RoryHidayat">http://www.dreambingo.co.uk/RoryHidayat">

Cari Blog Ini.......

Mengenai Saya

Foto saya
Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
I just ordinary boy, but I,m extraordinary boy

Total Tayangan Laman

Rory Hidayat

Rory Hidayat
yang punya blog ni...yang Nulis...

Pengikut

Sabtu, 27 November 2010

Bencana Sodom dan Gomorah dalam Logika Sain Geologi

Dalam kehidupan sosial manusia terdapat beberapa hal yang sering bertentangan antara sains dan hal penciptaan/kejadian. Paham agama yang menganut penciptaan alam atau suatu kejadian sebagai hal yang bersifat ”dogma” dan menganut sistem ”penyamarataan”, diterima dan disetujui begitu saja, dianggap benar, tanpa disertai pemikiran empiris berikut pembuktian. Namun banyak hal dalam kitab suci yang seiring dengan waktu bisa dibuktikan melalui sains, seperti pembentukan gunungapi dan proses terjadinya gempa. Demikian pula dengan bencana Sodom dan Gomorah yang terkenal itu. Cerita mengenai Sodom dan Gomorah dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil adalah kisah dua kota yang namanya sangat identik dengan dosa, kemaksiatan, kemerosotan moral. Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka yang tinggal di dua kota itu menjadi perumpamaan tentang degradasi moral dan keimanan.

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi."(QS Huud ayat 82)

Dua kota ini, Sodom dan Gomorah ada di ujung selatan Laut Mati (Sedom/Bahrat Lut) di wilayah sengketa Israel-Palestina dan Yordania saat ini. Di ujung barat-daya laut ini sekarang ada sebuah pegunungan bernama Usdom (Har Sedom/Jabal Usdum). Penggalian arkeologi tahun 1924 menemukan sisa-sisa kehidupan Zaman Perunggu Tengah (2000-1500 BC) yang prolific, lima mata air tawar, dan barisan benteng dengan banyak sekali peninggalan kebudayaan, begitu kayanya sehingga sering ditulis "like the garden of God" dengan perhitungan umur/dating absolut 2500-2000 BC. Berdasarkan itu, para ahli memutuskan bahwa Sodom dan Gomorah terletak di ujung selatan Laut Mati, terkubur dalam perairan dangkal di selatan Tanjung Al Lisan.

Dead Sea/Laut Mati (Yam Ha-Melah/Al Bahr Al Mayyit) dibatasi oleh Pegunungan Judea ke barat dan Plato Transyordania ke timur. Sangat kontras kedalamannya dengan 400 m di bagian utara dan makin mendangkal ke selatan sampai hanya 4 meter saja di tempat dimana diduga Sodom dan Gomorah terkubur.

Data geologi menunjukkan sesuatu yang menakjubkan. Laut Mati adalah tepat merupakan transform boundary terhadap Arabian Plate dalam hubungannya dengan Lempeng Afrika dan Eurasia. Bisa dipastikan, rift valley (lembah yang membuka) dan strike-slip fault(patahan gerak mendatar) membentuk cekungan Laut Mati. Lebih ke selatan lagi, kita akan takjub, ternyata Laut Mati dan Sungai Yordan yang mengalirinya adalah ujung utara sistem retakan di Bumi yang sangat terkenal: East African Rift Valley!! Memanjang dari Sungai Zambesi di Afrika Timur ke Laut Merah ke Sungai Yordan. Gambar 1 (Lihat juga entry saya sebelumnya tentang Rifting di Afrika Timur).


Saat Lempeng Arab bergerak ke timur, Laut Merah membuka dengan mekanisme incipient sea floor spreading atau dasar laut yang pecah-membuka. Ke arah utara, rifting Laut Merah bercabang dua splay, ke barat-laut membentuk Teluk Suez, ke timur-laut membentuk Teluk Akaba-Laut Mati-Sungai Yordan. Rift Teluk Suez kemudian aborted(mati), seperti aulacogen berhubungan dengan collision African Plate vs. Anatolian Plate, sementara Teluk Akaba-Laut Mati-Yordan aktif.

Bisa diyakini, bahwa Laut Mati adalah cekungan akibat sesar tarikan jenis pull-apart basin berbentuk rhombohedral, merupakan blok yang tenggelam diapit dua patahan/sesar besar, yaitu Sesar Moab dan Sesar Yudea. Air dari Laut Mati tidak keluar ke Teluk Akaba karena sebuah tinggian Dataran Tinggi Negev. Endapan sedimen di sekitar Laut Mati terdiri atas endapan khas Timur Tengah: gipsum, rock-salt,clay, marl, evaporite, karbonat, lempung tebal. Endapan aspal ditemukan di mana-mana dan sejak zaman dahulu telah biasa digali dari sumur untuk memperolehnya.


Bencana di Sodom dan Gomorah, berdasarkan data Kitab Suci, arkeologi, dan geologi, adalah sangat mungkin karena adanya gempa di jalur patahan jenis strike-slip fault (patahan gerak mendatar) serta keluarnya mud-volcano (seperti lumpur panas Sidoarjo). Sebuah gempa membentuk vertical wrench fault yang memecahkan/membocorkan tutupan lumpur bertekanan tinggi (sealing overpressured shales) di perut bumi yang plastis danbuoyant. Release tekanan itu mengekspulsi pore fluids, air, minyak, gas dan semua materi di sekitar Teluk Mati termasuk garam dan aspal. Semuanya keluar ke permukaan!!

Di dekat patahan/sesar, lempung/clay menjadi liquefied dan buoyantdan akan ter-ekstrusi (keluar) melalui zona rekahan patahan/sesar sebagai mud diapir dan mud volcano, muncul ke permukaan lengkap dengan material ekstrusinya. Sebuah letusan mud volcano bisa sangat katastrofik/merusak. Letusan mud volcano di Waimata Valley Selandia Baru bisa mengerupsi 100.000 ton viscous mud hanya dalam waktu sejam. Banyak mud volcano di Timor ('poton' mereka menyebutnya) benar-benar mengeluarkan api dan gelegar petir. Sebuah poton besar di Pulau Kambing Utara Timor sulit membedakannya dengan sebuah gunungapi magmatis.


Begitulah, saat subuh 4.000 tahun yang lalu, Allah SWT yang sudah murka melihat kemaksiatan, kejahatan moral penduduk Sodom dan Gomorah, menciptakan bencana geologi di sekitar Laut Mati untuk memporakporandakan, menggulingkan, membolak-balikkan (dengan gempa) dan membakar kota ini menghujaninya dengan batu, lumpur, api, belerang, aspal, dan garam lumpur (dengan letusan gununglumpur/mud volcano). Istri Luth yang masih berat hati meninggalkan Sodom dan Gomorah, tewas dalam pelarian, tubuhnya mengerak tertutup garam lumpur. Sementara Nabi Luth a.s dan pengikutnya selamat.

Di selatan Laut Mati itu, banyak pilar garam, sisa endapan erupsi, dan orang-orang di sana menyebutnya dengan istilah "istri Lot/Luth". Surat Hud Juz XII ayat 69-83 di Al Qur'an dan Kitab Kejadian 19 di Alkitab (Bible) menceritakan kejadian itu dan sains geologi tampaknya berhasil membuktikan kebenaran logikanya.

Banyak sekali dari kalangan sains berusaha melakukan pembuktian berkenaan dengan pemahaman penciptaan atau kalam kitab suci lewat teori empirik. Dan tampaknya lafal ”Kun Fayakun” tidak sekedar ”Jadi! Maka Jadilah!”, selama manusia masih memiliki akal dan logika, semua kejadian di alam fana ini tampaknya akan bisa dijelaskan melalui metode empirik dan/atau logika sains. Contoh lain adalah teori tentang pembentukan alam semesta - berikut bumi sebagai planet tempat manusia.

Menurut kitab suci (Al-Quran dan Bible):
Bumi terbentuk dalam waktu 6 hari”. (Al-A’raf 54, Al-Hadid 4, Yunus 3, Huud 5, Al-Furqan 59).

Menurut kitab geologi :
Batuan tertua di bumi dan batuan meteorit 4,6 x 1.000.000.000 tyl. berdasarkan data pertanggalan radioaktif unsur Uranium --> bahan yg dianalisa sudah dalam bentuk batuan/padat --> Pertanyaannya: Bagaimana dan kapan batuan ini terbentuk? Bagaimana prosesnya?

Pembuktian empirik melalui proses waktu yang cukup lama, diawali dari reaksi kimia dalam bentuk gas, dengan temperatur dan tekanan tinggi berubah menjadi larutan/cair pijar dan ketika terjadi penurunan tekanan dan temperatur melalui proses pembekuan berubah menjadi padat, ketika dilakukan perhitungan umur absolut (dating) menghasilkan umur fasa padat 4,6 x 1.000.000.000 tyl. Jadi lama proses dari reaksi kimia (gas) menjadi padat adalah 4,6 x 1.000.000.000. Sementara jika dikaitkan dengan waktu pembentukan bumi sebagai 6 hari waktu Tuhan. Jika 4,6 x 1.000.000.000 kita anggap sebagai waktu Tuhan maka masih ada selisih 1,5 x 1.000.000.000 waktu Tuhan. Berarti sebelum bumi mencapai masa padatnya sangat mungkin terdapat fasa lain, yaitu fasa gas dan cair, beberapa ahli berpendapat sebelum mencapai fasa padat bumi melalui fasa gas dan cair dahulu. Jika kita kaitkan dengan “angka waktu Tuhan” :~ 1,5 x 1.000.000.000 tahun adalah merupakan masa bumi masih berupa fasa gas dan cair. Maka, (4,6 x 1.000.000.000) + (1,5 x 1.000.000.000) = 6 x 1.000.000.000 . Jadi, 6 hari waktu Tuhan = 6 x 1.000.000.000. Wallahu alam.
Demikianlah salah satu upaya manusia dalam mencari kebenaran melalui logika sains.

Masih banyak hal-hal lain yang berkenaan dengan hal penciptaan dalam kitab suci (agama) yang masih belum banyak terkuak melalui metode sains empirik. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa berusaha untuk memahami semua ciptaan-Nya.

Semoga bermanfaat menambah keimanan kita bahwa kitab suci itu is really truly truth!!


Sumber: Kompilasi dari Tulisan Awang Satyana, IAGI, Mailing List dan sumber lainnya.




RORY HIDAYAT BERJANJI AKAN SELALU MENJADI GEOLOGIST YANG BELAJAR DARI ALAM YANG DICIPTAKAN TUHAN DENGAN SEGALA PROSESNYA,MENGAGUMI KEBESARAN TUHAN DAN TAAT PADANYA.....




ALLAHU AKBAR.....!!

Tidak ada komentar: