RoryHidayat">http://www.dreambingo.co.uk/RoryHidayat">

Cari Blog Ini.......

Mengenai Saya

Foto saya
Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
I just ordinary boy, but I,m extraordinary boy

Total Tayangan Laman

Tulisan Rory Hidayat

Rory Hidayat

Rory Hidayat
yang punya blog ni...yang Nulis...

Pengikut

Sabtu, 30 Oktober 2010

ILMU DASAR "GEOLOGI"


RORY HIDAYAT BERBAGI BERBAGAI ILMU DASAR GEOLOGI.........landscape, petrologi, geomorfologi, mineralogi, kristalografi, sedimentologi.


October 30 2010

TENTANG LANDSCAPE


1. Cuesta

Cuesta adalah punggung bukit /perbukitan curam yang terbentuk dari lapisan batuan sediment pada struktur homoklinal. Memiliki lereng yang curam dimana terlihat lapisan-lapisan batuan pada tepi lerengnya.

2.Hogback

Merupakan barisan perbukitan homoklinal yang terbentuk dari monocline. Tersusun atas kemiringan lapisan batuan yang menonjol dari lingkungan sekitarnya. Memiliki kemiringan/kecuraman lebih dari 30o – 40o dengan kemiringan yang hampir simetris pada setiap punggung bukit.

3. Messa

Merupakan dataran tinggi dengan permukaan atas yang datar dan sisi tebing yang curam. Umumnya terbentuk dari pengangkatan lapisan horisontal batuan oleh kegiatan tektonik. Messa merupakan karakteristik dari bentang alam yang kering.

4. Butte

Adalah suatu bukit terisolasi yang curam yang umumnya memiliki sisi vertical, datar di permukaan atas dan lebih kecil dibandingkan Messa.

5. Braided Stream

Salah satu tipe saluran (stream) sungai dimana saluran tersebut terdiri atas jaringan-jaringan saluran yang lebih kecil yang bercabang-cabang. Terjadi di sungai dengan kemiringan tinggi atau karena timbunan sediment yang besar.

6. Meandering Stream

Secara umum merupakan anak sungai yang berliku-liku. Terbentuk ketika air dalam aliran sungai mengikis tepi sungai atau lembah yang lebar.

7. Alluvial Fan

Alluvial fan adalah endapan yang berbentuk seperti kipas dan terbentuk ketika aliran sungai mendatar, melambat dan menyebar. Alluvial fan umumnya terdapat pada pintu keluar dari jurang/ngarai ke suatu dataran yang polos.

8. Mogote

Mogote tampak seperti bukit-bukit kapur yang pada umumnya terdapat di sepanjang garis pantai. Memiliki bentuk khas yang membulat dengan tinggi kurang dari 25m dan diameter antara 10 – 200m. Mogote merupakan struktur geomorfologis yang dapat ditemukan di kawasan Karibia, khususnya di Kuba.

9. Uvala

Uvala merupakan kumpulan cekungan-cekungan depresi yang saling terhubung. Dapat juga disebut dengan kumpulan beberapa doline.

10. Doline

Bentang alam depresi yang berbentuk seperti mangkuk. Memiliki ukuran mulai dari lubang kecil di tanah dengan diameter kurang dari 1 meter hingga jurang besar berkedalaman dan diameter puluhan hingga ratusan meter.

11. Kaldera

Kaldera (caldera) adalah kawah (umumnya pada gunung berapi). Terbentuk dari runtuhnya tanah/dataran sebagai akibat dari erupsi gunung berapi. Keruntuhan dapat disebabkan karena kosongnya dapur magma paska erupsi besar gunung berapi.

12. Cinder Cone

Cinder cone (scoria cone) adalah bukit berbentuk kerucut yang curam. Terbentuk dari akumulasi fragmen-fragmen vulkanik di sekitar suatu lubang vulkanik dan terbentuk dari material piroklastik. Cinder cone dapat berukuran berkisar puluhan hingga ratusan meter.

13. Volcanic Neck

Volcanic neck (volcanic plug/lava neck) adalah bentang alam gunung berapi yang terbentuk ketika magma mengeras atau membeku di dalam lubang vulkanik pada gunung berapi aktif.

14. Dune

Dune merupakan bukit pasir (umumnya di padang pasir). Terbentuk karena tumpukan pasir besar yang terkumpul bersama karena tiupan/hembusan angin. Dune memiliki bermacam bentuk dan ukuran tergantung pada pengaruh dari hembusan angin.

15. Loess

Merupakan endapan sediment yang sangat halus yang terendapkan karena angin. Endapan sediment Loess dapat memiliki ketebalan dari beberapa sentimeter hingga beratus-ratus meter.

16. Sea Stack

Bentang alam geologi, umumnya berbentuk tiang batu vertikal di pantai atau di laut dekat pantai. Sea stack terbentuk ketika air (laut) mengikis tanjung daratan.

17. Barrier Reef

Barrier reef (karang penghalang) merupakan kumpulan/gugusan terumbu karang yang besar sebagai pemisah antara samudera dengan laguna. Barrier reef yang terkenal adalah Great Barrier Reef di Laut Koral, Queensland, Australia.

18. Atol

Suatu pulau koral (karang) yang mengelilingi sebuah laguna, baik sebagian maupun seluruhnya. Sebagian besar terletak di Samudera Pasifik, dan hanya dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis.

19. Sea Arc

Suatu lengkungan alami atau jembatan alami yang terbuat dari batu. Terbentuk sebagai hasil dari pengikisan oleh air laut terhadap tebing batuan di tepi pantai.

TENTANG : GEOMORFOLOGI

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang roman permukaan dan bentang alam muka bumi, termasuk di dalamnya mempelajari tentang proses pembentukannya. Geomorfologi, dari bahasa Yunani dari kata Ge = bumi, morfe = bentuk dan logos = mempelajari. Geomorfologi erat kaitannya dengan struktur geologi, tipe batuan, dan iklim regional/lokal.

Proses Geomorfik

Proses geomorfik merupakan segala perubahan fisika dan kimia yang berakibat pada bervariasinya roman permukaan bumi.

1.Proses eksogenik; proses geomorfik yang disebabkan tenaga dari luar kulit bumi (air, angin, es).

- Gradasi; proses pembentukan bentang alam secara positif (sedimentasi).

- Degradasi; proses eksogenik secara negatif (pelapukan, erosi).

2.Proses endogenik; proses geomorfik yang diakibatkan oleh tenaga dari dalam bumi.

- Diastropisme; proses deformasi yang besar dari dalam bumi.

- Vulkanisme; proses keluarnya magma dari dalam bumi.

3.Proses ekstraterestrial; proses geomorfik dari angkasa luar.


TENTANG :TIPE BENTANG ALAM


Bentang alam (landform) permukaan bumi menurut Van Zuldam (1979), diklasifikasikan berdasarkan asal terbentuknya atau genesisnya dibagi menjadi :

  1. Bentang alam alluvial
  2. Bentang alam struktural
  3. Bentang alam kars
  4. Bentang alam eolian
  5. Bentang alam laut dan pantai
  6. Bentang alam vulkanik
  7. Bentang alam glacial dan periglasial

1. Bentang Alam Alluvial

Bentang alam alluvial adalah bentang alam yang terbentuk dari proses yang berkaitan dengan air permukaan/aliran sungai (proses fluvial). Sungai itu sendiri dapat dibedakan berdasar keberadaan saluran yang tetap menjadi :

- Stream; aliran sungai belum memiliki saluran yang tetap (masih dapat berpindah).

- River; aliran sungai telah memiliki saluran yang permanen.

Sungai dapat diklasifikasikan kembali berdasarkan stadium erosinya menjadi :

- Sungai muda; bercirikan erosi vertical efektif, relative lurus dan mengalir di atas batuan induk, tidak terjadi sedimentasi, dan penampang berbentuk V.

- Sungai dewasa; bercirikan erosi lateral efektif dan relatif kecil, terdapatnya cabang-cabang sungai dan penampang berbentuk U.

- Sungai tua; bercirikan erosi lateral sangat efektif dengan aliran berliku-liku (meander), anak sungai relatif lebih banyak dibandingka dengan sungai dewasa.

Proses Fluvial

Proses fluvial adalah suatu proses baik kimia maupun fisika yang menyebabkan perubahan bentang alam/bentuk permukaan bumi karena pengaruh air permukaan. Proses fluvial dapat diklasifikasikan menjadi :

- Erosi; proses terkikisnya batuan (abrasi, korosi, coring, scouring)

- Transportasi; proses terangkutnya material-material hasil erosi.

- Sedimentasi; proses terendapnya material hasil erosi yang telah mengalami proses transportasi.

Proses transportasi dan sedimentasi sangat dipengaruhi oleh faktor kekentalan, kepekatan dan kecepatan aliran sungai.

2. Bentang Alam Eolian

Bentang alam eolian adalah bentang alam yang terbentuk sebagai pengaruh dari angin. Dalam hal ini, bentang alam eolian akan lebih terlihat di daerah gurun (gurun pasir) karena sedikitnya faktor penghalang dan ketiadaan faktor pengikat oleh material-material bebas.

Di daerah ini, proses pembentukan yang terjadi pada umumnya meliputi proses pengikisan oleh angin dan proses sedimentasi. Proses sedimentasi (pengendapan) oleh angin ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Dune; merupakan bukit yang terbentuk sebagai hasil dari timbunan pasir oleh hembusan angin. Dune akan sangat dipengaruhi oleh kuatnya hembusan dan kecepatan angin, bentuk dari permukaan dan adanya rintangan.

Dune memiliki berbagai macam tipe, yaitu :

- Star dune; dune dengan banyak punggung bukit pasir ridge yang bertemu pada satu titik.

- Transverse dune; dune yang terbentuk di sepanjang jejak angin.

- Barchan; bukit pasir lengkung bertanduk.

2. Loess; merupakan daerah yang luas yang tertutup oleh material-material halus.

3. Bentang Alam Vulkanik

Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang terbentuk sebagai akibat dari proses atau kegiatan vulkanisme/gunung berapi. Vulkanisme dibagi dalam menjadi tiga macam :

- Vulkanisme letusan; vulkanisme pada magma yang bersifat basa dan kental. Memiliki karakteristik letusan yang kuat dan umumnya menghasilkan material piroklastik serta membentuk gunung api terjal.

- Vulkanisme lelehan; vulkanisme pada magma asam dan bersifat encer, dimana vulkanisme ini memiliki letusan yang lemah. Vulkanisme jenis ini akan membentuk gunung api jenis perisai.

- Vulkanisme campuran; vulkanisme pada magma intermediate, umumnya membentuk gunung api strato.

Gunung api dapat dibedakan berdasarkan tipe erupsinya menjadi :

- Tipe Hawaii (perisai); tipe gunung ini memiliki tipe vulkanisme lelehan dengan bentuk kubah yang relatif landai, umumnya tedapat kaldera.

- Tipe Krakatau; memiliki tipe vulkanisme lelehan dan letusan.

- Tipe Pelee; memiliki tipe vulkanisme letusan dengan bentuk bentang gunung kerucut.

Berdasarkan penampakan morfologi, bentang alam gunung api diklasifikasikan menjadi :

- Depresi vulkanik; umumnya berupa bentang alam cekungan. Depresi vulkanik dapat berupa danau vulkanik, kawah, dan kaldera.

- Kubah vulkanik; bentang alam yang memiliki bentuk cembung ke atas, berupa Parasite cone, Cinder cone.

- Vulkanik semu; bentang alam yang mirip gunung api, bahkan dapat terbentuk karena proses vulkanisme yang berdekatan.

- Dataran vulkanik; dicirikan dengan puncak vulkanik yang datar dan memiliki perbedaan/variasi perbedaan ketinggian yang tidak terlalu mencolok. Dataran vulkanik berupa dataran rendah basal, plato basal, dan dataran plato basal.

TENTANG BATUAN METAMORF


METAMORF dan FACIES METAMORFISME



Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme batuan-batuan sebelumnya karena perubahan temperatur dan tekanan. Metamorfisme terjadi pada keadaan padat (padat ke padat) meliputi proses kristalisasi, reorientasi dan pembentukan mineral-mineral baru serta terjadi dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral yang mempunyai batas-batas kestabilan tertentu yang jika dikenakan tekanan dan temperatur yang melebihi batas tersebut maka akan terjadi penyesuaian dalam batuan dengan membentuk mineral-mineral baru yang stabil. Disamping karena pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga dipengaruhi oleh fluida, dimana fluida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara butiran mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion terlarut akan mempercepat proses metamorfisme.

Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut ;

- Komposisi mineral batuan asal

- Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme

- Pengaruh gaya tektonik

- Pengaruh fluida

Pada pengklasifikasiannya berdasarkan struktur, batuan metamorf diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

- Foliasi, struktur planar pada batuan metamorf sebagai akibat dari pengaruh tekanan diferensial (berbeda) pada saat proses metamorfisme.

- Non foliasi, struktur batuan metamorf yang tidak memperlihatkan penjajaran mineral-mineral dalam batuan tersebut.

Jenis-jenis Metamorfisme

  1. Metamorfisme kontak/termal

Metamorfisme oleh temperatur tinggi pada intrusi magma atau ekstrusi lava.

  1. Metamorfisme regional

Metamorfisme oleh kenaikan tekanan dan temperatur yang sedang, dan terjadi pada daerah yang luas.

  1. Metamorfisme Dinamik

Metamorfisme akibat tekanan diferensial yang tinggi akibat pergerakan patahan lempeng.

Facies Metamorfisme

Facies merupakan suatu pengelompokkan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap facies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme. Dan dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.

Macam-macam Batuan Metamorfisme


1. Slate

Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).

Asal : Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna : Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir : Very fine grained

Struktur : Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi : Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : Rendah

Ciri khas : Mudah membelah menjadi lembaran tipis

2. Filit

Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal : Metamorfisme Shale

Warna : Merah, kehijauan

Ukuran butir : Halus

Stuktur : Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah – Intermediate

Ciri khas : Membelah mengikuti permukaan gelombang

3. Gneiss

Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.

Asal : Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna : Abu-abu

Ukuran butir : Medium – Coarse grained

Struktur : Foliated (Gneissic)

Komposisi : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya amphibole dan mika.

4. Sekis

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.

Asal : Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna : Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir : Fine – Medium Coarse

Struktur : Foliated (Schistose)

Komposisi : Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet

5. Marmer

Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.

Asal : Metamorfisme batu gamping, dolostone

Warna : Bervariasi

Ukuran butir : Medium – Coarse Grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah – Tinggi

Ciri khas : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.


6. Kuarsit

Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .

Asal : Metamorfisme sandstone (batupasir)

Warna : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir : Medium coarse

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kuarsa

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas : Lebih keras dibanding glass


7. Milonit

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.

Asal : Metamorfisme dinamik

Warna : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir : Fine grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Dapat dibelah-belah


8. Filonit

Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika)

Asal : Metamorfisme Shale, Mudstone

Warna : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir : Medium – Coarse grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas : Permukaan terlihat berkilau


9. Serpetinit

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit.

Asal : Batuan beku basa

Warna : Hijau terang / gelap

Ukuran butir : Medium grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Serpentine

Ciri khas : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

10. Hornfels

Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.

Asal : Metamorfisme kontak shale dan claystone

Warna : Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir : Fine grained

Struktur : Non foliasi

Komposisi : Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak

Ciri khas : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

Tentang Skala Wentworth


Skala Wentworth (oleh Uden Wentworth tahun 1922) digunakan dalam pengklasifikasian batuan sedimen khususnya batuan sedimen klastik berdasarkan ukuran butir-butir penyusun batuan.

02_f07

Skala klasifikasi batuan sedimen klastik oleh Wentworth, 1922

Wentworth

Perbandingan pengkalsifikasian batuan sedimen

TENTANG Batuan Sedimen


Sedimentary Rocks (batuan sedimen) adalah batuan yang terbentuk dari litifikasi (kompaksi dan sementasi) material-material hasil pelapukan batuan yang telah terangkut (oleh media air, angin, es) dan diendapkan dalam suatu cekungan. Batuan sedimen memiliki tekstur berupa fragmen dan struktur yang berlapis.

Batuan sedimen dan sedimen hanya mengisi 0,029% dari total volume bumi, namun tersebar secara merata pada permukaan bumi dan merupakan dua per tiga batuan yang berada di atas permukaan bumi.

dipping_beds

Dipping lapisan batuan sedimen, Rocky Mountains, Canada

(sumber:physicalgeography.net)


Batuan-batuan Sedimen

Batupasir120px-SandstoneUSGOV

Lanausiltstone

Batulempunglempung2

KongklomeratBatu%20Konglomerat

Breksi180px-PO-breccia

Rijang180px-ChertUSGOVjpg

BatugampingBAtu%20Gamping

Dolomit (dolostone)250px-Dolomit_z_brochantytem_Maroko

Batubara200px-Coal_anthracite

GipsumGipsum

Fosforitfosforit

TENTANG Bowen’s Reaction Series


Seri Reaksi Bowen (Bowen Reaction Series) menggambarkan proses pembentukan mineral pada saat pendinginan magma dimana ketika magma mendingin, magma tersebut mengalami reaksi yang spesifik. Dan dalam hal ini suhu merupakan faktor utama dalam pembentukan mineral.

Tahun 1929-1930, dalam penelitiannya Norman L. Bowen menemukan bahwa mineral-mineral terbentuk dan terpisah dari batuan lelehnya (magma) dan mengkristal sebagai magma mendingin (kristalisasi fraksional). Suhu magma dan laju pendinginan menentukan ciri dan sifat mineral yang terbentuk (tekstur, dll). Dan laju pendinginan yang lambat memungkinkan mineral yang lebih besar dapat terbentuk.

Bowens

Dalam skema tersebut reaksi digambarkan dengan “Y”, dimana lengan bagian atas mewakili dua jalur/deret pembentukan yang berbeda. Lengan kanan atas merupakan deret reaksi yang berkelanjutan (continuous), sedangkan lengan kiri atas adalah deret reaksi yang terputus-putus/tak berkelanjutan (discontinuous).

1. Deret Continuous

Deret ini mewakili pembentukan feldspar plagioclase. Dimulai dengan feldspar yang kaya akan kalsium (Ca-feldspar, CaAlSiO) dan berlanjut reaksi dengan peningkatan bertahap dalam pembentukan natrium yang mengandung feldspar (Ca–Na-feldspar, CaNaAlSiO) sampai titik kesetimbangan tercapai pada suhu sekitar 9000C. Saat magma mendingin dan kalsium kehabisan ion, feldspar didominasi oleh pembentukan natrium feldspar (Na-Feldspar, NaAlSiO) hingga suhu sekitar 6000C feldspar dengan hamper 100% natrium terbentuk.

2. Deret Discontinuous

Pada deret ini mewakili formasi mineral ferro-magnesium silicate dimana satu mineral berubah menjadi mineral lainnya pada rentang temperatur tertentu dengan melakukan reaksi dengan sisa larutan magma. Diawali dengan pembentukan mineral Olivine yang merupakan satu-satunya mineral yang stabil pada atau di bawah 18000C. Ketika temperatur berkurang dan Pyroxene menjadi stabil (terbentuk). Sekitar 11000C, mineral yang mengandung kalsium (CaFeMgSiO) terbentuk dan pada kisaran suhu 9000C Amphibole terbentuk. Sampai pada suhu magma mendingin di 6000C Biotit mulai terbentuk.

Bila proses pendinginan yang berlangsung terlalu cepat, mineral yang telah ada tidak dapat bereaksi seluruhnya dengan sisa magma yang menyebabkan mineral yang terbentuk memiliki rim (selubung). Rim tersusun atas mineral yang telah terbentuk sebelumnya, misal Olivin dengan rim Pyroxene.

Deret ini berakhir dengan mengkristalnya Biotite dimana semua besi dan magnesium telah selesai dipergunakan dalam pembentukan mineral.

3. Apabila kedua jalur reaksi tersebut berakhir dan seluruh besi, magnesium, kalsium dan sodium habis, secara ideal yang tersisa hanya potassium, aluminium dan silica. Semua unsur sisa tersebut akan bergabung membentuk Othoclase Potassium Feldspar. Dan akan terbentuk mika muscovite apabila tekanan air cukup tinggi. Sisanya, larutan magma yang sebagian besar mengandung silica dan oksigen akan membentuk Quartz (kuarsa).

Dalam kristalisasi mineral-mineral ini tidak termasuk dalam deret reaksi karena proses pembentukannya yang saling terpisah dan independent.

TENTANG Minerals


Mineral adalah suatu senyawa yang secara alami terbentuk melalui proses geologi. Disebut mineral apabila terbentuk secara alami di alam (bukan sintesis oleh manusia), tersusun dari senyawa anorganik, memiliki stuktur kimia dan mempunyai struktur tertentu, dan memiliki sifat fisik yang konsisten. Sifat fisik yang konsisten menyangkut kekerasan (hardness), bentuk, warna, belahan, dsb.

Pada umumnya kita sulit membandingkan antara batu dengan mineral, tetapi pada dasarnya batu/batuan terbentuk atau mengandung 2 atau lebih mineral dan mineral tidak terbuat dari batu.

Sifat Fisik Mineral :

  1. Warna
  2. Kekerasan
  3. Cerat
  4. Kilap
  5. Belahan
  6. Pecahan
  7. Bentuk
  8. Kemagnetan
  9. Sifat dalam
  10. Transparensi

Contoh Minerals :

  1. Talc240px-Talc_block
  2. Gypsum180px-GipsitaEZ
  3. Calcite200px-Calcite-HUGE
  4. Fluorite120px-Fluorite_octahedron
  5. Apatite240px-Apatite_crystals
  6. Orthoclase240px-Mineraly.sk_-_ortoklas
  7. Plagioclase180px-PlagioclaseFeldsparUSGOV
  8. Quartz (kuarsa)180px-QuartzUSGOV
  9. Topaz110px-Topaz-2
  10. Corundum180px-Corindon_azulEZ
  11. Diamond250px-Rough_diamond
  12. Piroxene180px-Peridot_in_basalt
  13. Hornblende240px-Amphibole
  14. Biotite180px-BiotitaEZ

Tidak ada komentar: