RoryHidayat">http://www.dreambingo.co.uk/RoryHidayat">

Cari Blog Ini.......

Memuat...

Mengenai Saya

Foto Saya
Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
I just ordinary boy, but I,m extraordinary boy
Loading...

Total Tayangan Laman

Tulisan Rory Hidayat

Rory Hidayat

Rory Hidayat
yang punya blog ni...yang Nulis...

Pengikut

Sabtu, 30 Oktober 2010

PEMBENTUKAN GUMUK PASIR DI PARANGTRITIS

GUMUK PASIR (SAND DUNES) DI PARANGTRITIS


Gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin dan merupakan sebuah bentukan alam karena proses angin disebut sebagai bentang alam eolean (eolean morphology). Gumuk pasir dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material utama, kecepatan angin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir, dan permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir, biasanya terbentuk di daerah kering.
Pada gumuk pasir cenderung terbentuk dengan penampang tidak simetri. Jika tidak ada stabilisasi oleh vegetasi gumuk pasir cenderung bergeser ke arah angina berhembus, hal ini karena butir-butir pasir terhembus dari depan ke belakang gumuk.

Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah dan ukuran butir pasir, kekuatan dan arah angin, dan keadaan vegetasi. Bentuk gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk melintang (transverse), sabit (barchan), parabola (parabolic), dan memanjang (longitudinal dune).
• Gumuk Pasir tipe Melintang (Transverse).
Gumuk pasir ini terbentuk di daerah yang tidak berpenghalang dan banyak cadangan pasirnya. Bentuk gumuk pasir melintang menyerupai ombak dan tegak lurus terhadap arah angin. Dikarenakan proses eolin yang terus menerus maka terbentuklah bagian yang lain dan menjadi sebuah koloni.

• Gumuk Pasir Tipe Barchan (Barchanoid Dunes).
Gumuk pasir ini bentuknya menyerupai bulan sabit dan terbentuk pada daerah yang tidak memiliki barrier. Besarnya kemiringan lereng daerah yang menghadap angin lebih landai dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin, sehingga apabila dibuat penampang melintang tidak simetri. Ketinggian gumuk pasir barchan umumnya antara 5 – 15 meter.
Gumuk pasir ini merupakan perkembangan, karena proses eolin tersebut terhalangi oleh adanya beberapa tumbuhan, sehingga terbentuk gumuk pasir seperti ini dan daerah yang menghadap angin lebih landai dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin.

• Gumuk Pasir Tipe Parabola (Parabolic).
Gumuk pasir ini hampir sama dengan gumuk pasir barchan akan tetapi yang membedakan adalah arah angin. Gumuk pasir parabolik arahnya berhadapan dengan datangnya angin. Dimungkinkan dahulunya gumuk pasir ini berbentuk sebuah bukit dan melintang, karena pasokan pasirnya berkurang maka gumuk pasir ini terus tergerus oleh angin sehingga membentuk sabit dengan bagian yang menghadap ke arah angin curam.

• Gumuk Pasir Tipe Memanjang (Longitudinal Dune).
Gumuk pasir memanjang adalah gumuk pasir yang berbentuk lurus dan sejajar satu sama lain. Arah dari gumuk pasir tersebut searah dengan gerakan angin. Gumuk pasir ini berkembang karena berubahnya arah angin dan terdapatnya celah diantara bentukan gumuk pasir awal, sehingga celah yang ada terus menerus mengalami erosi sehingga menjadi lebih lebar dan memanjang.

Seperti telah kita ketahui sebelumnya, bahwa gumuk pasir atau sand dune adalah bentuklahan yang terbentuk dari akitivitas angin. Angin yang membawa pasir yang kemudian mengendapkannya dan membentuk berbagai macam tipe gumuk pasir. Pada umumnya gumuk pasir terbentuk pada daerah gurun, namun di Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi memiliki bentukan gumuk pasir tersebut. Dan, daerah tersebut berada di pantai berpasir sebelah selatan Yogyakarta hingga sebelah Selatan Kebumen yang merupakan satu-satunya tempat di Indonesia yang memiliki bentang alam eolean. Sehingga, daerah tersebut merupakan satu-satunya di Indonesia. Terbentuknya gumuk pasir di pantai selatan tersebut merupakan hasil proses yang dipengaruhi oleh angin, Gunung Merapi, Graben Bantul, Serta Sungai Opak dan Progo.
• Pengaruh angin.
Kekuatan angin sangat berpengaruh terhadap pembentukan gumuk pasir, karena kekuatan angin menentukan kemampuannya untuk membawa material yang berupa pasir baik melalui menggelinding (rolling), merayap, melompat, maupun terbang. Karena adanya material pasir dalam jumlah banyak serta kekuatan angin yang besar, maka pasir akan membentuk berbagai tipe gumuk pasir, baik free dunes maupun impended dunes.
Pada pantai selatan jawa, angin bertiup dari arah tenggara, hal ini menyebabkan sungai-sungai pada pantai selatan membelok ke arah kiri jika dilihat dari Samudra Hindia. Selain itu, karena arah tiupan angin tersebut, maka gumuk pasir yang terbentuk menghadap ke arah datangnya angin.

• Pengaruh dari Gunung Merapi.
Material yang ada pada gumuk pasir di pantai selatan Jawa berasal dari Gunung Api Merapi dan gunung gunung api aktif lain yang ada di sekitarnya. Material berupa pasir dan material piroklastik lain yang dikeluarkan oleh Gunung Merapi.
Akibat proses erosi dan gerak massa bautan, material kemudian terbawa oleh aliran sungai, misalnya pada Kali Krasak, Kali Gendol, Kali Suci, dan Sungai Progo. Aliran sungai kemudian mengalirkan material tersebut hingga ke pantai selatan.

• Pengaruh Graben Bantul.
Zona selatan Jawa merupakan plato yang mirining ke arah selatan menuju Samudra Hindia dan di sebelah utara banyak tebing patahan. Sebagian plato ini telah banyak terkikis sehingga kehilangan bentuk platonya. Pada daerah Jawa Tengah dan DIY, sebagian daerah tersebut telah berubah menjadi dataran alluvial, Salah satunya adalah yang terjadi pada daerah bantul yang berupa graben.
Graben adalah blok patahan yang mengalami penurunan diantara dua blok patahan yang naik yang disebut dengan horst. Pada bagian timur graben, terdapat Perbukitan Batur Agung, sedangkan pada bagian barat terdapat Perbukitan Manoreh.
Akibat adanya patahan tersebut, maka batuan pada zona pertemuan kedua blok tersebut menjadi lemah sehingga mudah tererosi dan pada akhirnya membentuk sungai yang disebut dengan sungai patahan yang ditemui misalnya pada Sungai Opak-Oyo. Salah satu ciri sungai patahan yang diamati adalah adanya kelurusan sungai pada sepanjang garis patahan.
• Pengaruh Sungai.
Pembentukan gumuk pasir pada pantai selatan dipengaruhi oleh adanya beberapa aliran sungai, yaitu Sungai Opak-Oyo pada bagian timur dan Sungai Progo pada bagian barat, Sungai Progo ini merupakan sungai utama yang membawa material hasil dari gerusan batuan-batuan volkanik yang berasal dari Gunung Merapi dan Merbabu, serta dari gunung-gunung Sindoro di sebelah barat laut.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa material dari Merapi terbawa oleh aliran sungai di sekitarnya, sungai-sungai tersebut kemudian menyatu membentuk orde sungai yang lebih besar hingga menyatu membentuk sungai Opak, Oyo, dan Progo. Setelah material pasir sampai ke laut, terdapat interverensi dari ombak laut sehingga material mengendap pada pantai selatan dan selanjutnya diterbangkan oleh angin.
Pada pantai selatan Jawa, material tersebut tidak diendapkan pada bagian depan dari sungai yang pada akhirnya membentuk delta, hal ini disebabkan karena kuatnya arus dan gelombang laut pantai selatan serta arahnya yang berasal dari tenggara menyebabkan material terendapkan pada bagian barat sungai. Sehingga, pada bagian Selatan Jawa (berada pada sekitar Sungai Progo) tidak terbentuk delta.

DAFTAR PUSTAKA

• Earlfhamfa.wordpress.com. 2009. Gumuk Pasir Atau Sand Dunes Parantritis. URL: http://earlfhamfa.wordpress.com (diakses pada 16 Desember 2009).
• Rovicky.wordpress.com. 2008. Gumuk Pasir (Sand Dunes), Morfologi Ukiran Angin. URL: http://rovicky.wordpress.com (diakses pada 16 Desember 2009).
• Shara-blogydow.blogspot.com. 2009. Gumuk Pasir Atau Sand Dunes Parangtritis. URL: http://shara-blogydow.blogspot.com (diakses pada 16 Desember 2009).

Jenis- jenis PERANGAKAP minyak BUMI

Jenis-Jenis Perangkap Minyak Bumi

Dalam Sistem Perminyakan, memiliki konsep dasar berupa distribusi hidrokarbon didalam kerak bumi dari batuan sumber (source rock) ke batuan reservoar. Salah satu elemen dari Sistem Perminyakan ini adalah adanya batuan reservoar, dalam batuan reservoar ini, terdapat beberapa faktor penting diantaranya adalah adanya perangkap minyak bumi.

Perangkap minyak bumi sendiri merupakan tempat terkumpulnya minyak bumi yang berupa perangkap dan mempunyai bentuk konkav ke bawah sehingga minyak dan gas bumi dapat terjebak di dalamnya.

Perangkap minyak bumi ini sendiri terbagi menjadi Perangkap Stratigrafi, Perangkap Struktural, Perangkap Kombinasi Stratigrafi-Struktur dan perangkap hidrodinamik.

  • Perangkap Stratigrafi

Jenis perangkap stratigrafi dipengaruhi oleh variasi perlapisan secara vertikal dan lateral, perubahan facies batuan dan ketidakselarasan dan variasi lateral dalam litologi pada suatu lapisan reservoar dalam perpindahan minyak bumi. Prinsip dalam perangkap stratigrafi adalah minyak dan gas bumi terperangkap dalam perjalanan ke atas kemudian terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, hal ini dikarenakan batuan reservoar telah menghilang atau berubah fasies menjadi batu lain sehingga merupakan penghalang permeabilitas (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya). Dan jebakan stratigrafi tidak berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti Channels, Barrier Bar, dan Reef, namun berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti Onlap Pinchouts, dan Truncations.

Pada perangkap stratigrafi ini, berasal dari lapisan reservoar tersebut, atau ketika terjadi perubahan permeabilitas pada lapisan reservoar itu sendiri. Pada salah satu tipe jebakan stratigrafi, pada horizontal, lapisan impermeabel memotong lapisan yang bengkok pada batuan yang memiliki kandungan minyak. Terkadang terpotong pada lapisan yang tidak dapat ditembus, atau Pinches, pada formasi yang memiliki kandungan minyak. Pada perangkap stratigrafi yang lain berupa Lens-shaped. Pada perangkap ini, lapisan yang tidak dapat ditembus ini mengelilingi batuan yang memiliki kandungan hidrokarbon. Pada tipe yang lain, terjadi perubahan permeabilitas dan porositas pada reservoar itu sendiri. Pada reservoar yang telah mencapai puncaknya yang tidak sarang dan impermeabel, yang dimana pada bagian bawahnya sarang dan permeabel serta terdapat hidrokarbon.

Pada bagian yang lain menerangkan bahwa minyak bumi terperangkap pada reservoar itu sendiri yang Cut Off up-dip, dan mencegah migrasi lanjutan, sehingga tidak adanya pengatur struktur yang dibutuhkan. Variasi ukuran dan bentuk perangkap yang demikian mahabesar, untuk memperpanjang pantulan lingkungan pembatas pada batuan reservoar terendapkan.

  • Perangkap Struktural

Jenis perangkap selanjutnya adalah perangkap struktural, perangkap ini Jebakan tipe struktural ini banyak dipengaruhi oleh kejadian deformasi perlapisan dengan terbentuknya struktur lipatan dan patahan yang merupakan respon dari kejadian tektonik dan merupakan perangkap yang paling asli dan perangkap yang paling penting, pada bagian ini berbagai unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoar sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan oleh gejala tektonik atau struktur seperti pelipatan dan patahan (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya).

  • Jebakan Patahan

Jebakan patahan merupakan patahan yang terhenti pada lapisan batuan. Jebakan ini terjadi bersama dalam sebuah formasi dalam bagian patahan yang bergerak, kemudian gerakan pada formasi ini berhenti dan pada saat yang bersamaan minyak bumi mengalami migrasi dan terjebak pada daerah patahan tersebut, lalu sering kali pada formasi yang impermeabel yang pada satu sisinya berhadapan dengan pergerakan patahan yang bersifat sarang dan formasi yang permeabel pada sisi yang lain. Kemudian, minyak bumi bermigrasi pada formasi yang sarang dan permeabel. Minyak dan gas disini sudah terperangkap karena lapisan tidak dapat ditembus pada daerah jebakan patahan ini.

  • Jebakan Antiklin

Kemudian, pada jebakan struktural selanjutnya, yaitu jebakan antiklin, jebakan yang antiklinnya melipat ke atas pada lapisan batuan, yang memiliki bentuk menyerupai kubah pada bangunan. Minyak dan gas bumi bermigrasi pada lipatan yang sarang dan pada lapisan yang permeabel, serta naik pada puncak lipatan. Disini, minyak dan gas sudah terjebak karena lapisan yang diatasnya merupakan batuan impermeabel.

  • Jebakan Struktural lainnya

Contoh dari perangkap struktur yang lain adalah Tilted fault blocks in an extensional regime, marupakan jebakan yang bearasal dari Seal yang berada diatas Mudstone dan memotong patahan yang sejajar Mudstone. Kemudian, Rollover anticline on thrust, adalah jebakan yang minyak bumi berada pada Hanging Wall dan Footwall. Lalu, Seal yang posisinya lateral pada diapir dan menutup rapat jebakan yang berada diatasnya.

  • Perangkap Kombinasi

Kemudian perangkap yang selanjutnya adalah perangkap kombinasi antara struktural dan stratigrafi. Dimana pada perangkap jenis ini merupakan faktor bersama dalam membatasi bergeraknya atau menjebak minyak bumi. Dan, pada jenis perangkap ini, terdapat leboh dari satu jenis perangkap yang membenuk reservoar. Sebagai contohnya antiklin patahan, terbentuk ketika patahan memotong tegak lurus pada antiklin. Dan, pada perangkap ini kedua perangkapnya tidak saling mengendalikan perangkap itu sendiri.

  • Perangkap Hidrodinamik

Kemudian perangkap yang terakhir adalah perangkap hidrodinamik. Perangkap ini sangta jarang karena dipengaruhi oleh pergerakan air. Pergerakan air ini yang mampu merubah ukuran pada akumulasi minyak bumi atau dimana jebakan minyak bumi yang pada lokasi tersebut dapat menyebabkan perpindahan. Kemudian perangkap ini digambarkan pergerakan air yang biasanya dari iar hujan, masuk kedalam reservoar formasi, dan minyak bumi bermigrasi ke reservoar dan bertemu untuk migrasi ke atas menuju permukaan melalui permukaan air. Kemudian tergantung pada keseimbangan berat jenis minyak, dan dapat menemukan sendiri, dan tidak dapat bergerak ke reservoar permukaan karena tidak ada jebakan minyak yang konvensional.

(Dari Pelbagai Sumber)

Terbentuknya Tsunami

TSUNAMI (Ombak besar di pelabuhan)

tsunami_hokusai.jpgtsunamiword.jpg Tsunami adalah kata yang berasal dari Jepang dan terdiri atas dua kata yaitu tsu (atas) yang berarti harbor dan nami (bawah) yang berarti wave. Jadi tsunami dalam bahasa inggrisnya disebut ”harbor wave” . Kenapa disebut harbor wave atau gelombang pelabuhan? Apakah tsunami ini memang hanya terjadi di harbor atau pelabuhan saja? Alasan kenapa tsunami disebut ”harbor wave” adalah karena gelombang tersebut mempunyai dampak yang sangat menghancurkan pada daerah-daerah pantai yang relatif rendah di Jepang. Istilah tsunami dipakai nelayan Jepang yang pada saat itu kembali ke pelabuhan dan menemukan area yang hancur akibat gelombang besar. Gelombang tersebut tidak mereka rasakan pada saat di laut lepas. Apa yang membedakan gelombang tsunami dibandingkan dengan gelombang lainnya dan membuat gelombang tersebut sangat istimewa?

Banyak yang menyebutkan bahwa tsunami adalah bagian dari gelombang pasang surut. Sebenarnya tsunami tidak mempunyai hubungan dengan pasang surut air laut. Pasang surut banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya luar seperti gaya grafitasi yang dipengaruhi bulan, matahari, dan planet-planetnya sementara tsunami tidak ada hubungannya dengan faktor-faktor tersebut. Selain banyak yang menyebut tsunami sebagai gelombang pasang surut, banyak pula yang menyebutnya sebagai gelombang laut seismik. Pernyataan ini didasarkan bahwa tsunami digerakkan oleh adanya gempa bumi. Pernyataan ini juga tidak sepenuhnya benar karena tsunami tidak hanya terjadi akibat gempa bumi yang berkaitan dengan gelombang seismik tetapi bisa juga terjadi akibat letusan gunung api, tanah longsor, atau bahkan akibat jatuhnya meteor dari luar angkasa yang menghantam bumi dan kesemuanya itu bisa dikelompokkan ke dalam gelombang yang tidak ada kaitannya dengan seismik. Akan tetapi secara umum dan didasarkan data statistik, tsunami banyak terjadi akibat gempa.

Kalau memang tsunami tidak berkaitan dengan pasang surut dan juga tidak sepenuhnya bisa disebut gelombang seismik, jadi apa gelombang tsunami tersebut? Gelombang tsunami adalah suatu rangkaian gelombang atau ombak yang dihasilkan akibat perpindahan yang cepat dari suatu volume air akibat gangguan yang terjadi pada volume air tersebut. Pada saat tsunami terjadi, bukanlah gelombang pertama yang mampu menghancurkan semua yang dilaluinya akan tetapi rentetan gelombang berikutnyalah yang berpotensi menghancurkan. Nah apa yang bisa membuat gangguan pada suatu volume air tersebut? Banyak yang bisa membuat gangguan pada volume air tersebut seperti gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, bahkan jatuhan meteor juga mampu menciptakan tsunami.

lituya1.jpg Mungkin banyak yang menyangsikan tanah longsor bisa membuat tsunami. Tapi rekaman sejarah membuktikan bahwa tanah longsor juga berpotensi membuat gelombang tsunami seperti yang terjadi tanggal 9 July 1958 dimana longsoran tanah di Teluk Lituya di Alaska. Kecepatan gelombang tsunami tercatat sebesar 150 km/jam dan mencapai ketinggian 524 meter (the highest ever). Tsunami yang disebabkan oleh proses tanah longsor ini memang berbeda dengan tsunami yang terjadi di lautan bebas yang disebabkan oleh gempa bumi. Tsunami jenis ini biasanya cepat menghilang dan jarang sampai berpengaruh ke pantaikarena area yang terkena dampaknya juga relatif lebih kecil. Contoh lain yaitu pada tahun 1963 di Bendungan Vajont di Italia bagian utara. Tanah longsor yang terjadi menciptakan tsunami di dekat bendungan dan mampu melewati bendungan tanpa merusak bendungan tersebut dan dilaporkan hampir 2000 orang meninggal. Semua itu membuktikan bahwa tanah longsor berpotensi menghasilkan tsunami tetapi memang sebagian besar tsunami diciptakan oleh adanya gempa bumi terutama yang terjadi di pertemuan batas lempeng seperti di zona-zona subduksi dimana satu lempeng bergerak menyusup ke bawah dari lempeng satunya. Selain tanah longsor, letusan gunung api yang terbukti bisa menciptakan contohnya adalah letusan Gunung Krakatoa di tahun 1883. Ketinggian gelombang akibat letusan gunung api tersebut tercatat sampai 40 meter di atas muka air laut. Nah ayo kita bahas gimana tsunami terjadi akibat pertemuan dua lempeng di zona subduksi.

Tsunami yang terjadi di zona subduksi ini terjadi akibat gempa bumi. Gempa bumi ini terjadi akibat pergerakan lempeng samudera yang menyusup ke lempeng benua dan akibat pergerakan ini, volume air laut di atasnya yang beratnya berton-ton akan terganggu. Energi yang mendorong volume air laut ke atas sampai di atas permukaan air laut ini akan dipindahkan ke air laut tersebut. Dan karena grafitasi yang ada pada volume air laut tersebut maka energi tersebut akan dipindahkan secara horizontal dan menciptakan gelombang yang cukup besar energinya dan bergerak menuju daratan. Kecepatan dari gelombang tsunami bisa mencapai 500 sampai 1000 km/jam dimana angka ini sangat jauh berbeda dengan kecepatan gelombang yang ditimbulkan oleh angin yang cuma mencapai 10 sampai 100 km/jam. Coba amati model yang dibuat Prof. Nobuo Shuto (Tohoku University – Jepang) dari tsunami yang yang terjadi akibat gempa di Chile tahun 1960 dimana gempa tersebut tercatat sebesar 9.5 skala Richter (the strongest earthquake ever).

2004_indonesia_tsunami_edit.gif Contoh lain adalah gempa bumi yang tercatat sebesar 9.1 skala Richter di Sumatera Utara – Aceh (Kepulauan Andaman) pada tahun 2004. Gempa tersebut mampu menciptakan tsunami dan mampu bergerak sampai sejauh benua Afrika. Sebenarnya daerah yang rawan terkena tsunami adalah daerah-daerah di Pasifik dimana Samudera Pasifik adalah samudera terbesar di dunia (lebih dari 1/3 total area di bumi). Samudera Pasifik ini dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan, palung-palung yang sangat dalam di samudera, dan kepulauan busur vulkanik yang sering disebut lingkaran api atau ”ring of fire” yang kesemuanya itu berpotensi menghasilkan tsunami yang sangat dahsyat. Analog dari proses terbentuknya tsunami adalah seperti waktu kita menjatuhkan batu di kolam dan ketika batu tersebut jatuh ke dalam kolam, maka akan terbentuk gelombang yang melingkar. Kalau masih penasaran…..cobain deh J.

Coba amati simulasi komputer yang dilakukan oleh NOAD (National Oceanic and Atmospheric Administration).

Gelombang tsunami ini juga berbeda karakteristiknya dengan gelombang lain. Gelombang tsunami mempunyai amplitudo atau tinggi gelombang yang tidak begitu tinggi (kurang dari 1 meter) terutama di laut lepas tetapi mempunyai panjang gelombang yang sangat panjang. Panjang gelombang adalah jarak antara puncak gelombang ke puncak gelombang berikutnya. Panjang gelombang dari tsunami bisa mencapai ratusan kilometer dimana angka ini juga berbeda dengan panjang gelombang dari gelombang yang disebabkan oleh angin yang hanya sebesar 100 sampai 200 meter. Akibat dari panjangnya gelombang tsunami maka perioda (waktu untuk puncak gelombang berikutnya mencapai tempat yang sama dari gelombang sebelumnya) akan cukup besar (mulai dari beberapa menit sampai ke jam). Sedangkan untuk gelombang yang timbul oleh angin periodanya cukup kecil yaitu sekitar 10 detik untuk panjang gelombang sekitar 150 meter. Kecepatan dari tsunami kira-kira sebesar akar dua dari hasil perkalian percepatan grafitasi dan kedalaman air [v = (g * D)^0.5]. Jadi semakin dalam lautan maka kecepatan tsunami akan semakin besar pula. Akan tetapi kecepatan tsunami akan berkurang pada saat tsunami tersebut mendekati garis pantai atau daratan. Hal ini disebabkan kedalaman dari lautan akan semakin berkurang saat mendekati daratan sehingga kecepatannya juga akan berkurang. Sebagai konsekuensi berkurangnya kecepatan akibat semakin dangkalnya lautan maka gelombang tsunami akan semakin tinggi pada saat mendekati garis pantai atau daratan (bisa mencapai puluhan meter). Efek ini sering disebut shoaling. Oleh sebab itu, banyak nelayan yang tidak menyadari adanya tsunami di laut lepas karena gelombangnya relatif kecil padahal pada saat menuju daratan tinggi gelombang tsunami akan bertambah sehingga mampu menghancurkan apa saja yang ada di garis pantai pada saat tsunami ini melewati daerah tersebut. Coba perhatikan animasi di bawah ini bagaimana tsunami bisa terbentuk di daerah patahan di laut lepas dan merusak daerah pantai pada saat tsunami tersebut menuju daratan.

Kalau kita sudah tahu bagaimana tsunami terjadi akibat gempa bumi maka kita perlu tahu juga tanda-tanda akan terjadinya tsunami. Banyak tanda-tanda yang bisa dilihat apabila daerah kita berpotensi terjadi tsunami. Diantara tanda-tanda itu adalah:

  • Merasakan terjadinya gempa.
  • Air laut surut secara drastis dan tiba-tiba. Air laut bisa surut sampai ratusan meter. Surutnya air laut ini bukan bukti berakhirnya bencana akan gempa bumi akan tetapi menandakan akan adanya bencana lain yang terjadi akibat gempa bumi yaitu tsunami.
  • Batas horizon antara lautan dan langit tidak terlihat jelas (seperti terlihat mendung). Ini sebenarnya terjadi karena gelombang tsunami yang ada di lautan sedang menuju ke daratan dan karena gelombang tersebut semakin meninggi maka butir-butir air laut yang terbawa oleh gelombang semakin dominan sehingga batas antara lautan dan langit tidak terlihat jelas.
  • Biasanya akan muncul gelembung-gelembung gas pada apermukaan air dan membuat pantai terlihat seperti mendidih.
  • Terdengar gemuruh dari laut lepas yang menandakan adanya gerakan gelombang yang sangat cepat menuju daratan.

dart_buoy-wave.jpg Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri. Peringatan akan adanya tsunami ini disampaikan oleh tsunameter yang diletakkan di dasar samudera dan mengirim sinyal ke dart buoy yang diapungkan di samudera (seperti DART (Deep Ocean Assessment and Reporting of Tsunamis) buoy yang terpasang di Samudera pasifik ini). Sinyal ini kemudian diteruskan ke satelit untuk kemudian dikirimkan lagi ke beberapa stasiun di bumi. Nah coba amati animasi berikut bagaimana kita bisa memperoleh informasi adanya kemungkinan tsunami.

Adakah cara untuk mengurangi efek kerusakan oleh tsunami? Beberapa negara yang memang terbukti sering dilanda tsunami seperti Jepang, mereka membangun apa yang disebut Tsunami Wall yaitu bangunan tembok yang dibangun setinggi sampai 4.5 meter untuk menahan laju gelombang tsunami pada saat gelombang tersebut mendekati daerah pantai. Akan tetapi bangunan tersebut kadang kurang efektif karena tinggi tsunami bis amencapai puluhan meter sehingga gelombang tersebut masih mampu melewati bangunan tembok tersebut. Cara lain adalah membangun pintu-pintu banjir atau parit yang cukup besar dan lebar yang berfungsi membelokkan air yang datang akibat tsunami. Cara alamiah adalah menanam pohon bakau (mangrove) di sekitar garis pantai yang terbukti mampu menahan laju tsunami seperti kasus di pemukiman Naluvedapathy di daerah India Tamil yang mengalami kerusakan tidak begitu parah akibat tsunami tahun 2004 yang terjadi di Sumatera Utara – Aceh (kepulauan Andaman).

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan apabila tanda-tanda tsunami dapat kita lihat sehingga besar kemungkinan daerah kita terkena tsunami? Yang penting dalam melakukan tindakan penyelamatan adalah tetap tenang dan tidak panik sehingga memungkinkan kita untuk tetap berfikir rasional. Setelah itu carilah daerah yang tinggi dimana gelombang tsunami tidak akan mampu menjangkau daerah tersebut seperti daerah perbukitan.

Berikut ini adalah kejadian dimana tsunami –tsunami besar di dunia terekam:

  • 26 Desember 2004 : Gempa bumi di Sumatera Utara – Aceh – Indonesia dengan skala 9.1 menimbulkan tsunami yang melanda 10 negara dan menewaskan 280000 orang
  • 17 Juli 1998 : Gempa bumi yang terjadi di Papua – New Guinea menghasilkan tsunami yang menewaskan 2000 orang
  • 12 Juli 1993 : Gempa bumi di OkushiriJapan menimbulkan tsunami yang menewaskan 202 orang
  • 12 Desember 1979 : Gempa bumi di Tumaco – Kolombia dengan skala 7.9 menimbulkan tsunami yang menewaskan 259 orang
  • 16 Agustus 1976 : Gempa bumi di Teluk Moro – Filipina dengan skala 7.9 menimbulkan tsunami dan menewaskan sedikitnya 5000 orang
  • 28 Maret 1964 : Gempa bumi yang terjadi di Alaska dengan skala 9.2 menimbulkan tsunami yang mampu melanda pesisir barat Amerika (Oregon dan California) dan menewaskan 121 orang
  • 1963 : Tsunami yang melanda Bendungan Vajont – Italia yang disebabkan oleh tanah longsor dan menewaskan 2000 orang
  • 22 Mei 1960 : Gempa bumi yang terbesar yang pernah terjadi di dunia (The Great Chilean Earthquake ever) dengan skala 9.5 mampu menghasilkan tsunami yang dapat bergerak sampai ke Jepang dalam 22 jam dan menewaskan 1000 orang
  • 1 April 1946 : Gempa bumi di Aleutian Island – Alaska yang mampu menimbulkan tsunami yang bergerak ke Hawai. Tsunami ini terkenal di Hawai dengan April Fools Day Tsunami
  • 31 Januari 1906 : Gempa bumi di Tumaco – Kolombia yang menimbulkan tsunami dan menewaskan sampai 1500 orang
  • 15 Juni 1896 : Gempa bumi di Sanriku – Jepang yang menimbulkan tsunami dan menewaskan 26000 orang
  • 27 Agustus 1883 : Letusan gunung api Kratatau – Indonesia yang mampu menimbulkan tsunami dan membunuh 36000 orang. Letusan tersebut dicacat sebagai salah satu letusan terdahsyat di dunia
  • 1 November 1755 : Gempa bumi yang terjadi di Lisbon – Portugal yang mampu menimbulkan tsunami dan membunuh beberapa ribu orang. Tsunami terjadi setengah jam setelah gempa bumi terjadi.

Referensi :

Proses Pembentukan Hydrokarbon (minyak bumi)

Element dan Proses Dalam Pembentukan Hydrokarbon

migas.jpg Banyak orang bertanya-tanya bagaimana sih minyak itu terbentuk dan kenapa tidak semua tempat bisa punya jebakan minyak dan gas bumi? Jadi inget waktu dulu diceritain kalo di suatu tempat ada minyak bumi berarti dulu dinosaurus pernah tinggal dan mati disitu. Terus karena dinosaurus itu tertimbun dan mengalami peruraian maka berubahlah dinosaurus itu menjadi organik material dan akhirnya menjadi minyak bumi. Hmmmm…salah satu penjelasan yang masuk akal. Tapi kalo dipikir-pikir lagi kenapa cuma dinosaurus saja yang bisa jadi minyak gimana dengan yang lain???

Nah looohhh….mulailah kita berpikir lebih panjang lagi untuk bisa menjelaskan proses terbentuknya dan terjebaknya minyak dan gas bumi. Ada suatu analog yang bisa kita pakai untuk menjelaskan terjebaknya hydrocarbon. Seperti halnya membuat kue (sllluurrppp), sebelum kita bisa menikmati kue itu maka kita harus punya bahan dasar kue dan proses gimana membuat kue. Hal ini sama dengan minyak bumi, sebelum minyak terjebak maka kita perlu element atau unsur dan proses pembentuk minyak dan gas bumi.

petroleum-system.jpg Element atau unsur minyak bumi bisa dibagi menjadi 5 bagian.

1. Batuan induk (Source): batuan yang mempunyai banyak kandungan material organik. Batuan ini biasanya batuan yang mempunyai sifat mampu mengawetkan kandungan material organik seperti batu lempung atau batuan yang punya banyak kandungan material organik seperti batu gamping.

2. Batuan penyimpan (Reservoir): batuan yang mempunyai kemampuan menyimpan fluida seperti batu pasir dimana minyak atau gas dapat berada di antara butiran batu pasir. Atau bisa juga di batu gamping yang banyak rongga-rongganya. Intinya batu yang punya rongga dan rongga-rongga ini terhubung satu sama lain.

3. Batuan penutup (Seal): batuan yang impermeable atau batuan yang tidak gampang tembus karena berbutir sangat halus dimana butiran satu sama lain sangat rapat.

4. Migrasi (Migration): berpindahnya minyak atau gas bumi yang terbentuk dari batuan induk ke batuan penyimpan sampai dimana minyak dan gas bumi tidak dapat berpindah lagi.

5. Jebakan (Trap): bentuk dari suatu geometri yang mampu menahan minyak dan gas bumi untuk dapat berkumpul.

migration.jpg Proses juga tidak kalah pentingnya dengan unsur penyusun minyak bumi. Kalau kita punya unsur tapi proses tidak mendukung atau sebaliknya maka minyak bumi juga tidak akan terbentuk. Proses juga bisa dibagi menjadi 5 tahap.

1. Pembentukan (Generation): Tekanan dari batuan2 di atas batuan induk membuat temperatur dan tekanan menjadi lebih besar dan dapat menyebabkan batuan induk berubah dari material organik menjadi minyak atau gas bumi.

2. Migrasi atau perpindahan (Migration): Senyawa hidrokarbon (minyak dan gas bumi) akan cenderung berpindah dari batuan induk (source) ke batuan penyimpan (reservoir) karena berat jenisnya yang ringan dibandingkan air.

3. Pengumpulan (Accumulation): Sejumlah senyawa hidrokarbon yang lebih cepat berpindah dari batuan induk ke batuan penyimpan dibandingkan waktu hilangnya jebakan akan membuat minyak dan gas bumi terkumpul.

4. Penyimpanan (Preservation): Minyak atau gas bumi tetap tersimpan di batuan penyimpan dan tidak berubah oleh proses lainnya seperti biodegradation (berubah karena ada mikroba-mikroba yang dapat merusak kualitas minyak).

5. Waktu (Timing): Jebakan harus terbentuk sebelum atau selama minyak bumi berpindah dari batuan induk ke batuan penyimpan.

Nah…..kalo semuanya ini terpenuhi maka kemungkinan besar kita bisa menemukan jebakan minyak atau gas bumi.

Referensi :

  • AAPG – www.aapg.org
  • Magoon, LB, and WG Dow, 1994, The petroleum system

Arus Traksi dan Arus Turbidit


Transportasi dan Deposisi Sedimen

Media transportasi dari sedimen pada umumnya dapat dibagi menjadi berikut ini :

  • Air

- Gelombang

- Pasang Surut

- Arus Laut

  • Udara
  • Es
  • Gravitasi

- Debris flow

- Turbidite flow

Secara umum ada 2 mekanisme fisik yang membuat sedimen tertransportasi, yaitu

  1. suspended load, berhubungan dengan arus air yang mentransportasikan butiran atau partikel halus seperti ukuran lanau atau lempung dengan pasir yang bervariasi secara proporsi dan ukuran, tertransportasi pada badan utama dari aliran.
  2. bed load, berhubungan dengan beberapa hal yang menyebabkan partikel bergerak pada dasar aliran dan kadangkala meninggalkan jejak pada badan sedimen pada dasar aliran tersebut.

Aliran Turbulen

Aliran turbulen behubungan dengan aliran yang bergerak dengan kuat dan kecepatan yang tinggi yang dapat mentransportasikan sedimen. Umumnya, aliran pada sungai merupakan aliran turbulen. Pada dasarnya, aliran ini dibedakan dengan aliran laminar yang merupakan aliran yang bergerak degan kecepatan rendah dan arah yang paralel terhadap dasar aliran.

Berikut ini merupakan mode transportasi yang mungkin terjadi pada arus turbulen, yaitu :

A. Traksi (bergelinding pada permukaan dasar aliran),

B. Saltasi (meloncat-loncat pada dasar permukaan dasar aliran),

C. Suspensi (mengalami trasportasi yang relatif permanen dalam badan aliran

D. Solution (mengalami transpotasi secara kimia).

Froud Number

Angka Froud merupakan besaran tanpa demensi yang digunakan untuk menentukan suatu aliran itu subkritikal atau superkritikal.

Fr = U ⁄ √(gD) dengan U = kecepatan aliran, D = dalam badan aliran, dan g = kecepatan gelombang.

HUKUM HJULSTROM

Hukum Hjulstrom diterangkan dengan sebuah grafik yang menggambarkan pada kecepatan berapa suatu partikel dengan ukuran tertentu akan tererosi, tertransportasi, dan terendapkan atau apakah yang terjadi pada partikel berukuran tertetu bila berada pada sistem aliran dengan kecepatan tertentu. Berikut merupakan gambar grafik tersebut :

ARUS TRAKSI

Arus traksi merupakan istilah bagi arus pada fluida yang dapat menyebabkan proses transportasi yang memungkinkan sedimen bergerak sebagai bed load. Peristiwa saltasi pada aliran turbulen juga sebenarnya berhubungan dengan keberadan arus traksi. Traction carpet, merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu daerah khayal dalam suatu badan aliran fluida, dimana partikel-partikel bergerak diatas partikel-partikel yang tidak bergerak.

Struktur Sedimen

Struktur sedimen di alam tidak dapat dipisahkan dari gambaran muka lapisan. Muka lapisan dihasilkan oleh materi yang inkoheren terhadap fluida. Permukaan lapisan tersebut dapat berubah bergantung pada aliran pada permukaan dasarnya. Harms dan Fahnestock (1965) membagi aliran menjadi tiga macam, yaitu regim aliran atas, transisi, dan bawah. Rezim aliran merupakan kumpulan dari beberapa hubungan yang berlaku pada aliran air, sudut permukaan air atau sedimen, tipe transportasi sedimen, energi arus, dan morfologi yang berhubungan dengan permukaan sedimen dan permukaan air. Terdapat kecenderungan bagi sedimen yang dengan rezim aliran lambat untuk tidak membentuk gelombang pada permukaannya, yang menyebabkan permukaan air cenderung tidak memiliki riak. Demikian sebaliknya, apabila sedimen di dasar air bergelombang maka permukaan air juga akan bergelombang.

Regim Aliran Bawah (Lower Flow Regim)

Pada regim aliran bawah, tahanan aliran besar sehingga pengangkutan butir oleh air kecil. Bentuk permukaan tidak menyatu dengan dasar aliran. Struktur muka lapisan yang umum ditemukan adalah small ripple atau megariple atau kombinasi keduanya. Transportasi butir yang terjadi adalah pergerakkan butir menaiki punggungan kedua bentuk perlapisan ini dan longsor ke bagian yang besudut tajam. Memiliki nilai Froud <>

Regim Aliran Transisi (Transition Flow Regim)

Regim ini memiliki bentuk perlapisan campuran antara regim aliran atas dan bawah. Memiliki nilai Froud = 1.

Regim Aliran Atas (Upper Flow Regim)

Pada regim aliran atas, tahanan aliran kecil sehingga pengangkutan butir terjadi dengan kuat. Bentuk permukaan fluida menyatu dengan dasar aliran. Struktur muka lapisan yang umum adalah planar (plane bed) atau antidune. Memiliki nilai Froud > 1.

Hubungan antara struktur sedimen pada regim aliran yang terbentuk dengan kuat arus dan diameter sedimen dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut :

Perbedaan antara strukur lower flow regim dan lower flow regim dapat dilihat seperti di bawah ini :

ARUS TURBIDIT

Turbidit didefinisikan oleh Keunen dan Migliorini (1950) sebagai suatu sedimen yang diendapkan oleh mekanisme arus turbidit, sedangkan arus turbidit itu sendiri adalah suatu arus yang memiliki suspensi sedimen dan mengalir pada dasar tubuh fluida, karena mempunyai kerapatan yang lebih besar daripada cairan tersebut.

Endapan turbidit mempunyai karakteristik tertentu yang sekaligus dapat dijadikan sebagai ciri pengenalnya. Namun perlu diperhatikan bahwa ciri itu bukan hanya berdasarkan suatu sifat tunggal sehingga tidak bisa secara langsung untuk mengatakan bahwa suatu endapan adalah endapan turbidit. Hal ini disebabkan banyak struktur sedimen tersebut, yang juga berkembang pada sedimen yang bukan turbidit.

Litologi dan Struktur

Karakteristik endapan turbidit pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam dua bagian besar berdassarkan litologi dan struktur sedimen, yaitu :

  • Karakteristik Litologi
  1. Terdapat perselingan tipis yang bersifat ritmis antar batuan berbutir relatif kasar dengan batuan yang berbutir relatif halus, dengan ketebalan lapisan beberapa milimeter sampai beberapa puluh centimeter. Umumnya perselingan antar batupasir dan serpih. Batas atas dan bawah lapisan planar, tanpa adanya scouring.
  2. Pada lapisan batuan berbutir kasar memiliki pemilahan buruk dan mengandung mineral-mineral kuarsa, feldspar, mika, glaukonit, juga banyak didapatkan matrik lempung. Kadang-kadang dijumpai adanya fosil rework, yang menunjukan lingkungan laut dangkal.
  3. Pada beberapa lapisan batupoasir dan batulanau didapatkan adanya fragmen tumbuhan.
  4. Kontak perlapisan yang tajam, kadang berangsur menjadi endapan pelagik.
  5. Pada perlapisan batuan, terlihat adanya struktur sedimen tertentu yang menunjukan proses pengendapannya, yaitu antara lain perlapisan bersusun, planar, bergelombang, konvolut, dengan urut-urutan tertentu.
  6. Tak terdapat struktur sedimen yang memperlihatkan ciri endapan laut dangkal maupun fluvial.
  7. Sifat-sifat penunjukan arus akan memperlihatkan pola aliran yang hampir seragam saat suplai terjadi.
  • Karakteristik Struktur sedimen

Menurut Bouma (1962) dalam hal pengenalan endapan turbidit salah satu ciri yang penting adalah struktur sedimen, karena mekanisme pengendapan arus turbidit memberikan karakteristik sedimen tertentu. Banyak klasifikasi struktur sedimen hasil mekanisme arus turbid, salah satunya karakteristik genetik dari Selly (1969). Selly (1969) mengelompokan struktur sedimen menjadi 3 berdasarkan proses pembentukannya :

  • Struktur Sedimen Pre-Depositional

Merupakan struktur sedimen yang terjadi sebelum pengendapan sedimen, yang berhubungan dengan proses erosi oleh bagian kepala (head) dari suatu arus turbid (Middleton, 1973). Umumnya pada bidang batas antara lapisan batupasir dan serpih. Beberapa struktur sedimen yang antara lain flute cast, groove cast.

  • Struktur Sedimen Syn-Depositional

Struktur yang terbentuk bersamaan dengan pengendapan sedimen, dan merupakan struktur yang penting dalam penentuan suatu endapan turbidit. Beberapa struktur sedimen yang penting diantaranya adalah perlapisan bersusun, planar, dan perlapisan bergelombang.

  • Struktur Sedimen Post-Derpositional

Struktur sedimen yang dibentuk setelah terjadi pengendapan sedimen, yang umumnya berhubungan dengan proses deformasi. Salah satunya struktur load cast.

Karakteristik-karakteristik tersebut tidak selalu harus ada pada suatu endapan turbidit. Dalam hal ini lebih merupakan suatu alternatif, mengingat bahwa suatu endapan turbidit juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang akan memberikan ciri yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lain.Umumnya struktur sedimen yang ditemukan pada endapan turbidit adalah struktur sedimen yang terbentuk karena proses sedimentasi, terutama yang terjadi karena proses pengendapan suspensi dan arus.

Sekuen Bouma

Bouma (1962) memberikan urutan ideal endapan turbidit yang dikenal dengan Sekuen Bouma. Bouma Sequence yang lengkap dibagi 5 interval (Ta-Te), peralihan antara satu interval ke interval berikutnya dapat secara tajam, berangsur, atau semu, yaitu

  • Gradded Interval (Ta)

Merupakan perlapisan bersusun dan bagian terbawah dari urut-urutan ini, bertekstur pasir kadang-kadang sampai kerikil atau kerakal. Struktur perlapisan ini menjadi tidak jelas atau hilang sama sekali apabila batupasirnya memiliki pemilahan yang baik. Tanda-tanda struktur lainnya tidak tampak.

  • Lower Interval of Parallel Lamination (Tb)

Merupakan perselingan antara batupasir dengan serpih atau batulempung, kontak dengan interval dibawahnya umumnya secara berangsur.

  • Interval of Current Ripple Lamination (Tc)

Merupakan struktur perlapisan bergelombang dan konvolut. Ketebalannya berkisar antara 5-20 cm, mempunyai besar butir yang lebih halus daripada kedua interval dibawahnya. (Interval Tb).

  • Upper Interval of Parallel Lamination (Td)

Merupakan lapisan sejajar, besar butir berkisar dari pasir sangat halus sampai lempung lanauan. Interval paralel laminasi bagian atas, tersusun perselingan antarabatupasir halus dan lempung, kadang-kadang lempung pasirannya berkurang ke arah atas. Bidang sentuh sangat jelas.

  • Pelitic Interval (Te)

Merupakan susunan batuan bersifat lempungan dan tidak menunjukan struktur yang jelas ke arah tegak, material pasiran berkurang, ukuran besar butir makin halus, cangkang foraminifera makin sering ditemukan. Bidang sentuh dengan interval di bawahnya berangsur. Diatas lapisan ini sering ditemukan lapisan yang bersifat lempung napalan atau yang disebut lempung pelagik.

Kipas bawah laut


Dari penelitian fasies turbidit, maka dilakukan pembuatan suatu model kipas bawah laut (sebagai contoh gambar diatas merupakan kipas bawah laut tipe eagle), yang merupakan asosiasi dari beberapa fasies. Dari model tersebut diharapkan dapat diketahui arah pengendapan serta letak dari suatu endapan turbidit. Walker dan Mutti (1973) telah mengemukakan suatu model, yaitu model kipas laut dalam dan hubungannya dengan fasies turbidit. Walker (1978) kemudian menyedehanakannya menjadi 5 fasies, yaitu :

  • Fasies Turbidit Klasik (Classical Turbidite, CT)

Fasies ini pada umumnya terdiri dari perselingan antara batupasir dan serpih/batulempung dengan perlapisan sejajar tanpa endapan channel. Struktur sedimen yang sering dijumpai adalah perlapisan bersusun, perlapisan sejajar, dan laminasi, konvolut. Lapisan batupasir menebal ke arah atas. Pada bagian dasar batupasir dijumpai hasil erosi akibat penggerusan arus turbidit (sole mark) dan dapat digunakan untuk menentukan arus turbidit purba.

  • Fasies Batupasir masif (Massive Sandstone, MS)

Fasies ini terdiri dari batupasir masif, kadang-kadang terdapat endapan channel, ketebalan 0,5-5 meter, struktur mangkok/dish structure. Fasies ini berasosiasi dengan kipas laut bagian tengah dan atas.

  • Fasies Batupasir Kerakalan (Pebbly Sandstone, PS)

Fasies ini terdiri dari batupasir kasar, kerikil-kerakal, struktur sedimen memperlihatkan perlapisan bersusun, laminasi sejajar, tebal 0,5 – 5 meter. Berasosiasi dengan channel, penyebarannya secara lateral tidak menerus, penipisan lapisan batupasir ke arah atas dan urutan Bouma tidak berlaku.

  • Fasies Konglomeratan (Clast Supported Conglomerate, CGL)

Fasies ini terdiri dari batupasir sangat kasar, konglomerat, dicirikan oleh perlapisan bersusun, bentuk butir menyudut tanggung-membundar tanggung, pemilahan buruk, penipisan lapisan batupasir ke arah atas, tebal 1-5 m. Fasies ini berasosiasi dengan sutrafanlobes dari kipas tengah dan kipas atas.

  • Fasies Lapisan yang didukung oleh aliran debris flow dan lengseran (Pebbly mudstone, debris flow, slump and slides, SL).

Fasies ini terdiri dari berbagai kumpulan batuan, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah-bongkah yang terkompaksi. Fasies ini berasosiasi dengan lingkungan pengendapan kipas atas.

Berikut merupakan salah satu contoh sekuen sedimentasi yang digenerasi oleh arus turbidit densitas tinggi pasir-gravel :

ILMU DASAR "GEOLOGI"


RORY HIDAYAT BERBAGI BERBAGAI ILMU DASAR GEOLOGI.........landscape, petrologi, geomorfologi, mineralogi, kristalografi, sedimentologi.


October 30 2010

TENTANG LANDSCAPE


1. Cuesta

Cuesta adalah punggung bukit /perbukitan curam yang terbentuk dari lapisan batuan sediment pada struktur homoklinal. Memiliki lereng yang curam dimana terlihat lapisan-lapisan batuan pada tepi lerengnya.

2.Hogback

Merupakan barisan perbukitan homoklinal yang terbentuk dari monocline. Tersusun atas kemiringan lapisan batuan yang menonjol dari lingkungan sekitarnya. Memiliki kemiringan/kecuraman lebih dari 30o – 40o dengan kemiringan yang hampir simetris pada setiap punggung bukit.

3. Messa

Merupakan dataran tinggi dengan permukaan atas yang datar dan sisi tebing yang curam. Umumnya terbentuk dari pengangkatan lapisan horisontal batuan oleh kegiatan tektonik. Messa merupakan karakteristik dari bentang alam yang kering.

4. Butte

Adalah suatu bukit terisolasi yang curam yang umumnya memiliki sisi vertical, datar di permukaan atas dan lebih kecil dibandingkan Messa.

5. Braided Stream

Salah satu tipe saluran (stream) sungai dimana saluran tersebut terdiri atas jaringan-jaringan saluran yang lebih kecil yang bercabang-cabang. Terjadi di sungai dengan kemiringan tinggi atau karena timbunan sediment yang besar.

6. Meandering Stream

Secara umum merupakan anak sungai yang berliku-liku. Terbentuk ketika air dalam aliran sungai mengikis tepi sungai atau lembah yang lebar.

7. Alluvial Fan

Alluvial fan adalah endapan yang berbentuk seperti kipas dan terbentuk ketika aliran sungai mendatar, melambat dan menyebar. Alluvial fan umumnya terdapat pada pintu keluar dari jurang/ngarai ke suatu dataran yang polos.

8. Mogote

Mogote tampak seperti bukit-bukit kapur yang pada umumnya terdapat di sepanjang garis pantai. Memiliki bentuk khas yang membulat dengan tinggi kurang dari 25m dan diameter antara 10 – 200m. Mogote merupakan struktur geomorfologis yang dapat ditemukan di kawasan Karibia, khususnya di Kuba.

9. Uvala

Uvala merupakan kumpulan cekungan-cekungan depresi yang saling terhubung. Dapat juga disebut dengan kumpulan beberapa doline.

10. Doline

Bentang alam depresi yang berbentuk seperti mangkuk. Memiliki ukuran mulai dari lubang kecil di tanah dengan diameter kurang dari 1 meter hingga jurang besar berkedalaman dan diameter puluhan hingga ratusan meter.

11. Kaldera

Kaldera (caldera) adalah kawah (umumnya pada gunung berapi). Terbentuk dari runtuhnya tanah/dataran sebagai akibat dari erupsi gunung berapi. Keruntuhan dapat disebabkan karena kosongnya dapur magma paska erupsi besar gunung berapi.

12. Cinder Cone

Cinder cone (scoria cone) adalah bukit berbentuk kerucut yang curam. Terbentuk dari akumulasi fragmen-fragmen vulkanik di sekitar suatu lubang vulkanik dan terbentuk dari material piroklastik. Cinder cone dapat berukuran berkisar puluhan hingga ratusan meter.

13. Volcanic Neck

Volcanic neck (volcanic plug/lava neck) adalah bentang alam gunung berapi yang terbentuk ketika magma mengeras atau membeku di dalam lubang vulkanik pada gunung berapi aktif.

14. Dune

Dune merupakan bukit pasir (umumnya di padang pasir). Terbentuk karena tumpukan pasir besar yang terkumpul bersama karena tiupan/hembusan angin. Dune memiliki bermacam bentuk dan ukuran tergantung pada pengaruh dari hembusan angin.

15. Loess

Merupakan endapan sediment yang sangat halus yang terendapkan karena angin. Endapan sediment Loess dapat memiliki ketebalan dari beberapa sentimeter hingga beratus-ratus meter.

16. Sea Stack

Bentang alam geologi, umumnya berbentuk tiang batu vertikal di pantai atau di laut dekat pantai. Sea stack terbentuk ketika air (laut) mengikis tanjung daratan.

17. Barrier Reef

Barrier reef (karang penghalang) merupakan kumpulan/gugusan terumbu karang yang besar sebagai pemisah antara samudera dengan laguna. Barrier reef yang terkenal adalah Great Barrier Reef di Laut Koral, Queensland, Australia.

18. Atol

Suatu pulau koral (karang) yang mengelilingi sebuah laguna, baik sebagian maupun seluruhnya. Sebagian besar terletak di Samudera Pasifik, dan hanya dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis.

19. Sea Arc

Suatu lengkungan alami atau jembatan alami yang terbuat dari batu. Terbentuk sebagai hasil dari pengikisan oleh air laut terhadap tebing batuan di tepi pantai.

TENTANG : GEOMORFOLOGI

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang roman permukaan dan bentang alam muka bumi, termasuk di dalamnya mempelajari tentang proses pembentukannya. Geomorfologi, dari bahasa Yunani dari kata Ge = bumi, morfe = bentuk dan logos = mempelajari. Geomorfologi erat kaitannya dengan struktur geologi, tipe batuan, dan iklim regional/lokal.

Proses Geomorfik

Proses geomorfik merupakan segala perubahan fisika dan kimia yang berakibat pada bervariasinya roman permukaan bumi.

1.Proses eksogenik; proses geomorfik yang disebabkan tenaga dari luar kulit bumi (air, angin, es).

- Gradasi; proses pembentukan bentang alam secara positif (sedimentasi).

- Degradasi; proses eksogenik secara negatif (pelapukan, erosi).

2.Proses endogenik; proses geomorfik yang diakibatkan oleh tenaga dari dalam bumi.

- Diastropisme; proses deformasi yang besar dari dalam bumi.

- Vulkanisme; proses keluarnya magma dari dalam bumi.

3.Proses ekstraterestrial; proses geomorfik dari angkasa luar.


TENTANG :TIPE BENTANG ALAM


Bentang alam (landform) permukaan bumi menurut Van Zuldam (1979), diklasifikasikan berdasarkan asal terbentuknya atau genesisnya dibagi menjadi :

  1. Bentang alam alluvial
  2. Bentang alam struktural
  3. Bentang alam kars
  4. Bentang alam eolian
  5. Bentang alam laut dan pantai
  6. Bentang alam vulkanik
  7. Bentang alam glacial dan periglasial

1. Bentang Alam Alluvial

Bentang alam alluvial adalah bentang alam yang terbentuk dari proses yang berkaitan dengan air permukaan/aliran sungai (proses fluvial). Sungai itu sendiri dapat dibedakan berdasar keberadaan saluran yang tetap menjadi :

- Stream; aliran sungai belum memiliki saluran yang tetap (masih dapat berpindah).

- River; aliran sungai telah memiliki saluran yang permanen.

Sungai dapat diklasifikasikan kembali berdasarkan stadium erosinya menjadi :

- Sungai muda; bercirikan erosi vertical efektif, relative lurus dan mengalir di atas batuan induk, tidak terjadi sedimentasi, dan penampang berbentuk V.

- Sungai dewasa; bercirikan erosi lateral efektif dan relatif kecil, terdapatnya cabang-cabang sungai dan penampang berbentuk U.

- Sungai tua; bercirikan erosi lateral sangat efektif dengan aliran berliku-liku (meander), anak sungai relatif lebih banyak dibandingka dengan sungai dewasa.

Proses Fluvial

Proses fluvial adalah suatu proses baik kimia maupun fisika yang menyebabkan perubahan bentang alam/bentuk permukaan bumi karena pengaruh air permukaan. Proses fluvial dapat diklasifikasikan menjadi :

- Erosi; proses terkikisnya batuan (abrasi, korosi, coring, scouring)

- Transportasi; proses terangkutnya material-material hasil erosi.

- Sedimentasi; proses terendapnya material hasil erosi yang telah mengalami proses transportasi.

Proses transportasi dan sedimentasi sangat dipengaruhi oleh faktor kekentalan, kepekatan dan kecepatan aliran sungai.

2. Bentang Alam Eolian

Bentang alam eolian adalah bentang alam yang terbentuk sebagai pengaruh dari angin. Dalam hal ini, bentang alam eolian akan lebih terlihat di daerah gurun (gurun pasir) karena sedikitnya faktor penghalang dan ketiadaan faktor pengikat oleh material-material bebas.

Di daerah ini, proses pembentukan yang terjadi pada umumnya meliputi proses pengikisan oleh angin dan proses sedimentasi. Proses sedimentasi (pengendapan) oleh angin ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Dune; merupakan bukit yang terbentuk sebagai hasil dari timbunan pasir oleh hembusan angin. Dune akan sangat dipengaruhi oleh kuatnya hembusan dan kecepatan angin, bentuk dari permukaan dan adanya rintangan.

Dune memiliki berbagai macam tipe, yaitu :

- Star dune; dune dengan banyak punggung bukit pasir ridge yang bertemu pada satu titik.

- Transverse dune; dune yang terbentuk di sepanjang jejak angin.

- Barchan; bukit pasir lengkung bertanduk.

2. Loess; merupakan daerah yang luas yang tertutup oleh material-material halus.

3. Bentang Alam Vulkanik

Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang terbentuk sebagai akibat dari proses atau kegiatan vulkanisme/gunung berapi. Vulkanisme dibagi dalam menjadi tiga macam :

- Vulkanisme letusan; vulkanisme pada magma yang bersifat basa dan kental. Memiliki karakteristik letusan yang kuat dan umumnya menghasilkan material piroklastik serta membentuk gunung api terjal.

- Vulkanisme lelehan; vulkanisme pada magma asam dan bersifat encer, dimana vulkanisme ini memiliki letusan yang lemah. Vulkanisme jenis ini akan membentuk gunung api jenis perisai.

- Vulkanisme campuran; vulkanisme pada magma intermediate, umumnya membentuk gunung api strato.

Gunung api dapat dibedakan berdasarkan tipe erupsinya menjadi :

- Tipe Hawaii (perisai); tipe gunung ini memiliki tipe vulkanisme lelehan dengan bentuk kubah yang relatif landai, umumnya tedapat kaldera.

- Tipe Krakatau; memiliki tipe vulkanisme lelehan dan letusan.

- Tipe Pelee; memiliki tipe vulkanisme letusan dengan bentuk bentang gunung kerucut.

Berdasarkan penampakan morfologi, bentang alam gunung api diklasifikasikan menjadi :

- Depresi vulkanik; umumnya berupa bentang alam cekungan. Depresi vulkanik dapat berupa danau vulkanik, kawah, dan kaldera.

- Kubah vulkanik; bentang alam yang memiliki bentuk cembung ke atas, berupa Parasite cone, Cinder cone.

- Vulkanik semu; bentang alam yang mirip gunung api, bahkan dapat terbentuk karena proses vulkanisme yang berdekatan.

- Dataran vulkanik; dicirikan dengan puncak vulkanik yang datar dan memiliki perbedaan/variasi perbedaan ketinggian yang tidak terlalu mencolok. Dataran vulkanik berupa dataran rendah basal, plato basal, dan dataran plato basal.

TENTANG BATUAN METAMORF


METAMORF dan FACIES METAMORFISME



Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme batuan-batuan sebelumnya karena perubahan temperatur dan tekanan. Metamorfisme terjadi pada keadaan padat (padat ke padat) meliputi proses kristalisasi, reorientasi dan pembentukan mineral-mineral baru serta terjadi dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral yang mempunyai batas-batas kestabilan tertentu yang jika dikenakan tekanan dan temperatur yang melebihi batas tersebut maka akan terjadi penyesuaian dalam batuan dengan membentuk mineral-mineral baru yang stabil. Disamping karena pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga dipengaruhi oleh fluida, dimana fluida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara butiran mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion terlarut akan mempercepat proses metamorfisme.

Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut ;

- Komposisi mineral batuan asal

- Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme

- Pengaruh gaya tektonik

- Pengaruh fluida

Pada pengklasifikasiannya berdasarkan struktur, batuan metamorf diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

- Foliasi, struktur planar pada batuan metamorf sebagai akibat dari pengaruh tekanan diferensial (berbeda) pada saat proses metamorfisme.

- Non foliasi, struktur batuan metamorf yang tidak memperlihatkan penjajaran mineral-mineral dalam batuan tersebut.

Jenis-jenis Metamorfisme

  1. Metamorfisme kontak/termal

Metamorfisme oleh temperatur tinggi pada intrusi magma atau ekstrusi lava.

  1. Metamorfisme regional

Metamorfisme oleh kenaikan tekanan dan temperatur yang sedang, dan terjadi pada daerah yang luas.

  1. Metamorfisme Dinamik

Metamorfisme akibat tekanan diferensial yang tinggi akibat pergerakan patahan lempeng.

Facies Metamorfisme

Facies merupakan suatu pengelompokkan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap facies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme. Dan dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.

Macam-macam Batuan Metamorfisme


1. Slate

Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).

Asal : Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna : Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir : Very fine grained

Struktur : Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi : Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : Rendah

Ciri khas : Mudah membelah menjadi lembaran tipis

2. Filit

Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal : Metamorfisme Shale

Warna : Merah, kehijauan

Ukuran butir : Halus

Stuktur : Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah – Intermediate

Ciri khas : Membelah mengikuti permukaan gelombang

3. Gneiss

Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.

Asal : Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna : Abu-abu

Ukuran butir : Medium – Coarse grained

Struktur : Foliated (Gneissic)

Komposisi : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya amphibole dan mika.

4. Sekis

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.

Asal : Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna : Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir : Fine – Medium Coarse

Struktur : Foliated (Schistose)

Komposisi : Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet

5. Marmer

Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.

Asal : Metamorfisme batu gamping, dolostone

Warna : Bervariasi

Ukuran butir : Medium – Coarse Grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah – Tinggi

Ciri khas : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.


6. Kuarsit

Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .

Asal : Metamorfisme sandstone (batupasir)

Warna : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir : Medium coarse

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kuarsa

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas : Lebih keras dibanding glass


7. Milonit

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.

Asal : Metamorfisme dinamik

Warna : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir : Fine grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Dapat dibelah-belah


8. Filonit

Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika)

Asal : Metamorfisme Shale, Mudstone

Warna : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir : Medium – Coarse grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Permukaan terlihat berkilau


9. Serpetinit

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit.

Asal : Batuan beku basa

Warna : Hijau terang / gelap

Ukuran butir : Medium grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Serpentine

Ciri khas : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

10. Hornfels

Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.

Asal : Metamorfisme kontak shale dan claystone

Warna : Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir : Fine grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak

Ciri khas : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

Tentang Skala Wentworth


Skala Wentworth (oleh Uden Wentworth tahun 1922) digunakan dalam pengklasifikasian batuan sedimen khususnya batuan sedimen klastik berdasarkan ukuran butir-butir penyusun batuan.

02_f07

Skala klasifikasi batuan sedimen klastik oleh Wentworth, 1922

Wentworth

Perbandingan pengkalsifikasian batuan sedimen

TENTANG Batuan Sedimen


Sedimentary Rocks (batuan sedimen) adalah batuan yang terbentuk dari litifikasi (kompaksi dan sementasi) material-material hasil pelapukan batuan yang telah terangkut (oleh media air, angin, es) dan diendapkan dalam suatu cekungan. Batuan sedimen memiliki tekstur berupa fragmen dan struktur yang berlapis.

Batuan sedimen dan sedimen hanya mengisi 0,029% dari total volume bumi, namun tersebar secara merata pada permukaan bumi dan merupakan dua per tiga batuan yang berada di atas permukaan bumi.

dipping_beds

Dipping lapisan batuan sedimen, Rocky Mountains, Canada

(sumber:physicalgeography.net)


Batuan-batuan Sedimen

Batupasir120px-SandstoneUSGOV

Lanausiltstone

Batulempunglempung2

KongklomeratBatu%20Konglomerat

Breksi180px-PO-breccia

Rijang180px-ChertUSGOVjpg

BatugampingBAtu%20Gamping

Dolomit (dolostone)250px-Dolomit_z_brochantytem_Maroko

Batubara200px-Coal_anthracite

GipsumGipsum

Fosforitfosforit

TENTANG Bowen’s Reaction Series


Seri Reaksi Bowen (Bowen Reaction Series) menggambarkan proses pembentukan mineral pada saat pendinginan magma dimana ketika magma mendingin, magma tersebut mengalami reaksi yang spesifik. Dan dalam hal ini suhu merupakan faktor utama dalam pembentukan mineral.

Tahun 1929-1930, dalam penelitiannya Norman L. Bowen menemukan bahwa mineral-mineral terbentuk dan terpisah dari batuan lelehnya (magma) dan mengkristal sebagai magma mendingin (kristalisasi fraksional). Suhu magma dan laju pendinginan menentukan ciri dan sifat mineral yang terbentuk (tekstur, dll). Dan laju pendinginan yang lambat memungkinkan mineral yang lebih besar dapat terbentuk.

Bowens

Dalam skema tersebut reaksi digambarkan dengan “Y”, dimana lengan bagian atas mewakili dua jalur/deret pembentukan yang berbeda. Lengan kanan atas merupakan deret reaksi yang berkelanjutan (continuous), sedangkan lengan kiri atas adalah deret reaksi yang terputus-putus/tak berkelanjutan (discontinuous).

1. Deret Continuous

Deret ini mewakili pembentukan feldspar plagioclase. Dimulai dengan feldspar yang kaya akan kalsium (Ca-feldspar, CaAlSiO) dan berlanjut reaksi dengan peningkatan bertahap dalam pembentukan natrium yang mengandung feldspar (Ca–Na-feldspar, CaNaAlSiO) sampai titik kesetimbangan tercapai pada suhu sekitar 9000C. Saat magma mendingin dan kalsium kehabisan ion, feldspar didominasi oleh pembentukan natrium feldspar (Na-Feldspar, NaAlSiO) hingga suhu sekitar 6000C feldspar dengan hamper 100% natrium terbentuk.

2. Deret Discontinuous

Pada deret ini mewakili formasi mineral ferro-magnesium silicate dimana satu mineral berubah menjadi mineral lainnya pada rentang temperatur tertentu dengan melakukan reaksi dengan sisa larutan magma. Diawali dengan pembentukan mineral Olivine yang merupakan satu-satunya mineral yang stabil pada atau di bawah 18000C. Ketika temperatur berkurang dan Pyroxene menjadi stabil (terbentuk). Sekitar 11000C, mineral yang mengandung kalsium (CaFeMgSiO) terbentuk dan pada kisaran suhu 9000C Amphibole terbentuk. Sampai pada suhu magma mendingin di 6000C Biotit mulai terbentuk.

Bila proses pendinginan yang berlangsung terlalu cepat, mineral yang telah ada tidak dapat bereaksi seluruhnya dengan sisa magma yang menyebabkan mineral yang terbentuk memiliki rim (selubung). Rim tersusun atas mineral yang telah terbentuk sebelumnya, misal Olivin dengan rim Pyroxene.

Deret ini berakhir dengan mengkristalnya Biotite dimana semua besi dan magnesium telah selesai dipergunakan dalam pembentukan mineral.

3. Apabila kedua jalur reaksi tersebut berakhir dan seluruh besi, magnesium, kalsium dan sodium habis, secara ideal yang tersisa hanya potassium, aluminium dan silica. Semua unsur sisa tersebut akan bergabung membentuk Othoclase Potassium Feldspar. Dan akan terbentuk mika muscovite apabila tekanan air cukup tinggi. Sisanya, larutan magma yang sebagian besar mengandung silica dan oksigen akan membentuk Quartz (kuarsa).

Dalam kristalisasi mineral-mineral ini tidak termasuk dalam deret reaksi karena proses pembentukannya yang saling terpisah dan independent.

TENTANG Minerals


Mineral adalah suatu senyawa yang secara alami terbentuk melalui proses geologi. Disebut mineral apabila terbentuk secara alami di alam (bukan sintesis oleh manusia), tersusun dari senyawa anorganik, memiliki stuktur kimia dan mempunyai struktur tertentu, dan memiliki sifat fisik yang konsisten. Sifat fisik yang konsisten menyangkut kekerasan (hardness), bentuk, warna, belahan, dsb.

Pada umumnya kita sulit membandingkan antara batu dengan mineral, tetapi pada dasarnya batu/batuan terbentuk atau mengandung 2 atau lebih mineral dan mineral tidak terbuat dari batu.

Sifat Fisik Mineral :

  1. Warna
  2. Kekerasan
  3. Cerat
  4. Kilap
  5. Belahan
  6. Pecahan
  7. Bentuk
  8. Kemagnetan
  9. Sifat dalam
  10. Transparensi

Contoh Minerals :

  1. Talc240px-Talc_block
  2. Gypsum180px-GipsitaEZ
  3. Calcite200px-Calcite-HUGE
  4. Fluorite120px-Fluorite_octahedron
  5. Apatite240px-Apatite_crystals
  6. Orthoclase240px-Mineraly.sk_-_ortoklas
  7. Plagioclase180px-PlagioclaseFeldsparUSGOV
  8. Quartz (kuarsa)180px-QuartzUSGOV
  9. Topaz110px-Topaz-2
  10. Corundum180px-Corindon_azulEZ
  11. Diamond250px-Rough_diamond
  12. Piroxene180px-Peridot_in_basalt
  13. Hornblende240px-Amphibole
  14. Biotite180px-BiotitaEZ