesalahan umum yang sering dilakukan geologist dalam evaluasi source rock adalah:
1. High Total Organic Carbon (TOC) dianggap selalu mencerminkan “Good Source Rock”,
2. Rock eval data dianggap sudah mencerminkan tipe/jenis kerogen dalam source rock,
3. Data vitrinite reflectance selalu dicerminkan sebagai tingkat kematangan source rock, atau di-interpretasikan telah terjadi pembentukan hidrokarbon.

1. High Total Organic Carbon (TOC) dianggap mencerminkan “Good Source Rock”
Meskipun sebuah sample batuan dianggap sebagai batuan induk yang baik (good source rock) serta memiliki nilai TOC yang besar (High TOC), tidak semua material organik yang terkandung memiliki sifat yang sama. Beberapa material organik mungkin dapat menghasilkan minyak (oil), beberapa membentuk gas, dan beberapa lainnya bahkan tidak menghasilkan apapun. (Tissot et al., 1974).

Material organik yang menghasilkan hidrokarbon tidak hanya memiliki unsur karbon saja, namun haruslah berasosiasi/terikat dengan unsur hidrogen. Banyak geologist beranggapan sebuah sample yang unsur pembentuknya didominasi oleh karbon akan dianggap selalu sebagai “Good Source Rock”, mereka lupa dengan unsur hidrogen juga sebagai pembentuk hidrokarbon. Kenyataannya adalah makin banyak hidrogen yang terikat dengan karbon justru akan makin banyak menghasilkan hidrokarbon. Untuk itu kita membutuhkan sebuah indikator untuk mengetahui jumlah hidrogen yang terkandung dalam suatu material organik. Indikator kandungan hidrogen dapat diperkirakan secara langsung melalui beberapa metode diantaranya Rock-Eval pyrolysis. Rock-Eval pyrolysis dapat memperkirakan kandungan hidrogen dalam suatu material organik, dikenal sebagai nilai S2. Kombinasi plot antara nilai TOC dan nilai S2 saat ini merupakan metode terbaik dalam mengetahui kualitas material organik yang berasosiasi dengan seberapa banyak kandungan hidrogen dalam material organik tersebut. Jadi jika kita memiliki nilai S2 tinggi ( high S2 value ) sudah pasti mencerminkan batuan induk terbaik (better source rock) yang akan menghasilkan lebih banyak hidrokarbon.

2. Rock eval data dianggap mencerminkan tipe/jenis kerogen dalam source rock
Tiga tipe kerogen yang sudah kita ketahui adalah:
- Tipe I, memiliki rasio atom H/C tinggi dan rasio atom O/C rendah, berasal dari lingkungan lakustrin/danau, menghasilkan jenis hidrokarbon “waxy oil”
- Tipe II, memiliki rasio atom H/C menengah dan rasio atom O/C juga menengah, berasal dari material autokhton yang diendapkan di lingkungan marine/laut, dalam kondisi reduksi, menghasilkan jenis hidrokarbon “naphthenic oil”
- Tipe III, memiliki rasio atom H/C rendah dan rasio atom O/C juga tinggi, berasal dari material terestrial dan/atau material aquatik yang diendapkan dalam lingkungan dalam kondisi oksidasi, menghasilkan jenis hidrokarbon “gas”. (Tissot et al., 1974).

Tissot dan Welte, 1984 menambahkan lagi satu tipe kerogen, yaitu:
- Tipe IV, memiliki rasio atom H/C sangat rendah dan rasio atom O/C yang bervariasi, berasal dari material organik hasil alterasi dan/atau hasil oksidasi, kerogen tipe ini tidak menghasilkan jenis hidrokarbon apapun.

Grafik rasio H/C dan O/C plot sering kita kenal sebagai Diagram Van Krevelen. Diagram Van Krevelen sejatinya berasal dari hasil studi coal macerals, yang menggambarkan perubahan komposisi tipe kerogen dikaitkan dengan kematangan (maturity).

Pada dasarnya sangat jarang sebuah source rock mengandung hanya satu tipe kerogen. Sebagian besar sedimen mengandung dua atau lebih campuran tipe kerogen (mixed kerogen). Plot data biasanya berada atau masuk ke dalam dua zona tipe kerogen, misal Tipe I atau Tipe II bercampur dengan Tipe III atau Tipe I, II, III bercampur dengan Tipe IV. Kemunculan campuran tipe kerogen umumnya selalu ada dalam ploting nilai H/C dan O/C dalam diagram Van Krevelen, hal ini akan menyulitkan interpretasi data rock eval secara pasti.


Gambar: Tipikal sebaran data hidrogen dan oksigen indeks dari source rock yang diplot ke dalam diagram Pseudo Van Krevelen.

Solusi terbaik untuk interpretasi campuran tipe kerogen dari data geokimia adalah dengan menggunakan metoda Pyrolysis-Gas Chromatograph (PGC). Grafik PGC biasanya menampilkan gas chromatograph = C15 dari hasil pembacaan respon detektor terhadap waktu. Setiap tipe kerogen akan menghasilkan grafik yang khas yang cukup bisa membedakan masing-masing kerogen.



Gambar: Contoh representatif hasil analisa Pyrolysis-Gas Chromatograph (PGC) untuk sampel kerogen tipe I, II dan III. Untuk kerogen tipe IV biasanya agak lambat atau sedikit bereaksi atau bahkan tidak muncul signal reaksi.

3. Data vitrinite reflectance selalu dicerminkan sebagai tingkat kematangan source rock, atau di-interpretasikan telah terjadi pembentukan hidrokarbon.
Vitrinite adalah sebuah tipe partikel kerogen dari gel humic yang berasal dari zat dinding sel lignin-selulosa dari tanaman tingkat tinggi (Teichmuller, 1989). Vitrinite merupakan bagian komponen dari batubara, dan reflectance dari partikel vitrinite pertama kali diobservasi makin meningkat sejalan dengan bertambahnya waktu dan temperatur dalam sebuah pembentukan batubara.

Setelah vitrinite reflectance dikenal sebagai salah satu komponen kerogen batuan induk (source rock), peningkatan sistematik kandungan vitrinite reflectance selalu dikaitkan dengan sejarah pembentukan hidrokarbon dalam batuan sedimen.

Vitrinite reflectance umumnya diukur berdasarkan penyebaran pertikel secara acak dalam sebuah konsentrat kerogen. Nilai rata-rata dihitung dari penyebaran pertikel vitrinite dari tiap-tiap sample dan dinyatakan sebagai presentase reflectance dalam rendaman minyak? (oil immersion), dikenal sebagai %Ro. Nilai %Ro ini sering di plotkan bersama nilai kedalaman linier (linier depth), yang menghasilkan sebuah tren garis linier.

Interpretasi pembentukan hidrokarbon dari source rock umumnya dikenal sebagai berikut (Dow, 1977 and Senftle and Landis, 1991):

Oil-Prone Generation
Generation Stage Ro(%)
Immature < 0.6
Early oil 0.6 – 0.8
Peak oil 0.8 – 1.0
Late oil 1.0 – 1.35
Wet gas 1.35 – 2.0
Dry gas > 2.0

Gas-Prone Generation

Generation Stage Ro(%)
Immature < 0.8
Early gas 0.8 – 1.2
Peak gas 1.2 – 2.0
Late gas > 2.0


Biasanya seorang geologist langsung plot nilai %Ro versus kedalaman lalu dianggap pada kedalaman tertentu mulai terjadi pembentukan minyak (top oil window), biasanya pada 0.6% Ro. Kemudian bisa diinterpretasikan pula kedalaman saat peak oil, late oil dst.

Namun apakah nilai plot tersebut mencerminkan tren kematangan saat ini? Atau bagaimana jika terdapat kemungkinan kondisi geologi tertentu yang bisa mengubah interpretasi tersebut? Misalnya jika terdapat bidang ketidakselarasan (unconformity) dalam lapisan sedimen akibat proses pengangkatan (uplift) dan erosi?

Untuk membuat interpretasi tren tingkat kematangan harus juga memperhatikan sejarah penimbunan sedimen (burial history), Katz et al., 1988; Law et al., 1989


Gambar: Dua (2) tipe sejarah pengendapan dikaitkan dengan tingkat kematangan vitrinite refelctance. A) Sejarah pengendapan berlangsung terus hingga ”present day”. Sehingga vitrinite reflectance di ”anggap” matang pada level saat ini. B) Sejarah pengendapan dengan permukaan “unconformity”, yang mengindikasikan bahwa tingkat kematangan maksimun dari vitrinite reflectance tercapai sebelum terjadi pengangkatan/tektonik/uplift.

Pembentukan hidrokarbon juga tergantung pada sejarah waktu dan temperatur serta tipe kerogen dalam source rock.

Jadi, vitrinite reflectance hanya bisa dipakai sebagai indikasi kemungkinan adanya pembentukan hidrokarbon dan digunakan juga untuk menentukan tipe hidrokarbon yang terbentuk, tetapi tidak bisa secara langsung dipakai sebagai indikasi kapan hidrokarbon mulai terbentuk atau berapa banyak hidrokarbon yang sudah terbentuk.


Dirangkum dari :
Three common source rock evaluation errors made by geologist during prospect or play appraisals.
by Harry Dembicki Jr
AAPG Bulletin, V. 93, No 3 (March 2009), pp 341-356

Bencana Sodom dan Gomorah dalam Logika Sain Geologi

Dalam kehidupan sosial manusia terdapat beberapa hal yang sering bertentangan antara sains dan hal penciptaan/kejadian. Paham agama yang menganut penciptaan alam atau suatu kejadian sebagai hal yang bersifat ”dogma” dan menganut sistem ”penyamarataan”, diterima dan disetujui begitu saja, dianggap benar, tanpa disertai pemikiran empiris berikut pembuktian. Namun banyak hal dalam kitab suci yang seiring dengan waktu bisa dibuktikan melalui sains, seperti pembentukan gunungapi dan proses terjadinya gempa. Demikian pula dengan bencana Sodom dan Gomorah yang terkenal itu. Cerita mengenai Sodom dan Gomorah dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil adalah kisah dua kota yang namanya sangat identik dengan dosa, kemaksiatan, kemerosotan moral. Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka yang tinggal di dua kota itu menjadi perumpamaan tentang degradasi moral dan keimanan.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi."(QS Huud ayat 82)

Dua kota ini, Sodom dan Gomorah ada di ujung selatan Laut Mati (Sedom/Bahrat Lut) di wilayah sengketa Israel-Palestina dan Yordania saat ini. Di ujung barat-daya laut ini sekarang ada sebuah pegunungan bernama Usdom (Har Sedom/Jabal Usdum). Penggalian arkeologi tahun 1924 menemukan sisa-sisa kehidupan Zaman Perunggu Tengah (2000-1500 BC) yang prolific, lima mata air tawar, dan barisan benteng dengan banyak sekali peninggalan kebudayaan, begitu kayanya sehingga sering ditulis "like the garden of God" dengan perhitungan umur/dating absolut 2500-2000 BC. Berdasarkan itu, para ahli memutuskan bahwa Sodom dan Gomorah terletak di ujung selatan Laut Mati, terkubur dalam perairan dangkal di selatan Tanjung Al Lisan.

Dead Sea/Laut Mati (Yam Ha-Melah/Al Bahr Al Mayyit) dibatasi oleh Pegunungan Judea ke barat dan Plato Transyordania ke timur. Sangat kontras kedalamannya dengan 400 m di bagian utara dan makin mendangkal ke selatan sampai hanya 4 meter saja di tempat dimana diduga Sodom dan Gomorah terkubur.

Data geologi menunjukkan sesuatu yang menakjubkan. Laut Mati adalah tepat merupakan transform boundary terhadap Arabian Plate dalam hubungannya dengan Lempeng Afrika dan Eurasia. Bisa dipastikan, rift valley (lembah yang membuka) dan strike-slip fault(patahan gerak mendatar) membentuk cekungan Laut Mati. Lebih ke selatan lagi, kita akan takjub, ternyata Laut Mati dan Sungai Yordan yang mengalirinya adalah ujung utara sistem retakan di Bumi yang sangat terkenal: East African Rift Valley!! Memanjang dari Sungai Zambesi di Afrika Timur ke Laut Merah ke Sungai Yordan. Gambar 1 (Lihat juga entry saya sebelumnya tentang Rifting di Afrika Timur).


Saat Lempeng Arab bergerak ke timur, Laut Merah membuka dengan mekanisme incipient sea floor spreading atau dasar laut yang pecah-membuka. Ke arah utara, rifting Laut Merah bercabang dua splay, ke barat-laut membentuk Teluk Suez, ke timur-laut membentuk Teluk Akaba-Laut Mati-Sungai Yordan. Rift Teluk Suez kemudian aborted(mati), seperti aulacogen berhubungan dengan collision African Plate vs. Anatolian Plate, sementara Teluk Akaba-Laut Mati-Yordan aktif.

Bisa diyakini, bahwa Laut Mati adalah cekungan akibat sesar tarikan jenis pull-apart basin berbentuk rhombohedral, merupakan blok yang tenggelam diapit dua patahan/sesar besar, yaitu Sesar Moab dan Sesar Yudea. Air dari Laut Mati tidak keluar ke Teluk Akaba karena sebuah tinggian Dataran Tinggi Negev. Endapan sedimen di sekitar Laut Mati terdiri atas endapan khas Timur Tengah: gipsum, rock-salt,clay, marl, evaporite, karbonat, lempung tebal. Endapan aspal ditemukan di mana-mana dan sejak zaman dahulu telah biasa digali dari sumur untuk memperolehnya.


Bencana di Sodom dan Gomorah, berdasarkan data Kitab Suci, arkeologi, dan geologi, adalah sangat mungkin karena adanya gempa di jalur patahan jenis strike-slip fault (patahan gerak mendatar) serta keluarnya mud-volcano (seperti lumpur panas Sidoarjo). Sebuah gempa membentuk vertical wrench fault yang memecahkan/membocorkan tutupan lumpur bertekanan tinggi (sealing overpressured shales) di perut bumi yang plastis danbuoyant. Release tekanan itu mengekspulsi pore fluids, air, minyak, gas dan semua materi di sekitar Teluk Mati termasuk garam dan aspal. Semuanya keluar ke permukaan!!

Di dekat patahan/sesar, lempung/clay menjadi liquefied dan buoyantdan akan ter-ekstrusi (keluar) melalui zona rekahan patahan/sesar sebagai mud diapir dan mud volcano, muncul ke permukaan lengkap dengan material ekstrusinya. Sebuah letusan mud volcano bisa sangat katastrofik/merusak. Letusan mud volcano di Waimata Valley Selandia Baru bisa mengerupsi 100.000 ton viscous mud hanya dalam waktu sejam. Banyak mud volcano di Timor ('poton' mereka menyebutnya) benar-benar mengeluarkan api dan gelegar petir. Sebuah poton besar di Pulau Kambing Utara Timor sulit membedakannya dengan sebuah gunungapi magmatis.


Begitulah, saat subuh 4.000 tahun yang lalu, Allah SWT yang sudah murka melihat kemaksiatan, kejahatan moral penduduk Sodom dan Gomorah, menciptakan bencana geologi di sekitar Laut Mati untuk memporakporandakan, menggulingkan, membolak-balikkan (dengan gempa) dan membakar kota ini menghujaninya dengan batu, lumpur, api, belerang, aspal, dan garam lumpur (dengan letusan gununglumpur/mud volcano). Istri Luth yang masih berat hati meninggalkan Sodom dan Gomorah, tewas dalam pelarian, tubuhnya mengerak tertutup garam lumpur. Sementara Nabi Luth a.s dan pengikutnya selamat.

Di selatan Laut Mati itu, banyak pilar garam, sisa endapan erupsi, dan orang-orang di sana menyebutnya dengan istilah "istri Lot/Luth". Surat Hud Juz XII ayat 69-83 di Al Qur'an dan Kitab Kejadian 19 di Alkitab (Bible) menceritakan kejadian itu dan sains geologi tampaknya berhasil membuktikan kebenaran logikanya.

Banyak sekali dari kalangan sains berusaha melakukan pembuktian berkenaan dengan pemahaman penciptaan atau kalam kitab suci lewat teori empirik. Dan tampaknya lafal ”Kun Fayakun” tidak sekedar ”Jadi! Maka Jadilah!”, selama manusia masih memiliki akal dan logika, semua kejadian di alam fana ini tampaknya akan bisa dijelaskan melalui metode empirik dan/atau logika sains. Contoh lain adalah teori tentang pembentukan alam semesta - berikut bumi sebagai planet tempat manusia.

Menurut kitab suci (Al-Quran dan Bible):
Bumi terbentuk dalam waktu 6 hari”. (Al-A’raf 54, Al-Hadid 4, Yunus 3, Huud 5, Al-Furqan 59).

Menurut kitab geologi :
Batuan tertua di bumi dan batuan meteorit 4,6 x 1.000.000.000 tyl. berdasarkan data pertanggalan radioaktif unsur Uranium --> bahan yg dianalisa sudah dalam bentuk batuan/padat --> Pertanyaannya: Bagaimana dan kapan batuan ini terbentuk? Bagaimana prosesnya?

Pembuktian empirik melalui proses waktu yang cukup lama, diawali dari reaksi kimia dalam bentuk gas, dengan temperatur dan tekanan tinggi berubah menjadi larutan/cair pijar dan ketika terjadi penurunan tekanan dan temperatur melalui proses pembekuan berubah menjadi padat, ketika dilakukan perhitungan umur absolut (dating) menghasilkan umur fasa padat 4,6 x 1.000.000.000 tyl. Jadi lama proses dari reaksi kimia (gas) menjadi padat adalah 4,6 x 1.000.000.000. Sementara jika dikaitkan dengan waktu pembentukan bumi sebagai 6 hari waktu Tuhan. Jika 4,6 x 1.000.000.000 kita anggap sebagai waktu Tuhan maka masih ada selisih 1,5 x 1.000.000.000 waktu Tuhan. Berarti sebelum bumi mencapai masa padatnya sangat mungkin terdapat fasa lain, yaitu fasa gas dan cair, beberapa ahli berpendapat sebelum mencapai fasa padat bumi melalui fasa gas dan cair dahulu. Jika kita kaitkan dengan “angka waktu Tuhan” :~ 1,5 x 1.000.000.000 tahun adalah merupakan masa bumi masih berupa fasa gas dan cair. Maka, (4,6 x 1.000.000.000) + (1,5 x 1.000.000.000) = 6 x 1.000.000.000 . Jadi, 6 hari waktu Tuhan = 6 x 1.000.000.000. Wallahu alam.
Demikianlah salah satu upaya manusia dalam mencari kebenaran melalui logika sains.

Masih banyak hal-hal lain yang berkenaan dengan hal penciptaan dalam kitab suci (agama) yang masih belum banyak terkuak melalui metode sains empirik. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa berusaha untuk memahami semua ciptaan-Nya.

Semoga bermanfaat menambah keimanan kita bahwa kitab suci itu is really truly truth!!


Sumber: Kompilasi dari Tulisan Awang Satyana, IAGI, Mailing List dan sumber lainnya.




RORY HIDAYAT BERJANJI AKAN SELALU MENJADI GEOLOGIST YANG BELAJAR DARI ALAM YANG DICIPTAKAN TUHAN DENGAN SEGALA PROSESNYA,MENGAGUMI KEBESARAN TUHAN DAN TAAT PADANYA.....




ALLAHU AKBAR.....!!

Special For Mom : Pesona Potretmu....




Letih terlihat diwajah yang tua itu....
Tertidur pulas dalam alunan gelap malam......
Dibalik senyummu teduhkanku.....
Terbayang potret kala engkau masih muda.....
Ajarkan sebuah kata cinta dalam hidup......
Kekuatan kasihmu nyata pulihkan jiwaku yang kadang goyah......


Waktu cepat bergulir.....
Sisakan banyak kisah......
Dia yang kau cintai tlah lama meninggalkan dirimu sendiri.......
Namun tetap kau berdiri tegak pada dunia.......

Pesonamu masih jelas kurasa hingga kini......
Menemani hingga ku dewasa........
Derai airmata dan pengorbananmu takkan tergantikan......
Terima kasih ibu.....


We all love u..

Yogyakarta November 27th 2010..

Jumat, 26 November 2010

Rangkuman Mata Kuliah Stratigrafi Analisis (Semester 5)






RANGKUMAN STRATIGRAFI ANALISIS




STRATIGRAFI ANALISIS : klasifikasi suatu tubuh batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.




MAKSUD :
•Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
•Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.


TUJUAN :
•Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:
•-ruang : Paleogeografi
•-waktu : sejarah geologi.

Asas stratigrafi :
•uniformitarianism
•horizontality
•superposisi
•cross cutting relationship
•principle of faunal succession

Stratigrafi analisis meliputi:
•penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution

case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
•lithostratigraphic
•lithodemic
•magnetostratigraphic
•biostratigraphic
•pedostratigraphic
•allostratigraphic

dibedakan berdasar umur:
•geologic time
•chronostratigraphic
•geochronologic
•diachronic
•geochronometric
•polarity chronologic
•polarity chronostratigraphic

Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang memiliki singkapan yang penting.


Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column

FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.



LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian yang lain.

FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.

Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.
Pengertian pembentukan batuan secara genetik.
Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi

NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.

SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.

Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.

SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim, perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta

DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya penyemenan
-rekristalisasi

AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien karena arus sungai yang memotong.

SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35
-baik 0,35-0,5
-buruk 0,5-1
-sangat buruk >2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.

Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds

Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.

STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan. Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.

HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik akan tenggelam.

ENERGI LEVEL:
-Flow cond’n ---open fabrik dan closed fabirk.
-Angularity---policyclicity.

Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.

BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal (dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.

MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.

FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.

STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya pada setiap unit waktu.

STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu tergantung pada kepatannya.

GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika

FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :
-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate

PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.

SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.

WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.

COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan –progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line
D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi
D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin
Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach.

FLUVIAL INCISION:
-Proses pemotongan profil.
-Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium.
-Relative sea level drop dapat merubah equilibrium.
-faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil:
-tektonik
-relative sea level drop
-discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi
-sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.
-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonik—fluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level

COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.

EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan kecepatan subsidence/uplift.

RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.

RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.

ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.

SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
-mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
-selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
-batasc sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

AGRADASIONAL :
stacking pattern dimana parasequence yang progresif lebih muda sudah diedapkan satu di atas yag lainnya tanpa adanya pergeseran lateral yang berarti apakah ke arah daratan atau ke arah cekungan. Stacking pattern ini terjadi apabila kecepatan accomodation kira-kira sama dengan kecepatan pengendapan.

BACKSTEPPING :
adalah stacking pattern dimana setiap parasequence yang progresif lebih muda sudah diendapkan lebih jauh ke arah daratan. Walaupun parasequence individu ini prograde dan mendangkal ke arah atas, tetapi suatu backsteeping stacking pattern secara menyeluruh lebih dalam ke arah atas. Backsteeping stacking pattern terjadi apabila kecepatan accomodasi lebih besar daripada kecepatan pengendapan. Istilah retrogradasional biasa digunakan sebagai pengganti backsteeping, namun retrogradasional menunjukkan :
•mundurnya garis pantai akibat erosi.
•progradasional ke arah daratan.
Karena itu retrogradasional tidak sama dengan backsteeping.

SYSTEM TRACT :
terdiri dari seluruh sistem-sistem yang sama umurnya yang terjadi berdekatan satu sama lain, dan diendapkan selama suatu segmen sea level curve yang tertentu. Didefinisikanberdasarkan :
•parasequence dan parasequence set stacking patterns.
•stratal geometry dari bidang-bidang batasnya.
•posisinya di dalam suatu sequence.
Macam system tract :
a. LOWSTAND SYSTEM TRACT (LST) :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada type I depositional sequence. LST dibatasi pada base-nya oleh type I sequence boundary dan pada top-nya oleh transgressive surface. Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break, lowstand syatem tract ini bisa terdiri dari tiga unit, yaitu : basin-floor fan, slope fan, lowstand prograding wedge. Pada suatu daerah yang miring dimana kemiringan lerengnya rendah, maka suatu lowstand prograding yangrelatif tipis akan menyusun keseluruhan lowstand system tract. LST diendapkan selama penurunan suatu permukn laut relatif pada awal suatu kenaikan permukaan laut relatif.

Basin -floor fan :
konotasi sequence stratigrafi : adalah bagian awal dari LST yang dicirikan oleh pengendapan submarine-fan yang kaya akan pasir di dasar cekungan atau dekat base dari lereng bawah. Basin-floor fan diendapkan selama penurunan permukaan laut relatif yang berkaitan dengan erosi dan valley incision (penorehan lembah) di laut dangkal dan tidak mempunyai endapan yang kronostratigrafisnya sama di laut dangkal itu. Base dari Basin-floor fan adalah type I sequence boundary, dan top-nya adalah suatu bidang dimana lapisan atasnya downlap. Basin-floor fan dicirikan pada penampang seismik oleh suatu bentuk mound yang downlap kedua arah, dan pada well log oleh blocky pattern-nya yang terletak langsung di atas sequence boundary.
Konotasi fisiografis : adalah suatu system pengendapan submarine fan yang relatif kecil tetapi kaya akan pasir pada atau dekat suatu dasar slope. Di suatu tepi kontinen yang tidak teratur, basin-floor fan biasanya terbatas pada daerah sekitar intraslope basins atau pada mulut submarine canyons. Sedimen yangkaya akan pasir ini dierosi dari endapan-endapan non marine, laut dangkal, atau tepi laut dangkal selama fase awal suatu penurunan permukaan laut relatif.

Slope Fan
Konotasi sequence : adalah suatu bagian dari LST yang dicirikan terutama oleh pengendapan turbidit dan debries flow pada lereng/slope bawah dan dasar cekungan selama suatu penurunan permukaan laut relatif. Slope fan menunjukkan downlap diatas basin-floor fan atau sequence boundary, dan sebaliknya lowstand prograding wedgw mwnunjukkan downlap ke atas slope fan. Slope fan dapat dikenali pada penampang seismik dengan adanya ciri hummocky dan atau mounded yang dalam kasus idealnya menentukan channel-levee complex dengan bentuk sayap burung. Cirinya pada well log biasanya berbentuk cressentic (bulan sabit), walaupun satuan ini kelihatannya merupakan pasir-pasir yang sangat bervariasi ketebalannya dalam suatu latar belakang mud yang bisa menghasilkan ciri log yang lain.
Konotasi fisiografis : Slope fan systm adalah lebih besar dan lebih luas penyebaranya daripada basin-floor fan system, dan menunjukkan onlap diatas lower slope ketika perkembangannya memotong basin floor . Fasies reservoir pada slope fan system yang terutama adalah sandy turbidites apakah di dalam channel complexes atau jauh pada splay di ujung channel.
Lowstand Prograding Wedge atau Lowstand Prograding Complex
Konotasi Sequence : bagian terakhir dari lowstand system tract yang dicirikan oleh progradasional sampai agradasional parasequence yang menbentuk pembajian sedimen ke rah basin yaitu pada shlefbreak, dan incised valley fill pada shelf dan slope atas. Lowstand prograding wedgw dan incised valley fill diendapkan selama suatu penurunan terakhir permukaan laut sampai awal kenaikan permukaan laut relatif.
Lowstand prograding wedgw terletak diatas slope fan system, kadang-kadang dengan suatu condensed section sekunder yang berkembang baik pada top dari slope fan, dan ditutupi oleh transgresive system tract. Lowstand prograding wedgw mwningkat dari endapan-endapan fluvial, shoreline dan laut dangkalpada bagian atasnya sampai serpih hemipelagis dan dalam kasus tertentu sampai shingled turbidites didekat tepi bagian bawahnya. Lowstand prograding wedge dikenali pada penampang seismik dengan adanya agradasional offlap ke arah laut dari shelfbreak dan pada well log dengan adanya coarsening upward pattern yang menunjukkan pola pendangkalan ke atas.

Incised valley fill :
adalah endapan satu-satunya di dalam lowstand system tract yang terbentuk ke arah daratan dari tepi shelf. Incised valley biasanya berassosiasi dengan Tipe I sequence boundary. Incised valley utama dikenali pada penampang seismik dengan adanya sequence di bawahnya yang menunjukkan erosional truncation dan adanya internal onlap, dimana incised valley berskala kecil hanya bisa dikenali dengan adanya tempat-tempat seumur yang sedikit menebal. Ciri-ciri log dari endapan valley fill adalah bervariasi, tetapi bisa menunjukkan suatu coarsening tiba-tiba diatas bidang erosi.

Konotasi fisiografis :
banyak dari suatu lowstand peograding wedge ini membentuk suatu prisma kearah laut dari shelfbreak dari sequence di bawahnya.

b. TRANSGRESIVE SYSTEM TRACT :
adalah middle systen tract pada suatu sequence pengendapan yang ideal. TST ini dibatasi pada baselinenya oleh trasngresive surface dan pada topnya oleh maximum flooding surface. TST terdiri dari back steeping parasequences. Parasequences yang progresive lebih muda menjadi lebih tipis dan menunjukkan fasies air yang lebih dalam. Endapan-endapan dari system tract ini menyelimuti shelf, mengisi setiap topografi residual yang berassosiasi dengan incised valley. Biasanya TST menunjukkan oalap diatas sequence boundary dalam suatu arah menuju daratan dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut. Hal itu dikenali pada well log dengan pola finning upward

c. HIGHSTAND SYSTEM TRACT :
terdiri dari strata yang lebih muda di dalam suatu depositional sequence dan biuasanya tersebar luas pada daerah shelf. HST dibatasi pada baseline-nya oleh maximum flooding surface dan pada topnya oleh suatu sequence boundary. Ke arah daratan dari shelfbreak, HST ini meningkat agradasional parasequence menjadi progradasional parasequence, dengan parasequences yang progresif lebih muda yang menunjukkan fasies air yang lebih dangkal, sedagkan dalam basin, terutama terdiri dari suatu condensed section. HST menunjukkan onlap ke sequence boundary dibawahnya dengan arah ke daratan, dan menunjukkan downlap ke top dari TST dengan arah basin. HST juga dicirikan oleh oleh toplap dan erosional truncation dibawah sequence boundary yang menutupinya. HST diendapkan selama akhir suatu penaikan relatif muka laut sampai tahap awal penurunan relatif muka laut. Pada penampang seismik, awal HST dicirikan terutama oleh progradasional offlap, sedangkan akhir HST dicirikan oleh oblique offlap. Pada well log dicirikan adanya coarsening-upward pattern.

d. SHELf MARGIN SYSTEM TRACT :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada suatu tipe I depositional sequence. SMST meningkat dari progradasional parasequence menjadi agradasional parasequence yang makin bertambah. Batas bawahnya adalah tipe II sequence boundary yang relatif selaras dengan suatu unconformity yang terbentuk ke arah daratan dimana SMST-nya membaji, dan batas atasnya adalah transgresive surface. Perlapisan SMST menunjukkan onlap ke sequence boundary yang berarah ke basin. SMST diendapkan selama akhir suatu penurunan relatif muka laut sampai suatu penaikan muka laut yang kecepatannya bertambah secara progresif. Pada penampang seismik SMST dicirikan oleh agradasional offlap.

CONDENSED SECTION :
adalah fasies marine yang tipis, yang terdiri dari endapan-endapan pelagis sampao hemipelagis, yang menunjukkan adanya sat kebutuhan akan sedimen detritus di dalam cekungan pengendapan. Condensed section ini paling sering diendapkan di middle-outer shlef, slope, dan basin floor di dalam transgresive system tract dan highstand systen tract selama jangka waktu penaikan permukaan relatif dan transgresi garis pantai maksimum. Biasanya, condebsed cestion ini dikenali dengan satu atau lebih ciri-ciri berikut :
•Kumpulan mikrofosil plankton dan benton dalam jumlah melimpah dan bermacam-macam.
•adanya zona burrowing tipis secara lateral tersebar kontinue.
•bahan-bahan organik marin dan bentonis yang melimpah.
•adanya konsentrasi mineral autogenik seperti gloukonit, fosfat dan siderit.
•adanya pengembangan karbonat yang keras pada dasar section.
Condensed section sekunder diendapkan diatas basin-floor fan dan slope fan.

CONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dari perlapisan yang lebih tua dimana tidak ada tanda erosi (subareal atau submarine) atau hiatus yang jelas.

CORRELATIVE CONFORMITY :
adalah suatu keselarasan yang kronostratigrafinya lateral ekuivalen dengan suatu unconformity.

UNCONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dengan yang lebih tua sepanjang mana ada tanda erosi atau nondeposisi yang menunjukkan suatu hioatus yang jelas. Unconformity bisa dikenali dengan adanya terminasi (seperti onlap, toplap), yaitu suatu gap dalam urutan biostratigrafi, atau suatu fasies disconformity. Periode erosi dan nondeposisi terjadi pada setiap penurunan permukaan laut global, yang menghasilkan interregional unconformities.

HIATUS :
adalah suatu break atau interupsi pada kontinuitas rekor geologi yang disbabkan oleh nondeposisi, sediment bypassing, atau erosi. Bidang yang terbentuk selama suatu waktu ini disebut sebagai bidag hiatus atau unconformitu.

BYPASSING :
adalah pengangkutan sedimen yang melalui daerah nondeposisi.

RAVINEMENT SURFACE :
adalah suatu bidang dari erosi submarine dangkal yang disebabkan oleh gaya gelombang yang berassosiasi dengan penaikan permukaan laut. Butiran-butiran yang halus tersaring dan butiran yang kasar akan tertinggal sebagai lag pada bidang erosi.

SEQUENCE BOUNDARY :
adalah unconformity dan conformitynya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif permukaan laut.

TYPE I SEQUENCE BOUNDARY :
yaitu suatu regional unconformity yang terbentuk ketika permukaan eustacy turun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan basin, yang menyingkap shelf ke erosi subareal. Biasanya permukaan laut turun sampai suatu titik di dekat shlefbreak atau kearah laut dari shlefbreak.

TYPE II SEQUENCE BOUNDARY :
terbentuk ketika cekungan menurun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan turunnya permukaan laut pada depositional shoreline break.

TOP BASIN-FLOOR FAN SURFACE :
adalah batas basin floor fan dibawahnya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge diatasnya. Slope fan dan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top basin floor fan surface.

TOP SLOPE FAN SURFACE :
adalah batas antara slope fan dibawahnya dengan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top slope fan surface. Top slope fan surface bisa menunjukkan downlap ke atas basin -floor fan atau ke atas sequence boundary ke arah laut dan menunjukkan onlap ke atas top dari depositional sequence ke arah daratan yang terletak di bawahnya.

MARINE FLOODING SURFACE :
adalah permukaan pada top parasequences yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman tiba-tiba ketika permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan facies air dangkal atau facies nonmarine yang terletak di bawahnya dengan fasies air lebih dalam yang terletak diatasnya.

TRANSGRESIVE SURFACE :
adalah flooding surface penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi maksimum pada top daro lowstand system tract. Dalam skala regional TS memisahkan parasequence progradational atau agradational lowstand systrm tract yang terletak di bawahnya dengan parasequence backsteeping transgresive system tract yang terletak diatasnya. TS berassosiasi dengan suatu fasies discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman tiba-tiba yang meotong bidang batas. TS berupa erosi pada shlef yang reliefnya sampai beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa juga berassosiasi dengan pbble lags dan burrowing. Penggabungan TS dengan sequence boundary dalam suatu arah ke daratan akan menghasilkan TST mengendap langsung diatas endapan-endapan HST yang terletak di bawahnya.

Maximum flooding surface =
marine flooding surface yg tebentuk pd awaktu transgresi maksimum, MFS membentuk top transgressive system trcts dan memisahkan backstepping para sequnces yg ada di bawahnya dgn progradasional parasekuensis yg terletak di atasnya. Prograding klinoform dari HST yg menutupinya menunjukkan down lap ke atas MFS, yg terjadi dianatara condensed section.

Depositional Shoreline break =
fisiografik break pd shelf ke arah daratan dimana dasar laut berada pd atau dekat base level dgn sedikit atau tanpa pengendapan, dan ke arah laut dimana sedimentasi terjadi.

Shelf break =
fisiografi break pd shelf yg ditandai oleh suatu perubahan pd slope dri shelf landai bersudut kecil ke arah daratan dari shelf break samnpai slope curam yg bersudut lebih besar ke arah laut dari shelf break. Kedalamnya <50>500 m.

Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.

?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.

?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi suatu hiatus yang berarti.

?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence set.

?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya

?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air secara tiba2.

?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.

?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.

?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan p

RANGKUMAN STRATIGRAFI ANALISIS :

STRATIGRAFI:
•Cabang ilmu geologi yang khusus membahas tentang pemerian dan klasifikasi suatu tubuh batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.

MAKSUD :
•Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
•Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.


TUJUAN :
•Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:
•-ruang : Paleogeografi
•-waktu : sejarah geologi.

Asas stratigrafi :
•uniformitarianism
•horizontality
•superposisi
•cross cutting relationship
•principle of faunal succession

Stratigrafi analisis meliputi:
•penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution

case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
•lithostratigraphic
•lithodemic
•magnetostratigraphic
•biostratigraphic
•pedostratigraphic
•allostratigraphic

dibedakan berdasar umur:
•geologic time
•chronostratigraphic
•geochronologic
•diachronic
•geochronometric
•polarity chronologic
•polarity chronostratigraphic

Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang memiliki singkapan yang penting.

Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column

FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.

LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian yang lain.

FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.

Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.
Pengertian pembentukan batuan secara genetik.
Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi

NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.

SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.

Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.

SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim, perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta

DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya penyemenan
-rekristalisasi

AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien karena arus sungai yang memotong.

SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35
-baik 0,35-0,5
-buruk 0,5-1
-sangat buruk >2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.

Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds

Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.

STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan. Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.

HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik akan tenggelam.

ENERGI LEVEL:
-Flow cond’n ---open fabrik dan closed fabirk.
-Angularity---policyclicity.

Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.

BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal (dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.

MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.

FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.

STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya pada setiap unit waktu.

STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu tergantung pada kepatannya.

GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika

FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :
-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate

PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.

SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.

WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.

COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan –progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line
D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi
D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin
Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach.

FLUVIAL INCISION:
-Proses pemotongan profil.
-Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium.
-Relative sea level drop dapat merubah equilibrium.
-faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil:
-tektonik
-relative sea level drop
-discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi
-sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.
-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonik—fluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level

COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.

EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan kecepatan subsidence/uplift.

RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.

RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.

ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.

SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
-mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
-selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
-batasc sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

AGRADASIONAL :
stacking pattern dimana parasequence yang progresif lebih muda sudah diedapkan satu di atas yag lainnya tanpa adanya pergeseran lateral yang berarti apakah ke arah daratan atau ke arah cekungan. Stacking pattern ini terjadi apabila kecepatan accomodation kira-kira sama dengan kecepatan pengendapan.

BACKSTEPPING :
adalah stacking pattern dimana setiap parasequence yang progresif lebih muda sudah diendapkan lebih jauh ke arah daratan. Walaupun parasequence individu ini prograde dan mendangkal ke arah atas, tetapi suatu backsteeping stacking pattern secara menyeluruh lebih dalam ke arah atas. Backsteeping stacking pattern terjadi apabila kecepatan accomodasi lebih besar daripada kecepatan pengendapan. Istilah retrogradasional biasa digunakan sebagai pengganti backsteeping, namun retrogradasional menunjukkan :
•mundurnya garis pantai akibat erosi.
•progradasional ke arah daratan.
Karena itu retrogradasional tidak sama dengan backsteeping.

SYSTEM TRACT :
terdiri dari seluruh sistem-sistem yang sama umurnya yang terjadi berdekatan satu sama lain, dan diendapkan selama suatu segmen sea level curve yang tertentu. Didefinisikanberdasarkan :
•parasequence dan parasequence set stacking patterns.
•stratal geometry dari bidang-bidang batasnya.
•posisinya di dalam suatu sequence.
Macam system tract :
a. LOWSTAND SYSTEM TRACT (LST) :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada type I depositional sequence. LST dibatasi pada base-nya oleh type I sequence boundary dan pada top-nya oleh transgressive surface. Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break, lowstand syatem tract ini bisa terdiri dari tiga unit, yaitu : basin-floor fan, slope fan, lowstand prograding wedge. Pada suatu daerah yang miring dimana kemiringan lerengnya rendah, maka suatu lowstand prograding yangrelatif tipis akan menyusun keseluruhan lowstand system tract. LST diendapkan selama penurunan suatu permukn laut relatif pada awal suatu kenaikan permukaan laut relatif.

Basin -floor fan :
konotasi sequence stratigrafi : adalah bagian awal dari LST yang dicirikan oleh pengendapan submarine-fan yang kaya akan pasir di dasar cekungan atau dekat base dari lereng bawah. Basin-floor fan diendapkan selama penurunan permukaan laut relatif yang berkaitan dengan erosi dan valley incision (penorehan lembah) di laut dangkal dan tidak mempunyai endapan yang kronostratigrafisnya sama di laut dangkal itu. Base dari Basin-floor fan adalah type I sequence boundary, dan top-nya adalah suatu bidang dimana lapisan atasnya downlap. Basin-floor fan dicirikan pada penampang seismik oleh suatu bentuk mound yang downlap kedua arah, dan pada well log oleh blocky pattern-nya yang terletak langsung di atas sequence boundary.
Konotasi fisiografis : adalah suatu system pengendapan submarine fan yang relatif kecil tetapi kaya akan pasir pada atau dekat suatu dasar slope. Di suatu tepi kontinen yang tidak teratur, basin-floor fan biasanya terbatas pada daerah sekitar intraslope basins atau pada mulut submarine canyons. Sedimen yangkaya akan pasir ini dierosi dari endapan-endapan non marine, laut dangkal, atau tepi laut dangkal selama fase awal suatu penurunan permukaan laut relatif.

Slope Fan
Konotasi sequence : adalah suatu bagian dari LST yang dicirikan terutama oleh pengendapan turbidit dan debries flow pada lereng/slope bawah dan dasar cekungan selama suatu penurunan permukaan laut relatif. Slope fan menunjukkan downlap diatas basin-floor fan atau sequence boundary, dan sebaliknya lowstand prograding wedgw mwnunjukkan downlap ke atas slope fan. Slope fan dapat dikenali pada penampang seismik dengan adanya ciri hummocky dan atau mounded yang dalam kasus idealnya menentukan channel-levee complex dengan bentuk sayap burung. Cirinya pada well log biasanya berbentuk cressentic (bulan sabit), walaupun satuan ini kelihatannya merupakan pasir-pasir yang sangat bervariasi ketebalannya dalam suatu latar belakang mud yang bisa menghasilkan ciri log yang lain.
Konotasi fisiografis : Slope fan systm adalah lebih besar dan lebih luas penyebaranya daripada basin-floor fan system, dan menunjukkan onlap diatas lower slope ketika perkembangannya memotong basin floor . Fasies reservoir pada slope fan system yang terutama adalah sandy turbidites apakah di dalam channel complexes atau jauh pada splay di ujung channel.
Lowstand Prograding Wedge atau Lowstand Prograding Complex
Konotasi Sequence : bagian terakhir dari lowstand system tract yang dicirikan oleh progradasional sampai agradasional parasequence yang menbentuk pembajian sedimen ke rah basin yaitu pada shlefbreak, dan incised valley fill pada shelf dan slope atas. Lowstand prograding wedgw dan incised valley fill diendapkan selama suatu penurunan terakhir permukaan laut sampai awal kenaikan permukaan laut relatif.
Lowstand prograding wedgw terletak diatas slope fan system, kadang-kadang dengan suatu condensed section sekunder yang berkembang baik pada top dari slope fan, dan ditutupi oleh transgresive system tract. Lowstand prograding wedgw mwningkat dari endapan-endapan fluvial, shoreline dan laut dangkalpada bagian atasnya sampai serpih hemipelagis dan dalam kasus tertentu sampai shingled turbidites didekat tepi bagian bawahnya. Lowstand prograding wedge dikenali pada penampang seismik dengan adanya agradasional offlap ke arah laut dari shelfbreak dan pada well log dengan adanya coarsening upward pattern yang menunjukkan pola pendangkalan ke atas.

Incised valley fill :
adalah endapan satu-satunya di dalam lowstand system tract yang terbentuk ke arah daratan dari tepi shelf. Incised valley biasanya berassosiasi dengan Tipe I sequence boundary. Incised valley utama dikenali pada penampang seismik dengan adanya sequence di bawahnya yang menunjukkan erosional truncation dan adanya internal onlap, dimana incised valley berskala kecil hanya bisa dikenali dengan adanya tempat-tempat seumur yang sedikit menebal. Ciri-ciri log dari endapan valley fill adalah bervariasi, tetapi bisa menunjukkan suatu coarsening tiba-tiba diatas bidang erosi.

Konotasi fisiografis :
banyak dari suatu lowstand peograding wedge ini membentuk suatu prisma kearah laut dari shelfbreak dari sequence di bawahnya.

b. TRANSGRESIVE SYSTEM TRACT :
adalah middle systen tract pada suatu sequence pengendapan yang ideal. TST ini dibatasi pada baselinenya oleh trasngresive surface dan pada topnya oleh maximum flooding surface. TST terdiri dari back steeping parasequences. Parasequences yang progresive lebih muda menjadi lebih tipis dan menunjukkan fasies air yang lebih dalam. Endapan-endapan dari system tract ini menyelimuti shelf, mengisi setiap topografi residual yang berassosiasi dengan incised valley. Biasanya TST menunjukkan oalap diatas sequence boundary dalam suatu arah menuju daratan dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut. Hal itu dikenali pada well log dengan pola finning upward

c. HIGHSTAND SYSTEM TRACT :
terdiri dari strata yang lebih muda di dalam suatu depositional sequence dan biuasanya tersebar luas pada daerah shelf. HST dibatasi pada baseline-nya oleh maximum flooding surface dan pada topnya oleh suatu sequence boundary. Ke arah daratan dari shelfbreak, HST ini meningkat agradasional parasequence menjadi progradasional parasequence, dengan parasequences yang progresif lebih muda yang menunjukkan fasies air yang lebih dangkal, sedagkan dalam basin, terutama terdiri dari suatu condensed section. HST menunjukkan onlap ke sequence boundary dibawahnya dengan arah ke daratan, dan menunjukkan downlap ke top dari TST dengan arah basin. HST juga dicirikan oleh oleh toplap dan erosional truncation dibawah sequence boundary yang menutupinya. HST diendapkan selama akhir suatu penaikan relatif muka laut sampai tahap awal penurunan relatif muka laut. Pada penampang seismik, awal HST dicirikan terutama oleh progradasional offlap, sedangkan akhir HST dicirikan oleh oblique offlap. Pada well log dicirikan adanya coarsening-upward pattern.

d. SHELf MARGIN SYSTEM TRACT :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada suatu tipe I depositional sequence. SMST meningkat dari progradasional parasequence menjadi agradasional parasequence yang makin bertambah. Batas bawahnya adalah tipe II sequence boundary yang relatif selaras dengan suatu unconformity yang terbentuk ke arah daratan dimana SMST-nya membaji, dan batas atasnya adalah transgresive surface. Perlapisan SMST menunjukkan onlap ke sequence boundary yang berarah ke basin. SMST diendapkan selama akhir suatu penurunan relatif muka laut sampai suatu penaikan muka laut yang kecepatannya bertambah secara progresif. Pada penampang seismik SMST dicirikan oleh agradasional offlap.

CONDENSED SECTION :
adalah fasies marine yang tipis, yang terdiri dari endapan-endapan pelagis sampao hemipelagis, yang menunjukkan adanya sat kebutuhan akan sedimen detritus di dalam cekungan pengendapan. Condensed section ini paling sering diendapkan di middle-outer shlef, slope, dan basin floor di dalam transgresive system tract dan highstand systen tract selama jangka waktu penaikan permukaan relatif dan transgresi garis pantai maksimum. Biasanya, condebsed cestion ini dikenali dengan satu atau lebih ciri-ciri berikut :
•Kumpulan mikrofosil plankton dan benton dalam jumlah melimpah dan bermacam-macam.
•adanya zona burrowing tipis secara lateral tersebar kontinue.
•bahan-bahan organik marin dan bentonis yang melimpah.
•adanya konsentrasi mineral autogenik seperti gloukonit, fosfat dan siderit.
•adanya pengembangan karbonat yang keras pada dasar section.
Condensed section sekunder diendapkan diatas basin-floor fan dan slope fan.

CONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dari perlapisan yang lebih tua dimana tidak ada tanda erosi (subareal atau submarine) atau hiatus yang jelas.

CORRELATIVE CONFORMITY :
adalah suatu keselarasan yang kronostratigrafinya lateral ekuivalen dengan suatu unconformity.

UNCONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dengan yang lebih tua sepanjang mana ada tanda erosi atau nondeposisi yang menunjukkan suatu hioatus yang jelas. Unconformity bisa dikenali dengan adanya terminasi (seperti onlap, toplap), yaitu suatu gap dalam urutan biostratigrafi, atau suatu fasies disconformity. Periode erosi dan nondeposisi terjadi pada setiap penurunan permukaan laut global, yang menghasilkan interregional unconformities.

HIATUS :
adalah suatu break atau interupsi pada kontinuitas rekor geologi yang disbabkan oleh nondeposisi, sediment bypassing, atau erosi. Bidang yang terbentuk selama suatu waktu ini disebut sebagai bidag hiatus atau unconformitu.

BYPASSING :
adalah pengangkutan sedimen yang melalui daerah nondeposisi.

RAVINEMENT SURFACE :
adalah suatu bidang dari erosi submarine dangkal yang disebabkan oleh gaya gelombang yang berassosiasi dengan penaikan permukaan laut. Butiran-butiran yang halus tersaring dan butiran yang kasar akan tertinggal sebagai lag pada bidang erosi.

SEQUENCE BOUNDARY :
adalah unconformity dan conformitynya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif permukaan laut.

TYPE I SEQUENCE BOUNDARY :
yaitu suatu regional unconformity yang terbentuk ketika permukaan eustacy turun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan basin, yang menyingkap shelf ke erosi subareal. Biasanya permukaan laut turun sampai suatu titik di dekat shlefbreak atau kearah laut dari shlefbreak.

TYPE II SEQUENCE BOUNDARY :
terbentuk ketika cekungan menurun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan turunnya permukaan laut pada depositional shoreline break.

TOP BASIN-FLOOR FAN SURFACE :
adalah batas basin floor fan dibawahnya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge diatasnya. Slope fan dan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top basin floor fan surface.

TOP SLOPE FAN SURFACE :
adalah batas antara slope fan dibawahnya dengan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top slope fan surface. Top slope fan surface bisa menunjukkan downlap ke atas basin -floor fan atau ke atas sequence boundary ke arah laut dan menunjukkan onlap ke atas top dari depositional sequence ke arah daratan yang terletak di bawahnya.

MARINE FLOODING SURFACE :
adalah permukaan pada top parasequences yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman tiba-tiba ketika permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan facies air dangkal atau facies nonmarine yang terletak di bawahnya dengan fasies air lebih dalam yang terletak diatasnya.

TRANSGRESIVE SURFACE :
adalah flooding surface penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi maksimum pada top daro lowstand system tract. Dalam skala regional TS memisahkan parasequence progradational atau agradational lowstand systrm tract yang terletak di bawahnya dengan parasequence backsteeping transgresive system tract yang terletak diatasnya. TS berassosiasi dengan suatu fasies discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman tiba-tiba yang meotong bidang batas. TS berupa erosi pada shlef yang reliefnya sampai beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa juga berassosiasi dengan pbble lags dan burrowing. Penggabungan TS dengan sequence boundary dalam suatu arah ke daratan akan menghasilkan TST mengendap langsung diatas endapan-endapan HST yang terletak di bawahnya.

Maximum flooding surface =
marine flooding surface yg tebentuk pd awaktu transgresi maksimum, MFS membentuk top transgressive system trcts dan memisahkan backstepping para sequnces yg ada di bawahnya dgn progradasional parasekuensis yg terletak di atasnya. Prograding klinoform dari HST yg menutupinya menunjukkan down lap ke atas MFS, yg terjadi dianatara condensed section.

Depositional Shoreline break =
fisiografik break pd shelf ke arah daratan dimana dasar laut berada pd atau dekat base level dgn sedikit atau tanpa pengendapan, dan ke arah laut dimana sedimentasi terjadi.

Shelf break =
fisiografi break pd shelf yg ditandai oleh suatu perubahan pd slope dri shelf landai bersudut kecil ke arah daratan dari shelf break samnpai slope curam yg bersudut lebih besar ke arah laut dari shelf break. Kedalamnya <50>500 m.

Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.

?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.

?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi suatu hiatus yang berarti.

?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence set.

?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya

?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air secara tiba2.

?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.

?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.

?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan pengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan pengendapan berada dibawah base level.

?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen < pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah daratan

?Parasequence set progradasional : regresi : V pasokan sedimen > pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan

?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen = pembentukan accomodation space : garis pantai tetap

?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral relationship, geometri distribution of lithology

RANGKUMAN STRATIGRAFI ANALISIS :

STRATIGRAFI:
•Cabang ilmu geologi yang khusus membahas tentang pemerian dan klasifikasi suatu tubuh batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.

MAKSUD :
•Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
•Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.


TUJUAN :
•Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:
•-ruang : Paleogeografi
•-waktu : sejarah geologi.

Asas stratigrafi :
•uniformitarianism
•horizontality
•superposisi
•cross cutting relationship
•principle of faunal succession

Stratigrafi analisis meliputi:
•penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution

case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
•lithostratigraphic
•lithodemic
•magnetostratigraphic
•biostratigraphic
•pedostratigraphic
•allostratigraphic

dibedakan berdasar umur:
•geologic time
•chronostratigraphic
•geochronologic
•diachronic
•geochronometric
•polarity chronologic
•polarity chronostratigraphic

Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang memiliki singkapan yang penting.

Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column

FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.

LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian yang lain.

FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.

Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.
Pengertian pembentukan batuan secara genetik.
Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi

NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.

SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.

Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.

SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim, perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta

DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya penyemenan
-rekristalisasi

AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien karena arus sungai yang memotong.

SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35
-baik 0,35-0,5
-buruk 0,5-1
-sangat buruk >2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.

Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds

Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.

STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan. Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.

HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik akan tenggelam.

ENERGI LEVEL:
-Flow cond’n ---open fabrik dan closed fabirk.
-Angularity---policyclicity.

Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.

BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal (dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.

MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.

FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.

STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya pada setiap unit waktu.

STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu tergantung pada kepatannya.

GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika

FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :
-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate

PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.

SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.

WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.

COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan –progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line
D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi
D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin
Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach.

FLUVIAL INCISION:
-Proses pemotongan profil.
-Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium.
-Relative sea level drop dapat merubah equilibrium.
-faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil:
-tektonik
-relative sea level drop
-discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi
-sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.
-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonik—fluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level

COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.

EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan kecepatan subsidence/uplift.

RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.

RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.

ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.

SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
-mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
-selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
-batasc sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

AGRADASIONAL :
stacking pattern dimana parasequence yang progresif lebih muda sudah diedapkan satu di atas yag lainnya tanpa adanya pergeseran lateral yang berarti apakah ke arah daratan atau ke arah cekungan. Stacking pattern ini terjadi apabila kecepatan accomodation kira-kira sama dengan kecepatan pengendapan.

BACKSTEPPING :
adalah stacking pattern dimana setiap parasequence yang progresif lebih muda sudah diendapkan lebih jauh ke arah daratan. Walaupun parasequence individu ini prograde dan mendangkal ke arah atas, tetapi suatu backsteeping stacking pattern secara menyeluruh lebih dalam ke arah atas. Backsteeping stacking pattern terjadi apabila kecepatan accomodasi lebih besar daripada kecepatan pengendapan. Istilah retrogradasional biasa digunakan sebagai pengganti backsteeping, namun retrogradasional menunjukkan :
•mundurnya garis pantai akibat erosi.
•progradasional ke arah daratan.
Karena itu retrogradasional tidak sama dengan backsteeping.

SYSTEM TRACT :
terdiri dari seluruh sistem-sistem yang sama umurnya yang terjadi berdekatan satu sama lain, dan diendapkan selama suatu segmen sea level curve yang tertentu. Didefinisikanberdasarkan :
•parasequence dan parasequence set stacking patterns.
•stratal geometry dari bidang-bidang batasnya.
•posisinya di dalam suatu sequence.
Macam system tract :
a. LOWSTAND SYSTEM TRACT (LST) :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada type I depositional sequence. LST dibatasi pada base-nya oleh type I sequence boundary dan pada top-nya oleh transgressive surface. Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break, lowstand syatem tract ini bisa terdiri dari tiga unit, yaitu : basin-floor fan, slope fan, lowstand prograding wedge. Pada suatu daerah yang miring dimana kemiringan lerengnya rendah, maka suatu lowstand prograding yangrelatif tipis akan menyusun keseluruhan lowstand system tract. LST diendapkan selama penurunan suatu permukn laut relatif pada awal suatu kenaikan permukaan laut relatif.

Basin -floor fan :
konotasi sequence stratigrafi : adalah bagian awal dari LST yang dicirikan oleh pengendapan submarine-fan yang kaya akan pasir di dasar cekungan atau dekat base dari lereng bawah. Basin-floor fan diendapkan selama penurunan permukaan laut relatif yang berkaitan dengan erosi dan valley incision (penorehan lembah) di laut dangkal dan tidak mempunyai endapan yang kronostratigrafisnya sama di laut dangkal itu. Base dari Basin-floor fan adalah type I sequence boundary, dan top-nya adalah suatu bidang dimana lapisan atasnya downlap. Basin-floor fan dicirikan pada penampang seismik oleh suatu bentuk mound yang downlap kedua arah, dan pada well log oleh blocky pattern-nya yang terletak langsung di atas sequence boundary.
Konotasi fisiografis : adalah suatu system pengendapan submarine fan yang relatif kecil tetapi kaya akan pasir pada atau dekat suatu dasar slope. Di suatu tepi kontinen yang tidak teratur, basin-floor fan biasanya terbatas pada daerah sekitar intraslope basins atau pada mulut submarine canyons. Sedimen yangkaya akan pasir ini dierosi dari endapan-endapan non marine, laut dangkal, atau tepi laut dangkal selama fase awal suatu penurunan permukaan laut relatif.

Slope Fan
Konotasi sequence : adalah suatu bagian dari LST yang dicirikan terutama oleh pengendapan turbidit dan debries flow pada lereng/slope bawah dan dasar cekungan selama suatu penurunan permukaan laut relatif. Slope fan menunjukkan downlap diatas basin-floor fan atau sequence boundary, dan sebaliknya lowstand prograding wedgw mwnunjukkan downlap ke atas slope fan. Slope fan dapat dikenali pada penampang seismik dengan adanya ciri hummocky dan atau mounded yang dalam kasus idealnya menentukan channel-levee complex dengan bentuk sayap burung. Cirinya pada well log biasanya berbentuk cressentic (bulan sabit), walaupun satuan ini kelihatannya merupakan pasir-pasir yang sangat bervariasi ketebalannya dalam suatu latar belakang mud yang bisa menghasilkan ciri log yang lain.
Konotasi fisiografis : Slope fan systm adalah lebih besar dan lebih luas penyebaranya daripada basin-floor fan system, dan menunjukkan onlap diatas lower slope ketika perkembangannya memotong basin floor . Fasies reservoir pada slope fan system yang terutama adalah sandy turbidites apakah di dalam channel complexes atau jauh pada splay di ujung channel.
Lowstand Prograding Wedge atau Lowstand Prograding Complex
Konotasi Sequence : bagian terakhir dari lowstand system tract yang dicirikan oleh progradasional sampai agradasional parasequence yang menbentuk pembajian sedimen ke rah basin yaitu pada shlefbreak, dan incised valley fill pada shelf dan slope atas. Lowstand prograding wedgw dan incised valley fill diendapkan selama suatu penurunan terakhir permukaan laut sampai awal kenaikan permukaan laut relatif.
Lowstand prograding wedgw terletak diatas slope fan system, kadang-kadang dengan suatu condensed section sekunder yang berkembang baik pada top dari slope fan, dan ditutupi oleh transgresive system tract. Lowstand prograding wedgw mwningkat dari endapan-endapan fluvial, shoreline dan laut dangkalpada bagian atasnya sampai serpih hemipelagis dan dalam kasus tertentu sampai shingled turbidites didekat tepi bagian bawahnya. Lowstand prograding wedge dikenali pada penampang seismik dengan adanya agradasional offlap ke arah laut dari shelfbreak dan pada well log dengan adanya coarsening upward pattern yang menunjukkan pola pendangkalan ke atas.

Incised valley fill :
adalah endapan satu-satunya di dalam lowstand system tract yang terbentuk ke arah daratan dari tepi shelf. Incised valley biasanya berassosiasi dengan Tipe I sequence boundary. Incised valley utama dikenali pada penampang seismik dengan adanya sequence di bawahnya yang menunjukkan erosional truncation dan adanya internal onlap, dimana incised valley berskala kecil hanya bisa dikenali dengan adanya tempat-tempat seumur yang sedikit menebal. Ciri-ciri log dari endapan valley fill adalah bervariasi, tetapi bisa menunjukkan suatu coarsening tiba-tiba diatas bidang erosi.

Konotasi fisiografis :
banyak dari suatu lowstand peograding wedge ini membentuk suatu prisma kearah laut dari shelfbreak dari sequence di bawahnya.

b. TRANSGRESIVE SYSTEM TRACT :
adalah middle systen tract pada suatu sequence pengendapan yang ideal. TST ini dibatasi pada baselinenya oleh trasngresive surface dan pada topnya oleh maximum flooding surface. TST terdiri dari back steeping parasequences. Parasequences yang progresive lebih muda menjadi lebih tipis dan menunjukkan fasies air yang lebih dalam. Endapan-endapan dari system tract ini menyelimuti shelf, mengisi setiap topografi residual yang berassosiasi dengan incised valley. Biasanya TST menunjukkan oalap diatas sequence boundary dalam suatu arah menuju daratan dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut. Hal itu dikenali pada well log dengan pola finning upward

c. HIGHSTAND SYSTEM TRACT :
terdiri dari strata yang lebih muda di dalam suatu depositional sequence dan biuasanya tersebar luas pada daerah shelf. HST dibatasi pada baseline-nya oleh maximum flooding surface dan pada topnya oleh suatu sequence boundary. Ke arah daratan dari shelfbreak, HST ini meningkat agradasional parasequence menjadi progradasional parasequence, dengan parasequences yang progresif lebih muda yang menunjukkan fasies air yang lebih dangkal, sedagkan dalam basin, terutama terdiri dari suatu condensed section. HST menunjukkan onlap ke sequence boundary dibawahnya dengan arah ke daratan, dan menunjukkan downlap ke top dari TST dengan arah basin. HST juga dicirikan oleh oleh toplap dan erosional truncation dibawah sequence boundary yang menutupinya. HST diendapkan selama akhir suatu penaikan relatif muka laut sampai tahap awal penurunan relatif muka laut. Pada penampang seismik, awal HST dicirikan terutama oleh progradasional offlap, sedangkan akhir HST dicirikan oleh oblique offlap. Pada well log dicirikan adanya coarsening-upward pattern.

d. SHELf MARGIN SYSTEM TRACT :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada suatu tipe I depositional sequence. SMST meningkat dari progradasional parasequence menjadi agradasional parasequence yang makin bertambah. Batas bawahnya adalah tipe II sequence boundary yang relatif selaras dengan suatu unconformity yang terbentuk ke arah daratan dimana SMST-nya membaji, dan batas atasnya adalah transgresive surface. Perlapisan SMST menunjukkan onlap ke sequence boundary yang berarah ke basin. SMST diendapkan selama akhir suatu penurunan relatif muka laut sampai suatu penaikan muka laut yang kecepatannya bertambah secara progresif. Pada penampang seismik SMST dicirikan oleh agradasional offlap.

CONDENSED SECTION :
adalah fasies marine yang tipis, yang terdiri dari endapan-endapan pelagis sampao hemipelagis, yang menunjukkan adanya sat kebutuhan akan sedimen detritus di dalam cekungan pengendapan. Condensed section ini paling sering diendapkan di middle-outer shlef, slope, dan basin floor di dalam transgresive system tract dan highstand systen tract selama jangka waktu penaikan permukaan relatif dan transgresi garis pantai maksimum. Biasanya, condebsed cestion ini dikenali dengan satu atau lebih ciri-ciri berikut :
•Kumpulan mikrofosil plankton dan benton dalam jumlah melimpah dan bermacam-macam.
•adanya zona burrowing tipis secara lateral tersebar kontinue.
•bahan-bahan organik marin dan bentonis yang melimpah.
•adanya konsentrasi mineral autogenik seperti gloukonit, fosfat dan siderit.
•adanya pengembangan karbonat yang keras pada dasar section.
Condensed section sekunder diendapkan diatas basin-floor fan dan slope fan.

CONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dari perlapisan yang lebih tua dimana tidak ada tanda erosi (subareal atau submarine) atau hiatus yang jelas.

CORRELATIVE CONFORMITY :
adalah suatu keselarasan yang kronostratigrafinya lateral ekuivalen dengan suatu unconformity.

UNCONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dengan yang lebih tua sepanjang mana ada tanda erosi atau nondeposisi yang menunjukkan suatu hioatus yang jelas. Unconformity bisa dikenali dengan adanya terminasi (seperti onlap, toplap), yaitu suatu gap dalam urutan biostratigrafi, atau suatu fasies disconformity. Periode erosi dan nondeposisi terjadi pada setiap penurunan permukaan laut global, yang menghasilkan interregional unconformities.

HIATUS :
adalah suatu break atau interupsi pada kontinuitas rekor geologi yang disbabkan oleh nondeposisi, sediment bypassing, atau erosi. Bidang yang terbentuk selama suatu waktu ini disebut sebagai bidag hiatus atau unconformitu.

BYPASSING :
adalah pengangkutan sedimen yang melalui daerah nondeposisi.

RAVINEMENT SURFACE :
adalah suatu bidang dari erosi submarine dangkal yang disebabkan oleh gaya gelombang yang berassosiasi dengan penaikan permukaan laut. Butiran-butiran yang halus tersaring dan butiran yang kasar akan tertinggal sebagai lag pada bidang erosi.

SEQUENCE BOUNDARY :
adalah unconformity dan conformitynya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif permukaan laut.

TYPE I SEQUENCE BOUNDARY :
yaitu suatu regional unconformity yang terbentuk ketika permukaan eustacy turun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan basin, yang menyingkap shelf ke erosi subareal. Biasanya permukaan laut turun sampai suatu titik di dekat shlefbreak atau kearah laut dari shlefbreak.

TYPE II SEQUENCE BOUNDARY :
terbentuk ketika cekungan menurun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan turunnya permukaan laut pada depositional shoreline break.

TOP BASIN-FLOOR FAN SURFACE :
adalah batas basin floor fan dibawahnya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge diatasnya. Slope fan dan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top basin floor fan surface.

TOP SLOPE FAN SURFACE :
adalah batas antara slope fan dibawahnya dengan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top slope fan surface. Top slope fan surface bisa menunjukkan downlap ke atas basin -floor fan atau ke atas sequence boundary ke arah laut dan menunjukkan onlap ke atas top dari depositional sequence ke arah daratan yang terletak di bawahnya.

MARINE FLOODING SURFACE :
adalah permukaan pada top parasequences yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman tiba-tiba ketika permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan facies air dangkal atau facies nonmarine yang terletak di bawahnya dengan fasies air lebih dalam yang terletak diatasnya.

TRANSGRESIVE SURFACE :
adalah flooding surface penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi maksimum pada top daro lowstand system tract. Dalam skala regional TS memisahkan parasequence progradational atau agradational lowstand systrm tract yang terletak di bawahnya dengan parasequence backsteeping transgresive system tract yang terletak diatasnya. TS berassosiasi dengan suatu fasies discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman tiba-tiba yang meotong bidang batas. TS berupa erosi pada shlef yang reliefnya sampai beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa juga berassosiasi dengan pbble lags dan burrowing. Penggabungan TS dengan sequence boundary dalam suatu arah ke daratan akan menghasilkan TST mengendap langsung diatas endapan-endapan HST yang terletak di bawahnya.

Maximum flooding surface =
marine flooding surface yg tebentuk pd awaktu transgresi maksimum, MFS membentuk top transgressive system trcts dan memisahkan backstepping para sequnces yg ada di bawahnya dgn progradasional parasekuensis yg terletak di atasnya. Prograding klinoform dari HST yg menutupinya menunjukkan down lap ke atas MFS, yg terjadi dianatara condensed section.

Depositional Shoreline break =
fisiografik break pd shelf ke arah daratan dimana dasar laut berada pd atau dekat base level dgn sedikit atau tanpa pengendapan, dan ke arah laut dimana sedimentasi terjadi.

Shelf break =
fisiografi break pd shelf yg ditandai oleh suatu perubahan pd slope dri shelf landai bersudut kecil ke arah daratan dari shelf break samnpai slope curam yg bersudut lebih besar ke arah laut dari shelf break. Kedalamnya <50>500 m.

Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.

?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.

?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi suatu hiatus yang berarti.

?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence set.

?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya

?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air secara tiba2.

?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.

?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.

?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan pengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan pengendapan

RANGKUMAN STRATIGRAFI ANALISIS :

STRATIGRAFI:
•Cabang ilmu geologi yang khusus membahas tentang pemerian dan klasifikasi suatu tubuh batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.

MAKSUD :
•Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
•Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.


TUJUAN :
•Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:
•-ruang : Paleogeografi
•-waktu : sejarah geologi.

Asas stratigrafi :
•uniformitarianism
•horizontality
•superposisi
•cross cutting relationship
•principle of faunal succession

Stratigrafi analisis meliputi:
•penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution

case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
•lithostratigraphic
•lithodemic
•magnetostratigraphic
•biostratigraphic
•pedostratigraphic
•allostratigraphic

dibedakan berdasar umur:
•geologic time
•chronostratigraphic
•geochronologic
•diachronic
•geochronometric
•polarity chronologic
•polarity chronostratigraphic

Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang memiliki singkapan yang penting.

Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column

FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.

LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian yang lain.

FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.

Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.
Pengertian pembentukan batuan secara genetik.
Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi

NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.

SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.

Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.

SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim, perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta

DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya penyemenan
-rekristalisasi

AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien karena arus sungai yang memotong.

SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35
-baik 0,35-0,5
-buruk 0,5-1
-sangat buruk >2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.

Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds

Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.

STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan. Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.

HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik akan tenggelam.

ENERGI LEVEL:
-Flow cond’n ---open fabrik dan closed fabirk.
-Angularity---policyclicity.

Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.

BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal (dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.

MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.

FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.

STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya pada setiap unit waktu.

STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu tergantung pada kepatannya.

GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika

FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :
-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate

PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.

SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.

WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.

COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan –progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line
D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi
D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin
Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach.

FLUVIAL INCISION:
-Proses pemotongan profil.
-Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium.
-Relative sea level drop dapat merubah equilibrium.
-faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil:
-tektonik
-relative sea level drop
-discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi
-sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.
-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonik—fluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level

COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.

EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan kecepatan subsidence/uplift.

RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.

RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.

ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.

SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
-mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
-selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
-batasc sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

AGRADASIONAL :
stacking pattern dimana parasequence yang progresif lebih muda sudah diedapkan satu di atas yag lainnya tanpa adanya pergeseran lateral yang berarti apakah ke arah daratan atau ke arah cekungan. Stacking pattern ini terjadi apabila kecepatan accomodation kira-kira sama dengan kecepatan pengendapan.

BACKSTEPPING :
adalah stacking pattern dimana setiap parasequence yang progresif lebih muda sudah diendapkan lebih jauh ke arah daratan. Walaupun parasequence individu ini prograde dan mendangkal ke arah atas, tetapi suatu backsteeping stacking pattern secara menyeluruh lebih dalam ke arah atas. Backsteeping stacking pattern terjadi apabila kecepatan accomodasi lebih besar daripada kecepatan pengendapan. Istilah retrogradasional biasa digunakan sebagai pengganti backsteeping, namun retrogradasional menunjukkan :
•mundurnya garis pantai akibat erosi.
•progradasional ke arah daratan.
Karena itu retrogradasional tidak sama dengan backsteeping.

SYSTEM TRACT :
terdiri dari seluruh sistem-sistem yang sama umurnya yang terjadi berdekatan satu sama lain, dan diendapkan selama suatu segmen sea level curve yang tertentu. Didefinisikanberdasarkan :
•parasequence dan parasequence set stacking patterns.
•stratal geometry dari bidang-bidang batasnya.
•posisinya di dalam suatu sequence.
Macam system tract :
a. LOWSTAND SYSTEM TRACT (LST) :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada type I depositional sequence. LST dibatasi pada base-nya oleh type I sequence boundary dan pada top-nya oleh transgressive surface. Dalam suatu cekungan yang dicirikan oleh suatu shelf break, lowstand syatem tract ini bisa terdiri dari tiga unit, yaitu : basin-floor fan, slope fan, lowstand prograding wedge. Pada suatu daerah yang miring dimana kemiringan lerengnya rendah, maka suatu lowstand prograding yangrelatif tipis akan menyusun keseluruhan lowstand system tract. LST diendapkan selama penurunan suatu permukn laut relatif pada awal suatu kenaikan permukaan laut relatif.

Basin -floor fan :
konotasi sequence stratigrafi : adalah bagian awal dari LST yang dicirikan oleh pengendapan submarine-fan yang kaya akan pasir di dasar cekungan atau dekat base dari lereng bawah. Basin-floor fan diendapkan selama penurunan permukaan laut relatif yang berkaitan dengan erosi dan valley incision (penorehan lembah) di laut dangkal dan tidak mempunyai endapan yang kronostratigrafisnya sama di laut dangkal itu. Base dari Basin-floor fan adalah type I sequence boundary, dan top-nya adalah suatu bidang dimana lapisan atasnya downlap. Basin-floor fan dicirikan pada penampang seismik oleh suatu bentuk mound yang downlap kedua arah, dan pada well log oleh blocky pattern-nya yang terletak langsung di atas sequence boundary.
Konotasi fisiografis : adalah suatu system pengendapan submarine fan yang relatif kecil tetapi kaya akan pasir pada atau dekat suatu dasar slope. Di suatu tepi kontinen yang tidak teratur, basin-floor fan biasanya terbatas pada daerah sekitar intraslope basins atau pada mulut submarine canyons. Sedimen yangkaya akan pasir ini dierosi dari endapan-endapan non marine, laut dangkal, atau tepi laut dangkal selama fase awal suatu penurunan permukaan laut relatif.

Slope Fan
Konotasi sequence : adalah suatu bagian dari LST yang dicirikan terutama oleh pengendapan turbidit dan debries flow pada lereng/slope bawah dan dasar cekungan selama suatu penurunan permukaan laut relatif. Slope fan menunjukkan downlap diatas basin-floor fan atau sequence boundary, dan sebaliknya lowstand prograding wedgw mwnunjukkan downlap ke atas slope fan. Slope fan dapat dikenali pada penampang seismik dengan adanya ciri hummocky dan atau mounded yang dalam kasus idealnya menentukan channel-levee complex dengan bentuk sayap burung. Cirinya pada well log biasanya berbentuk cressentic (bulan sabit), walaupun satuan ini kelihatannya merupakan pasir-pasir yang sangat bervariasi ketebalannya dalam suatu latar belakang mud yang bisa menghasilkan ciri log yang lain.
Konotasi fisiografis : Slope fan systm adalah lebih besar dan lebih luas penyebaranya daripada basin-floor fan system, dan menunjukkan onlap diatas lower slope ketika perkembangannya memotong basin floor . Fasies reservoir pada slope fan system yang terutama adalah sandy turbidites apakah di dalam channel complexes atau jauh pada splay di ujung channel.
Lowstand Prograding Wedge atau Lowstand Prograding Complex
Konotasi Sequence : bagian terakhir dari lowstand system tract yang dicirikan oleh progradasional sampai agradasional parasequence yang menbentuk pembajian sedimen ke rah basin yaitu pada shlefbreak, dan incised valley fill pada shelf dan slope atas. Lowstand prograding wedgw dan incised valley fill diendapkan selama suatu penurunan terakhir permukaan laut sampai awal kenaikan permukaan laut relatif.
Lowstand prograding wedgw terletak diatas slope fan system, kadang-kadang dengan suatu condensed section sekunder yang berkembang baik pada top dari slope fan, dan ditutupi oleh transgresive system tract. Lowstand prograding wedgw mwningkat dari endapan-endapan fluvial, shoreline dan laut dangkalpada bagian atasnya sampai serpih hemipelagis dan dalam kasus tertentu sampai shingled turbidites didekat tepi bagian bawahnya. Lowstand prograding wedge dikenali pada penampang seismik dengan adanya agradasional offlap ke arah laut dari shelfbreak dan pada well log dengan adanya coarsening upward pattern yang menunjukkan pola pendangkalan ke atas.

Incised valley fill :
adalah endapan satu-satunya di dalam lowstand system tract yang terbentuk ke arah daratan dari tepi shelf. Incised valley biasanya berassosiasi dengan Tipe I sequence boundary. Incised valley utama dikenali pada penampang seismik dengan adanya sequence di bawahnya yang menunjukkan erosional truncation dan adanya internal onlap, dimana incised valley berskala kecil hanya bisa dikenali dengan adanya tempat-tempat seumur yang sedikit menebal. Ciri-ciri log dari endapan valley fill adalah bervariasi, tetapi bisa menunjukkan suatu coarsening tiba-tiba diatas bidang erosi.

Konotasi fisiografis :
banyak dari suatu lowstand peograding wedge ini membentuk suatu prisma kearah laut dari shelfbreak dari sequence di bawahnya.

b. TRANSGRESIVE SYSTEM TRACT :
adalah middle systen tract pada suatu sequence pengendapan yang ideal. TST ini dibatasi pada baselinenya oleh trasngresive surface dan pada topnya oleh maximum flooding surface. TST terdiri dari back steeping parasequences. Parasequences yang progresive lebih muda menjadi lebih tipis dan menunjukkan fasies air yang lebih dalam. Endapan-endapan dari system tract ini menyelimuti shelf, mengisi setiap topografi residual yang berassosiasi dengan incised valley. Biasanya TST menunjukkan oalap diatas sequence boundary dalam suatu arah menuju daratan dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut. Hal itu dikenali pada well log dengan pola finning upward

c. HIGHSTAND SYSTEM TRACT :
terdiri dari strata yang lebih muda di dalam suatu depositional sequence dan biuasanya tersebar luas pada daerah shelf. HST dibatasi pada baseline-nya oleh maximum flooding surface dan pada topnya oleh suatu sequence boundary. Ke arah daratan dari shelfbreak, HST ini meningkat agradasional parasequence menjadi progradasional parasequence, dengan parasequences yang progresif lebih muda yang menunjukkan fasies air yang lebih dangkal, sedagkan dalam basin, terutama terdiri dari suatu condensed section. HST menunjukkan onlap ke sequence boundary dibawahnya dengan arah ke daratan, dan menunjukkan downlap ke top dari TST dengan arah basin. HST juga dicirikan oleh oleh toplap dan erosional truncation dibawah sequence boundary yang menutupinya. HST diendapkan selama akhir suatu penaikan relatif muka laut sampai tahap awal penurunan relatif muka laut. Pada penampang seismik, awal HST dicirikan terutama oleh progradasional offlap, sedangkan akhir HST dicirikan oleh oblique offlap. Pada well log dicirikan adanya coarsening-upward pattern.

d. SHELf MARGIN SYSTEM TRACT :
terdiri dari endapan-endapan yang lebih tua pada suatu tipe I depositional sequence. SMST meningkat dari progradasional parasequence menjadi agradasional parasequence yang makin bertambah. Batas bawahnya adalah tipe II sequence boundary yang relatif selaras dengan suatu unconformity yang terbentuk ke arah daratan dimana SMST-nya membaji, dan batas atasnya adalah transgresive surface. Perlapisan SMST menunjukkan onlap ke sequence boundary yang berarah ke basin. SMST diendapkan selama akhir suatu penurunan relatif muka laut sampai suatu penaikan muka laut yang kecepatannya bertambah secara progresif. Pada penampang seismik SMST dicirikan oleh agradasional offlap.

CONDENSED SECTION :
adalah fasies marine yang tipis, yang terdiri dari endapan-endapan pelagis sampao hemipelagis, yang menunjukkan adanya sat kebutuhan akan sedimen detritus di dalam cekungan pengendapan. Condensed section ini paling sering diendapkan di middle-outer shlef, slope, dan basin floor di dalam transgresive system tract dan highstand systen tract selama jangka waktu penaikan permukaan relatif dan transgresi garis pantai maksimum. Biasanya, condebsed cestion ini dikenali dengan satu atau lebih ciri-ciri berikut :
•Kumpulan mikrofosil plankton dan benton dalam jumlah melimpah dan bermacam-macam.
•adanya zona burrowing tipis secara lateral tersebar kontinue.
•bahan-bahan organik marin dan bentonis yang melimpah.
•adanya konsentrasi mineral autogenik seperti gloukonit, fosfat dan siderit.
•adanya pengembangan karbonat yang keras pada dasar section.
Condensed section sekunder diendapkan diatas basin-floor fan dan slope fan.

CONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dari perlapisan yang lebih tua dimana tidak ada tanda erosi (subareal atau submarine) atau hiatus yang jelas.

CORRELATIVE CONFORMITY :
adalah suatu keselarasan yang kronostratigrafinya lateral ekuivalen dengan suatu unconformity.

UNCONFORMITY :
adalah bidang kronostratigrafi yang memisahkan perlapisan yang lebih muda dengan yang lebih tua sepanjang mana ada tanda erosi atau nondeposisi yang menunjukkan suatu hioatus yang jelas. Unconformity bisa dikenali dengan adanya terminasi (seperti onlap, toplap), yaitu suatu gap dalam urutan biostratigrafi, atau suatu fasies disconformity. Periode erosi dan nondeposisi terjadi pada setiap penurunan permukaan laut global, yang menghasilkan interregional unconformities.

HIATUS :
adalah suatu break atau interupsi pada kontinuitas rekor geologi yang disbabkan oleh nondeposisi, sediment bypassing, atau erosi. Bidang yang terbentuk selama suatu waktu ini disebut sebagai bidag hiatus atau unconformitu.

BYPASSING :
adalah pengangkutan sedimen yang melalui daerah nondeposisi.

RAVINEMENT SURFACE :
adalah suatu bidang dari erosi submarine dangkal yang disebabkan oleh gaya gelombang yang berassosiasi dengan penaikan permukaan laut. Butiran-butiran yang halus tersaring dan butiran yang kasar akan tertinggal sebagai lag pada bidang erosi.

SEQUENCE BOUNDARY :
adalah unconformity dan conformitynya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif permukaan laut.

TYPE I SEQUENCE BOUNDARY :
yaitu suatu regional unconformity yang terbentuk ketika permukaan eustacy turun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan basin, yang menyingkap shelf ke erosi subareal. Biasanya permukaan laut turun sampai suatu titik di dekat shlefbreak atau kearah laut dari shlefbreak.

TYPE II SEQUENCE BOUNDARY :
terbentuk ketika cekungan menurun dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan turunnya permukaan laut pada depositional shoreline break.

TOP BASIN-FLOOR FAN SURFACE :
adalah batas basin floor fan dibawahnya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge diatasnya. Slope fan dan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top basin floor fan surface.

TOP SLOPE FAN SURFACE :
adalah batas antara slope fan dibawahnya dengan lowstand prograding wedge menunjukkan downlap ke atas top slope fan surface. Top slope fan surface bisa menunjukkan downlap ke atas basin -floor fan atau ke atas sequence boundary ke arah laut dan menunjukkan onlap ke atas top dari depositional sequence ke arah daratan yang terletak di bawahnya.

MARINE FLOODING SURFACE :
adalah permukaan pada top parasequences yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman tiba-tiba ketika permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan facies air dangkal atau facies nonmarine yang terletak di bawahnya dengan fasies air lebih dalam yang terletak diatasnya.

TRANSGRESIVE SURFACE :
adalah flooding surface penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi maksimum pada top daro lowstand system tract. Dalam skala regional TS memisahkan parasequence progradational atau agradational lowstand systrm tract yang terletak di bawahnya dengan parasequence backsteeping transgresive system tract yang terletak diatasnya. TS berassosiasi dengan suatu fasies discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman tiba-tiba yang meotong bidang batas. TS berupa erosi pada shlef yang reliefnya sampai beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa juga berassosiasi dengan pbble lags dan burrowing. Penggabungan TS dengan sequence boundary dalam suatu arah ke daratan akan menghasilkan TST mengendap langsung diatas endapan-endapan HST yang terletak di bawahnya.

Maximum flooding surface =
marine flooding surface yg tebentuk pd awaktu transgresi maksimum, MFS membentuk top transgressive system trcts dan memisahkan backstepping para sequnces yg ada di bawahnya dgn progradasional parasekuensis yg terletak di atasnya. Prograding klinoform dari HST yg menutupinya menunjukkan down lap ke atas MFS, yg terjadi dianatara condensed section.

Depositional Shoreline break =
fisiografik break pd shelf ke arah daratan dimana dasar laut berada pd atau dekat base level dgn sedikit atau tanpa pengendapan, dan ke arah laut dimana sedimentasi terjadi.

Shelf break =
fisiografi break pd shelf yg ditandai oleh suatu perubahan pd slope dri shelf landai bersudut kecil ke arah daratan dari shelf break samnpai slope curam yg bersudut lebih besar ke arah laut dari shelf break. Kedalamnya <50>500 m.

Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.

?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.

?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi suatu hiatus yang berarti.

?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence set.

?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya

?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air secara tiba2.

?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.

?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.

?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan pengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan pengendapan berada dibawah base level.

?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen < pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah daratan

?Parasequence set progradasional : regresi : V pasokan sedimen > pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan

?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen = pembentukan accomodation space : garis pantai tetap

?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral relationship, geometri distribution of lithology berada dibawah base level.

?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen < pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah daratan

?Parasequence set progradasional : regresi : V pasokan sedimen > pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan

?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen = pembentukan accomodation space : garis pantai tetap

?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral relationship, geometri distribution of lithologyengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan pengendapan berada dibawah base level.

?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen < pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah daratan

?Parasequence set progradasional : regresi : V pasokan sedimen > pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan

?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen = pembentukan accomodation space : garis pantai tetap

?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral relationship, geometri distribution of lithology
•Cabang ilmu geologi yang khusus membahas tentang pemerian dan klasifikasi suatu tubuh batuan terutama batuan sedimen serta korelasinya dengan tubuh batuan yang lain.

MAKSUD :
•Pemerian secara obyektif dan lengkap dari komponen penyusun tubuh batuan, baik secara vertikal maupun secara lateral.
•Penentuan jenis dan macam hubungan antar komponen.


TUJUAN :
•Rekonstruksi proses, pengaruh kondisi organis dan anorganis, tempat, serta perkembangannya dalam:
•-ruang : Paleogeografi
•-waktu : sejarah geologi.

Asas stratigrafi :
•uniformitarianism
•horizontality
•superposisi
•cross cutting relationship
•principle of faunal succession

Stratigrafi analisis meliputi:
•penerapan prinsip stratigrafi untuk analisa cekungan, yaiu:
studi facies
sequen stratigrafi
sedimentary tectonic
basin evalution

case studi.
North American Stratigraphic Code:
dibedakan berdasar content, sifat, dan ciri fisik:
•lithostratigraphic
•lithodemic
•magnetostratigraphic
•biostratigraphic
•pedostratigraphic
•allostratigraphic

dibedakan berdasar umur:
•geologic time
•chronostratigraphic
•geochronologic
•diachronic
•geochronometric
•polarity chronologic
•polarity chronostratigraphic

Pelacakan lateral Lateral :
-transverse outcrop mapping
-profil lintasan (sayatan, peta geologi)
-pemetaan kompas dan langkah jadi pelacakan lateral untuk tempat yang sempit yang memiliki singkapan yang penting.

Vertikal:
-measured section (MS)
-transverse mapping
-structural section
-drawing local column

FACIES :
Aspek fisik, kimia, biologi, dari kenampakan tubuh batuan sedimen dalam suatu kesamaan waktu.
Bidang kesamaan waktu dicerminkan oleh bidang perlapisan.
Bidang perlapisan ditunjukkan oleh:
- perbedaan ukuram butir
- perbedaan komposisi mineral
- perbedaan tekstur dan struktur
Bidang perlapisan terjadi karena loncatan energi pengendapan.
Jika melakukan sampling sebaiknya diambil pada bidang perlapisannya.








LINGKUNGAN PENGENDAPAN :
Bagian dari permukaan bumi yang secara fisik, kimia, biologi dapat dipisahkan dari bagian yang lain.

FACIES PENGENDAPAN :
Suatu massa batuan sedimen yang dapat disendirikan dan dipisahkan dari massa batuan lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, pola arus purba, dan kandungan fosilnya.

Penggunaan istilah lain Facies:
Pengertian secara observasional yang tepat terhadap produk batuan.
Misal: Sandstone facies, limestone facies, marl facies.
Pengertian lingkungan.
Misal : fluvial facies, shallow marine facies.
Pengertian pembentukan batuan secara genetik.
Misal : turbidite facies, contourite facies.
Tecnofacies.
Misal : post orogenic facies, mollase facies.
Interpretasi lingkungan pengendapan harus menggunakan beberapa kenampakan :
-struktur sedimen.
-analisa ukuran butir
-fosil (body maupun trace fosil)
-vertical sequence untuk hubungan lateral
-geometri, penyebaran, dan litologi

NON DEPOSITIONAL HIATUS:
Suatu selang waktu dimana tidak ada pengendapan.

SETTLING VELOCITY :
-Dalam energi arus tertentu hanya akan didapatkan satu macam ukuran butir berdasarkan stream capacity.
-Ukuran butir menunjukkan tingkat abrasi---mengarah pada media transportasi.
-Ukuran butir mengarah pada energi pengendapan--- ukuran butir besar maka energi pengendapannya besar.
-Komposisi mineral mengarah pada provenance--- mengarah pada tectonic sedimentasi.

Geometri facies sedimenter ditentukan oleh:
-Predepositional topography
geomorfologi dari lingkungan pengendapan, misalnya fan---delta, deep marine.
-Post depositional history
sedimen yang diendapkan menjadi obyek dari beberapa proses (diagenesa, kontinuitas deposisi, deformasi tektonik, erosi).
-Suatu geometri tertentu dapat dihasilkan dari beberapa lingkungan yang berbeda, misalnya channel---fluvial, deltaic, tidal, submarine. Fan---alluvial, deltaic, deep marine.
-Geometri ditentukan atas dasar facies mapping (surface: MS, subsurface:seimic, well).
-Geometri perlu diketahui untuk paleoslope, facies trend.

SIKLISITAS SEDIMENTASI :
-Autocyclic---faktor penentunya adalah faktor intern, misalnya channel migration, bar migration.contoh: pada meander
-Allocyclic---faktor penentunya adalah faktor ekstern, misalnya perubahan iklim, perubahan eustacy, tektonik.contoh: pada delta

DIAGENESA:
-kompaksi
-desilasi---keluarnya air dari pori
-sementasi---adanya aliran fluida dari tempat lain yang dapat menyebabkan adanya penyemenan
-rekristalisasi

AMALGAMASI:
-Penumpukan dari waktu ke waktu pada facies yang sama.
-Penumpukan sesuatu yang selalu lengkap kemungkinan besar adalah Allocyclic.
-Autociclyc dapat terjadi tanpa adanya perubahan sea level, yaitu pada perubahan gradien karena arus sungai yang memotong.

SORTING IMAGES:
-sangat baik <0,35>2
Makin pendek distribusi frekuensi suatu ukuran butir maka makin baik sortasinya.

Mineralogy maturity:
-quarzt banyak---mature
-feldspar :
caisic felds---anortit (Ca)
Felsic felds---albit (Na)
Pothas felds---K felds

Teknik Sedimentasi :
-Quartz sandstone---stabil
-Arkose---stabil ada fault
-Graywacke---tidak stabil
-Sub graywacke---tidak stabil
Batugamping---stabil, terjadi jika tidak ada influk sedimen yang kuat dari darat.

STRUKTUR SEDIMEN:
-Primer---inorganik dan organik (trace fosil)
-Sekunder---diagenetic strukur
-Struktur sedimen merupakan pencerminan proses yang terjadi pada lingkungan pengendapan, jarang ada struktur sedimen yang secara khas mencerminkan suatu lingkungan. Urutan struktur sedimen baru bersifat diagnostik.

HK. STOKES :
-Energi tertentu menghasilkan butiran yang tertentu.
-Fosil dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan jika:
-Insitu. Fosil yang reworked biasanya ada isian dan oksida besinya.
-Fosil planktik dan bentik dipisahkan dengan cara diberi larutan yang berat, maka fosil bentik akan tenggelam.

ENERGI LEVEL:
-Flow cond’n ---open fabrik dan closed fabirk.
-Angularity---policyclicity.

Yang harus dilakukan untuk menjelaskan hubungan dalam model stratigrafi:
1.cari data sebanyak-banyaknya
2.tentukan data-data mana yang sama
3.jika model tersebut ternyata dapat dipakai, maka model tersebut dapat digunakan dalam perubahan-perubahan, bail secara vertikal maupun lateral.

BED:
-unit stratigrafi yang terkecil, batasnya adalah I cm dan identik dengan genetik unit.
-Satu genetik unit tidak terbatas pada ketebalannya.
-Pada suatu perlapisan jika:
*bagian atas yang hilang--- truncated facies
*bagian bawah yang hilang---base cut out facies
*keduanya yang hilang --- kombinasi base cut out dan truncated facies.
*Dengan mengetahui hal di atas maka dapat diketahui apakah pengendapannya proximal (dekat) atau distal (jauh), dan juga dapat ditunjukkan kemenerusan prosesnya.

MODEL :
Suatu usaha untuk membuat fakta-fakta yang tidak lengkap menjadi lengkap.

FACIES MODEL :
Urutan-urutan yang ideal dari komponen-komponen facies (terutana litologi dan struktur sedimen) yang menunjukkan keaslian lingkungannya.

STREAM CAPACITY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran yang ditekankan pada jumlahnya pada setiap unit waktu.

STREAM COMPETENCY:
Kemampuan arus air atau angin untuk mentransport butiran dengan ukuran tertentu tergantung pada kepatannya.

GUNA FACIES MODEL :
-sebagai norma
-sebagai kerangka dasar untuk observasi berikutnya
-dipakai sebagai prediktor
-sebagai basis untuk menjelaskan interpretasi hidrodinamika





FLYSCH:
Struktur sedimen yang merupakan perulangan dari kasar-halus-kasar-halus-kasar dan seterusnya.
Faktor pengontrol sedimentasi :
-subsidence
-eustacy
-sedimen suplay
-climate

PROGRADASI : Garis pantai bergeser ke arah laut.

SEDIMEN ACCOMODATION:
-Ruangan yang tersedia untuk sedimen untuk dapat terakumulasi.
-Di dalam equilibrium profile semua sedimen dalam keadaan bypassing atau bergerak.
-Jika equilibrium profile berada di bawah profile sungai maka akan terjadi erosi.
-Jika equilibrium profile di atas profile sungai maka akan terjadi pengendapan.

WATER DEPTH:
kedalaman antara permukaan laut dengan muka sedimen.

COMPACTION :
-Adanya perubahan dasar karena sedimen termampatkan hingga seakan-akan ada sea level rise (?subsidence).
-Subsidence karena kompaksi termasuk autocyclic.
-Kemungkinan akomodasi:
D, E, S konstan –progradasi---regresi
D >, E, S konstan --- progradasi---regresi
D >, E konstan, S < ---constan shore line D >, E >, S konstan--- constan shore line
D <, E, S, konstan--- trangresi D >, E >>, S konstan--- trangresi
D konstan, E konstan, S << --- starved basin Yang dapat terjadi pada coastal plane adalah lagoon, delta plain, beach. FLUVIAL INCISION: -Proses pemotongan profil. -Relative sea level rise tidak akan merubah equilibrium. -Relative sea level drop dapat merubah equilibrium. -faktor-faktor yang mempengaruhi equilibrium profil: -tektonik -relative sea level drop -discharge stream >>>---erosi, <<< --- deposisi -sedimen load <<< --- erosi, >>> --- deposisi
-Proses fluvial incision akan menghasilkan incised valley.
-Pada saat penurunan air laut besarnya erosi akan sangat tergantung dari sudut kemiringan equilibrium profile dan sudut kemiringan subsurface.
-Beda allocyclic karena tektonik dengan karena relative sea level drop:
-Tektonik—fluvial incision akan menipis ke arah base level
-RSL drop--- fluvial incision akan menebal ke arah base level

COASTAL PLAIN :
dataran dimana coastal sedimen akan mengendap.
influk sedimen > relative sea level rise --- agradasi fluvial.

EQUILIBRIUM POINT:
titik sepanjang suatu profil pengendapan dimana kecepatan perubahan eustacy sama dengan kecepatan subsidence/uplift.

RELATIVE SEA LEVEL RISE:
Kenaikan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.

RELATIVE SEA LEVEL DROP:
-Penurunan posisi muka laut dibandingkan dengan permukaan daratan.
-Perubahan facies yang secara genetically dicirikan oleh sdsnys struktur yang gradasional berarti tidak ada perubahan lingkungan pengendapan, contoh : de;ta fluvial berhubungan dengan mud marine meskipun ada bidang erosi.
-Mud dan shale ada hubungan secara genetik.
-Batugamping dan breksi tidak ada hubungan secara genetik.

ISOCHRONOUS : kesamaan waktu.

SEQUENCE :
suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
-membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
-terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 surface =" marine" break =" fisiografik" break =" fisiografi">500 m.

Bayline =
titik yg memisahkan sedimentasi fluvial dgn sedimentasi paralis atau delta plain, bisa terdapat pd shoreline atau ke arah darat dari shoreline.

?Sequence : suatu urutan perlapisan batuan yang relatif selaras dan mempunyai hubungan secara genetis, dibatasi oleh ketidakselarasan atau keselarasannya yang sebanding.

?Batas sequence : suatu bidang yang membatasi suatu sikuen pengendapan, biasanya berupa ketidakselarasan, yaitu suatu permukaan perlapisan batuan yang memisahkan lapisan batuan muda dengan lapisan batuan yang lebih tua, dimana diji\umpai bukti erosi dengan indikasi suatu hiatus yang berarti.

?System tracks : urutan satuan stratigrafi yang relatif selaras dan mempunyai umur yang sama, yang menyusun suatu sikuen pengendapan, terdiri atas parasequence dan parasequence set.

?Parasequence : urutan relatif selaras dari lapisan batuan yang saling berhubungan secara genetis, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya.

?Parasequence set : urutan relatif selaras dari parasequence yang berhubungan secara genetis membentuk stacking pattern yang jelas, dibatasi oleh marine flooding surface dan permukaan korelatifnya

?Marine flooding surface : suatu permukaan yang memisahkan lapisan yang muda dari lapisan yang lebih tua, dan memperlihatkan bukti adanya penambahan kedalaman air secara tiba2.

?Stacking pattern : ragam gambaran parasequence dan parasequence set yang progresive lebih muda berlapis satu diatas yang lainnya.

?Hiatus : suatu break atau interupsi pada kontinuitas record geologi yang disebabkan oleh non deposisi, sediment bypassing atau erosi. Bidang yang terbentuk selama kurun waktu ini disebut sebagai bidang hiatus atau unconformity.

?Depositional shore break : posisi pada shelf dimana ke arah daratan permukaan pengendapan berada pada/dekat denga base level, dan ke arah lautan permukaan pengendapan berada dibawah base level.

?Parasequence set retrogradasional : transgresi : V pasokan sedimen <> pembentukan accomodation space : garis pantai bergerak ke arah cekungan

?Parasequence set agradasional : stationery shoreline (tetap) : V pasokan sedimen = pembentukan accomodation space : garis pantai tetap

?Analisa stratigraf : struktur sedimen, analisa ukuran butir, fosil, vertical sequence lateral relationship, geometri distribution of lithology